Tanggapan Kristen terhadap Gangguan Kejiwaan

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
— Mazmur 34:19

Ketika mendengar seseorang mengalami depresi berat, psikosis, atau gangguan kejiwaan lainnya, tidak jarang tanggapan pertama yang muncul adalah, “Pasti imannya lemah,” atau bahkan, “Ia pasti kerasukan setan.” Kalimat-kalimat seperti ini mungkin diucapkan dengan maksud baik, tetapi justru dapat melukai orang yang sedang menderita. Lebih menyedihkan lagi, karena takut dicap kurang beriman atau kerasukan, banyak orang Kristen memilih menyembunyikan pergumulannya daripada mencari pertolongan.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya kebal terhadap penderitaan jiwa. Sebaliknya, firman Tuhan memperlihatkan bahwa tokoh-tokoh iman pun pernah mengalami kesedihan yang sangat dalam. Elia pernah ingin mati karena kelelahan dan keputusasaan. Daud berkali-kali mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dengan ratapan yang menyayat hati. Ayub dan Yeremia bahkan pernah mengutuki hari kelahiran mereka. Namun Tuhan tidak meninggalkan mereka. Ia mendengar ratapan mereka, menguatkan mereka, dan memulihkan mereka menurut waktu-Nya.

Mazmur 34:19 memberikan penghiburan yang luar biasa. Tuhan tidak menjauh dari orang yang remuk jiwanya. Justru kepada merekalah Ia datang mendekat. Ini berarti keadaan jiwa yang terluka bukanlah alasan bagi Tuhan untuk menolak seseorang. Sebaliknya, kelemahan kita menjadi tempat di mana kasih dan pemeliharaan-Nya dinyatakan.

Memang, Alkitab mengajarkan bahwa Iblis dan roh-roh jahat itu nyata. Namun Alkitab juga membedakan antara orang yang sakit dan orang yang kerasukan setan. Tidak semua gangguan kejiwaan berasal dari kuasa gelap. Gangguan seperti depresi mayor, gangguan bipolar, skizofrenia, atau psikosis dapat memiliki penyebab biologis, psikologis, maupun sosial. Sama seperti penyakit jantung atau diabetes, gangguan pada otak juga merupakan bagian dari realitas dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Dementia merupakan contoh lain yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa penyakit pada otak dapat memengaruhi pikiran, ingatan, dan perilaku. Karena demensia secara fisik mengubah otak, banyak pasien demensia mengembangkan gejala kejiwaan seperti kecemasan, depresi, atau halusinasi saat penyakit berkembang. Penyakit neurodegeneratif ini menyebabkan sel-sel otak rusak secara bertahap. Penyakit ini dapat mengubah kepribadian seseorang. Orang yang dahulu lembut bisa menjadi mudah marah, orang yang jujur bisa mulai menuduh orang lain mencuri, bahkan ada yang mengucapkan kata-kata kasar yang tidak pernah mereka ucapkan sebelumnya.

Bagi keluarga Kristen, hal ini sering sangat menyakitkan. Mereka bertanya, “Apakah ayah sudah tidak mengenal Tuhan lagi?” atau “Mengapa ibu yang dahulu rajin berdoa sekarang tidak mau ke gereja?” Bahkan ada yang bertanya, “Apakah ini hukuman Tuhan?”

Allah tidak kehilangan orang yang sudah menjadi milik-Nya hanya karena otaknya rusak. Jika kerusakan otak dapat membatalkan keselamatan, maka keselamatan akhirnya bergantung pada kondisi neurologis seseorang, bukan pada anugerah Allah. Ini bertentangan dengan ajaran Alkitab mengenai keselamatan oleh kasih karunia.

Karena itu, orang Kristen perlu berhati-hati agar tidak terburu-buru memberikan penilaian rohani terhadap setiap gangguan mental. Menyebut seseorang kerasukan tanpa dasar yang jelas dapat memperberat penderitaannya dan membuat ia terlambat memperoleh pertolongan yang diperlukan. Di sisi lain, kita juga tidak boleh mengabaikan kehidupan rohani. Orang yang bergumul dengan gangguan kejiwaan tetap membutuhkan doa, firman Tuhan, persekutuan dengan umat percaya, dan kasih dari gereja. Pendekatan yang bijaksana bukanlah memilih antara pertolongan rohani atau medis, melainkan menghargai keduanya sebagai anugerah Allah.

Dalam perspektif iman Kristen, seluruh aspek kehidupan berada di bawah kedaulatan Tuhan. Allah dapat bekerja melalui doa, melalui keluarga yang mengasihi, melalui gereja yang mendampingi, maupun melalui dokter, psikolog, dan psikiater yang memberikan penanganan yang tepat. Menggunakan pengobatan bukanlah tanda kurang beriman, sebagaimana menggunakan antibiotik untuk mengobati infeksi juga bukan tanda kurang percaya kepada Tuhan. Semua sarana yang baik pada akhirnya berasal dari tangan-Nya.

Sebagai gereja, kita dipanggil bukan menjadi hakim yang cepat memberi label, tetapi menjadi sahabat yang mau mendengar. Orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan sering kali tidak membutuhkan ceramah panjang atau tuduhan bahwa dosanya belum dibereskan. Mereka membutuhkan pelukan kasih, telinga yang mau mendengar, doa yang tulus, dan dorongan untuk mencari pertolongan yang sesuai. Kasih Kristus seharusnya membuat gereja menjadi tempat yang aman bagi mereka yang sedang remuk jiwanya, bukan tempat yang membuat mereka semakin merasa tertolak.

Sebagai orang Kristen kita harus yakin bahwa keselamatan orang percaya tidak bergantung pada kestabilan kondisi fisik atau mental, melainkan pada kesetiaan Kristus, sehingga memberikan penghiburan bagi keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan kejiwaan.

Kiranya kita belajar melihat mereka yang bergumul dengan mata Kristus. Jangan tergesa-gesa menghakimi apa yang belum kita pahami. Sebaliknya, marilah kita hadir sebagai pembawa pengharapan. Sebab Tuhan yang dekat kepada orang-orang yang patah hati masih bekerja hingga hari ini. Ia sanggup memulihkan melalui cara-cara yang kadang berada di luar dugaan kita, tetapi selalu sesuai dengan kasih dan hikmat-Nya.

Doa Penutup

Bapa di surga, ajarlah kami memiliki hati yang penuh belas kasihan kepada mereka yang bergumul dengan gangguan kejiwaan. Berikanlah hikmat agar kami tidak mudah menghakimi, tetapi mampu mengasihi, mendampingi, dan menolong dengan bijaksana. Dekatkanlah setiap hati yang remuk kepada-Mu, dan nyatakanlah penghiburan serta pemulihan-Mu melalui cara yang Engkau kehendaki. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar