“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang.”
— Yakobus 1:17

Sejak kecil kita diajarkan mengucapkan dua kata yang sederhana: “Terima kasih.” Ketika ibu memberikan makanan, kita mengucapkan terima kasih. Ketika guru membantu memahami pelajaran, kita mengucapkan terima kasih. Ketika seorang teman menolong kita saat mengalami kesulitan, kita pun spontan mengucapkan terima kasih. Bahkan jika seorang pelayan mengantarkan secangkir kopi di restoran, umumnya orang akan mengucapkan terima kasih.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan. Mengapa kita begitu mudah mengucapkan terima kasih kepada manusia, tetapi sering lupa bersyukur kepada Tuhan?
Padahal, jika dipikirkan dengan jujur, hampir tidak ada seorang pun yang dapat berkata bahwa semua yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri. Memang kita bekerja keras, belajar dengan tekun, dan berjuang menghadapi berbagai tantangan. Namun, siapakah yang memilihkan bagi kita keluarga tempat kita dilahirkan? Siapakah yang memberikan kesehatan, kemampuan berpikir, kesempatan belajar, atau orang-orang yang mendukung perjalanan hidup kita? Tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim semua itu sebagai hasil usahanya sendiri.
Bahkan keberhasilan yang paling membanggakan sekalipun selalu melibatkan banyak faktor di luar kendali kita. Ada orang tua yang berkorban, guru yang membimbing, sahabat yang memberi semangat, atasan yang memberikan kesempatan, dokter yang merawat ketika sakit, bahkan petani yang menanam makanan yang kita nikmati setiap hari. Kita mengakui jasa mereka, dan memang sudah seharusnya kita mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Namun, sebagai orang Kristen, kita diajak melihat lebih jauh. Di balik setiap tangan manusia yang memberi, ada tangan Tuhan yang bekerja. Di balik setiap kesempatan, ada pemeliharaan-Nya. Di balik setiap berkat, ada kasih karunia-Nya. Manusia hanyalah saluran, sedangkan Tuhan adalah sumbernya.
Yakobus mengingatkan, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas.” Ayat ini mengubah cara kita memandang kehidupan. Kita tidak berhenti pada penyebab yang terlihat, tetapi belajar mengenali Penyebab Utama, yaitu Allah sendiri.
Mengapa kita sering lupa akan hal ini? Salah satu penyebabnya adalah karena berkat Tuhan begitu rutin sehingga kita menganggapnya biasa. Matahari terbit setiap pagi, napas terus mengalir, jantung berdetak tanpa kita sadari, makanan tersedia di meja, dan tubuh masih mampu bergerak. Semua itu berlangsung begitu terus-menerus sehingga kita berhenti melihatnya sebagai mukjizat pemeliharaan Allah.
Kita biasanya baru berlutut mengucap syukur ketika lolos dari kecelakaan, sembuh dari penyakit berat, atau menerima berkat yang besar. Padahal, setiap detik kehidupan adalah anugerah. Jika Tuhan menarik pemeliharaan-Nya hanya sekejap saja, tidak ada satu pun dari kita yang mampu mempertahankan hidup.
Alkitab juga menunjukkan bahwa lupa bersyukur bukan sekadar kelemahan sopan santun, tetapi persoalan hati. Dalam Roma 1:21, Paulus menjelaskan bahwa salah satu ciri manusia yang menjauh dari Allah adalah mereka “tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya.” Ketika hati berhenti bersyukur, perlahan-lahan manusia mulai merasa dirinya cukup, mandiri, dan menjadi pusat hidupnya sendiri.
Sebaliknya, hati yang dipenuhi syukur akan selalu melihat jejak kasih Tuhan dalam setiap keadaan. Ia tetap berterima kasih kepada dokter yang mengobatinya, tetapi juga bersyukur kepada Tuhan yang memberi hikmat kepada dokter itu. Ia berterima kasih kepada atasannya yang memberi pekerjaan, tetapi juga memuji Tuhan yang membuka pintu kesempatan. Ia berterima kasih kepada keluarganya yang mengasihi dirinya, tetapi juga menyadari bahwa kasih mereka adalah pemberian Allah.
“Orang yang hanya melihat tangan manusia akan berhenti pada ucapan ‘terima kasih’. Tetapi orang yang melihat tangan Allah di balik tangan manusia akan melanjutkannya dengan, ‘Terima kasih, Tuhan.’”
Inilah cara pandang yang Tuhan kehendaki. Orang percaya tidak mengurangi penghargaan kepada sesama. Sebaliknya, ia semakin menghargai orang lain karena ia melihat mereka sebagai alat yang dipakai Tuhan. Di balik setiap “terima kasih” kepada manusia, selalu ada “terima kasih, Tuhan” yang keluar dari hati.
Semoga renungan ini mendorong kita untuk memandang seluruh kehidupan melalui lensa providensia Allah: tetap menghargai setiap orang yang berbuat baik kepada kita, namun tidak pernah melupakan bahwa sumber segala kebaikan adalah Tuhan sendiri.
Doa Penutup
Bapa di surga, ampunilah kami yang sering menikmati begitu banyak berkat-Mu tanpa mengingat Engkau sebagai sumbernya. Bukalah mata kami agar melihat tangan-Mu di balik setiap kebaikan yang kami terima. Bentuklah hati yang selalu bersyukur, rendah hati, dan memuliakan nama-Mu dalam segala keadaan. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.