Keselamatan Bukan Seperti Permainan Ular Tangga

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
— ‭‭Filipi‬ ‭1‬:‭6‬‬

Permainan ular tangga sudah dikenal di berbagai negara dan dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa permainan ini berasal dari India kuno sebagai sarana mengajarkan konsep moral dan karma. Dalam permainan itu, tangga melambangkan kebajikan yang mengangkat seseorang ke tingkat yang lebih tinggi, sedangkan ular melambangkan kejahatan yang menjatuhkan ke tingkat yang lebih rendah. Nasib pemain terus berubah. Kadang ia naik dengan cepat, lalu tiba-tiba jatuh jauh ke bawah karena seekor ular. Sebelum garis akhir, tidak ada kepastian siapa yang akan menang.

Tanpa disadari, banyak orang memandang keselamatan seperti permainan ular tangga. Ketika rajin berdoa, membaca Alkitab, melayani, dan berbuat baik, mereka merasa sedang naik beberapa tingkat. Namun, ketika jatuh dalam dosa atau gagal menjalankan kehidupan rohani, mereka merasa telah meluncur turun dan khawatir kehilangan keselamatan. Hidup menjadi seperti permainan yang penuh kecemasan: apakah hari ini saya sedang naik atau justru turun? Apakah saya akan mempunyai nasib baik atau nasib buruk?

Alkitab mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda. Keselamatan bukanlah hasil naik-turun berdasarkan keberhasilan dan kegagalan manusia. Keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir. Paulus menulis dengan penuh keyakinan, “Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya.” Perhatikan bahwa yang memulai adalah Allah, dan yang menyelesaikan juga Allah. Keselamatan tidak dimulai oleh usaha manusia, lalu disempurnakan oleh usaha manusia. Semuanya berasal dari kasih karunia-Nya.

Ini bukan berarti kehidupan orang percaya akan bebas dari pergumulan. Kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, mengalami kelemahan, bahkan terkadang tersandung oleh pencobaan. Iblis memang terus berusaha menggoda dan menjatuhkan orang percaya. Namun, Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa iblis dapat membatalkan karya keselamatan yang telah Allah kerjakan. Bapa yang memanggil kita juga memelihara kita. Ia mendisiplinkan, menegur, memulihkan, dan membentuk kita agar semakin serupa dengan Kristus.

Keselamatan tidak hanya dirancang oleh Bapa, dibeli oleh Anak, tetapi juga diterapkan dan dipelihara oleh Roh Kudus.

Di sinilah pentingnya membedakan antara akar dan buah keselamatan. Kekudusan, pertobatan setiap hari, dan kehidupan yang dipimpin Roh Kudus bukanlah tangga untuk mencapai surga. Semua itu adalah buah dari keselamatan yang telah Allah anugerahkan. Kita tidak berusaha menjadi anak Allah melalui kehidupan yang kudus. Sebaliknya, karena kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah, kita rindu hidup sesuai dengan identitas baru yang telah diberikan-Nya.

Bayangkan seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan. Ia berkali-kali terjatuh. Namun setiap kali ia jatuh, ayahnya segera mengangkatnya kembali. Anak itu tidak berhenti menjadi anak hanya karena ia jatuh. Justru karena ia adalah anak, sang ayah tidak membiarkannya tetap tergeletak. Demikian pula kehidupan orang percaya. Kita memang belum sempurna, tetapi tangan Bapa tidak pernah melepaskan kita. Kasih karunia yang menyelamatkan juga adalah kasih karunia yang memelihara.

Karena itu, jangan hidup dengan mentalitas ular tangga. Jangan mengukur hubungan kita dengan Tuhan berdasarkan perasaan sedang “naik” atau “turun”. Dasar keselamatan kita bukanlah catatan keberhasilan rohani, melainkan karya Yesus Kristus di kayu salib. Dari dasar yang kokoh itulah Roh Kudus bekerja membarui hati kita, sehingga kita semakin membenci dosa, semakin mengasihi Tuhan, dan semakin menghasilkan buah Roh dalam kehidupan sehari-hari.

Jika hari ini Anda sedang bergumul dengan kelemahan, jangan putus asa. Datanglah kepada Kristus dengan hati yang hancur dan bertobat. Ia setia mengampuni dan memulihkan. Jika hari ini Anda sedang bertumbuh dalam iman, jangan menjadi sombong seolah-olah semuanya hasil usaha sendiri. Ingatlah bahwa setiap langkah pertumbuhan adalah karya anugerah Allah. Pada akhirnya, seluruh kemuliaan bukanlah bagi manusia yang berhasil memanjat tangga, melainkan bagi Allah yang menyelamatkan, memelihara, dan menyempurnakan umat-Nya.

Keselamatan bukanlah permainan ular tangga yang bergantung pada keberuntungan, kekuatan sendiri, atau kemampuan menghindari “ular”. Keselamatan adalah kisah kasih karunia Allah yang dimulai di dalam Kristus, dikerjakan oleh Roh Kudus, dan akan disempurnakan oleh Allah sendiri pada hari Tuhan Yesus datang kembali. Itulah sebabnya orang percaya dapat hidup dengan kerendahan hati, ketekunan, dan pengharapan yang teguh.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena keselamatan kami adalah karya kasih karunia-Mu dari awal sampai akhir. Tolong kami untuk tidak mengandalkan usaha sendiri, tetapi terus percaya kepada Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus untuk hidup semakin serupa dengan-Nya. Teguhkan iman kami hingga kami setia sampai akhir dan seluruh hidup kami memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar