“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”
— Yakobus 1:2–3

Hampir tidak ada seorang pun yang bangun pagi sambil berharap hari itu dipenuhi masalah. Sebaliknya, kita semua mendambakan hidup yang tenang, sehat, berkecukupan, dan bebas dari persoalan. Namun kenyataannya, hidup justru dipenuhi tantangan. Ada yang bergumul dengan penyakit, kehilangan orang yang dikasihi, tekanan ekonomi, konflik keluarga, atau kekhawatiran akan masa depan. Pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa ada masalah?” melainkan, “Bagaimana seharusnya kita menghadapinya?”
Jika kita kembali ke awal penciptaan, kita menemukan bahwa sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa bukan hidup tanpa aktivitas. Allah memberi mereka tugas untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden. Adam juga diminta memberi nama kepada semua binatang. Jadi, sejak semula manusia memang diciptakan untuk bekerja, berpikir, dan mengelola ciptaan Allah.
Namun ada satu perbedaan besar antara kehidupan sebelum dan sesudah kejatuhan. Sebelum dosa masuk ke dunia, manusia hidup dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah. Mereka tidak mengenal rasa takut, kecemasan, rasa bersalah, atau ketidakpastian. Kehadiran Allah membuat setiap tugas dijalani dengan damai dan sukacita.
Setelah manusia memberontak kepada Allah, semuanya berubah. Pekerjaan menjadi berat, hubungan menjadi rusak, bumi menghasilkan semak duri, dan untuk pertama kalinya manusia berkata, “Aku menjadi takut.” Sejak saat itu, penderitaan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Masalah bukan lagi sekadar tugas yang harus diselesaikan, tetapi sering kali menjadi beban yang menguras hati dan pikiran.
Lalu bagaimana orang percaya harus menjalani kehidupan seperti ini?
Yakobus memberikan jawaban yang terdengar mengejutkan. Ia tidak berkata, “Berdoalah supaya pencobaan segera berlalu,” melainkan, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan.” Tentu Yakobus tidak sedang mengajarkan bahwa penderitaan itu menyenangkan atau bahwa kita harus berpura-pura menikmati kesulitan. Ia sedang mengajak kita melihat dari sudut pandang Allah.
Allah tidak pernah menyia-nyiakan pencobaan yang dialami anak-anak-Nya. Di tangan-Nya, setiap kesulitan menjadi alat untuk membentuk iman. Ujian menghasilkan ketekunan, dan ketekunan membentuk kedewasaan rohani. Allah lebih tertarik membentuk karakter kita daripada sekadar menciptakan hidup yang nyaman.
Sering kali kita berdoa agar masalah segera diangkat. Tidak ada yang salah dengan doa seperti itu. Yesus sendiri mengajarkan kita membawa semua pergumulan kepada Bapa. Namun, ketika Allah belum mengangkat pencobaan itu, bukan berarti Ia meninggalkan kita. Mungkin justru pada saat itulah Ia sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam hati kita.
Melalui pencobaan, kita belajar mempercayai Allah ketika keadaan tidak dapat kita kendalikan. Kita belajar bersandar kepada-Nya ketika kekuatan sendiri tidak lagi cukup. Sedikit demi sedikit, Allah memulihkan hati kita agar kembali hidup dalam ketergantungan kepada-Nya, seperti yang dikehendaki-Nya sejak semula.
“Masalah bukanlah tanda bahwa Allah menjauh; sering kali justru di sanalah Ia sedang bekerja paling dalam membentuk kita.”
Di sinilah Injil memberikan pengharapan yang indah. Kristus tidak menjanjikan kehidupan tanpa masalah. Sebaliknya, Ia berkata bahwa di dalam dunia kita akan mengalami kesukaran. Tetapi Ia juga berjanji menyertai kita senantiasa. Penyertaan Allah inilah yang membedakan kehidupan orang percaya. Kita menghadapi badai yang sama, tetapi kita tidak berjalan sendirian.
Suatu hari nanti, ketika Kristus datang kembali, segala akibat dosa akan lenyap. Tidak akan ada lagi air mata, penderitaan, penyakit, ataupun kematian. Persekutuan yang pernah dinikmati manusia di Eden akan dipulihkan dengan cara yang bahkan lebih mulia, karena kita akan hidup bersama Kristus selama-lamanya.
Sampai hari itu tiba, setiap masalah yang kita hadapi bukanlah bukti bahwa Allah telah meninggalkan kita. Sebaliknya, di dalam tangan-Nya, setiap pencobaan menjadi bagian dari proses pembentukan. Allah sedang mempersiapkan kita menjadi semakin serupa dengan Kristus dan semakin siap menikmati kemuliaan yang akan datang.
Karena itu, ketika masalah datang, jangan hanya bertanya, “Kapan semua ini berakhir?” Belajarlah juga bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau kerjakan dalam hidupku melalui semua ini?” Pertanyaan kedua itulah yang sering kali membawa kita kepada damai, pengharapan, dan iman yang semakin dewasa.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami di tengah pencobaan. Tolong kami memandang setiap kesulitan dengan iman, percaya bahwa Engkau sedang membentuk kami menjadi semakin serupa dengan Kristus. Berikan kami ketekunan, pengharapan, dan damai sejahtera untuk tetap berjalan bersama-Mu sampai akhir. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.