“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”
— Pengkhotbah 7:14

Pengkhotbah mengajak kita melihat hidup dengan jujur. Ada hari-hari yang penuh sukacita, tetapi ada juga hari-hari yang penuh air mata. Keduanya tidak lepas dari kedaulatan Allah. Namun, ketika kesulitan datang, pertanyaan yang sering muncul adalah: Kalau Tuhan itu baik, mengapa Dia mengizinkan hal-hal yang menyakitkan terjadi?
Hampir semua orang mudah percaya bahwa Tuhan itu baik ketika hidup berjalan lancar. Ketika tubuh sehat, keluarga harmonis, pekerjaan berhasil, dan doa-doa seakan langsung dijawab, mengakui kebaikan Tuhan terasa begitu mudah. Namun, ketika penyakit datang, kehilangan menimpa, atau doa belum juga dijawab, keyakinan itu mulai diuji.
Pengkhotbah mengingatkan bahwa hidup memang terdiri dari hari mujur dan hari malang. Keduanya berada di bawah kedaulatan Allah. Namun, kita perlu memahami ayat ini dengan benar. Ketika dikatakan bahwa Allah “menjadikan hari malang”, bukan berarti Allah adalah pencipta kejahatan atau pelaku dosa. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah itu kudus dan tidak mencobai siapa pun dengan kejahatan (Yakobus 1:13).
Sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang berada di luar pemerintahan Allah. Dalam hikmat dan kasih-Nya, Ia dapat mengizinkan penderitaan, penyakit, bencana, bahkan kejahatan manusia terjadi, tetapi semuanya tetap berada dalam kendali-Nya. Tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya.
Mengapa Allah mengizinkan hal-hal yang menyakitkan? Kita tidak selalu mengetahui jawabannya. Pengkhotbah berkata bahwa Allah melakukan semuanya itu supaya manusia tidak dapat mengetahui masa depannya. Tuhan tidak membuka seluruh rencana-Nya kepada kita. Ia menghendaki agar kita hidup bukan dengan kepastian tentang masa depan, melainkan dengan iman kepada Dia yang memegang masa depan.
Ironisnya, justru melalui hari-hari yang sulit kita sering kali mengenal Tuhan lebih dalam. Ketika kita lemah, kita belajar bahwa anugerah-Nya cukup. Ketika kita kehilangan pegangan, kita menemukan bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya. Ketika kita tidak sanggup melangkah, kita merasakan kekuatan yang berasal dari Roh Kudus. Hari-hari yang gelap sering menjadi tempat di mana terang kasih Allah bersinar paling jelas.
Memang banyak orang mengira bahwa keberadaan kejahatan membuktikan Tuhan tidak ada atau tidak baik. Namun, dari sudut pandang Kristen, justru sebaliknya.
Rasul Paulus menulis bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penyakit tetap menyakitkan. Kematian tetap menyedihkan. Ketidakadilan tetap salah. Namun Allah bekerja di dalam semua itu untuk menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak-anak-Nya.
Jika tidak ada Tuhan, maka penderitaan hanyalah hasil proses alam yang acak. Tidak ada tujuan di baliknya, tidak ada pengharapan yang pasti, dan pada akhirnya semua berakhir dengan kematian. Tetapi jika Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih itu ada, maka penderitaan bukanlah kata terakhir. Penderitaan dapat memiliki makna, dapat membentuk karakter, dapat mendekatkan kita kepada Allah, dan pada akhirnya akan digantikan oleh kemuliaan yang kekal bagi mereka yang percaya kepada Kristus.
Karena itu, adanya penderitaan tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak baik. Sebaliknya, dalam penderitaan kita sering melihat betapa besar kuasa, kasih, kesabaran, pertolongan, dan kesetiaan-Nya. Kita mungkin tidak memahami alasan di balik setiap air mata, tetapi kita dapat mempercayai Pribadi yang memegang hidup kita.
Di usia senja, seseorang mulai menghadapi tubuh yang melemah, kehilangan orang-orang yang dikasihi, dan kesadaran bahwa hidup di dunia ini terbatas. Pada saat itulah pengharapan kepada Tuhan menjadi sangat berharga. Iman Kristen tidak menjanjikan hidup tanpa air mata, tetapi menjanjikan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian, dan bahwa kematian bukanlah akhir bagi mereka yang ada di dalam Kristus.
Hari ini mungkin adalah hari yang penuh sukacita atau mungkin hari yang penuh pergumulan. Apa pun keadaan kita, marilah tetap bersyukur dan tetap berharap. Bergembiralah pada hari mujur tanpa menjadi sombong. Bertekunlah pada hari malang tanpa menjadi putus asa. Tuhan yang memimpin kita pada hari-hari yang cerah adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita melewati lembah yang gelap.
Selama kita mengenal Dia, kita tidak perlu mengetahui seluruh masa depan. Cukuplah kita percaya bahwa Allah yang memegang hari esok adalah Allah yang mahakuasa, mahakasih, dan selalu baik.
Doa Penutup
Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau tetap baik dalam setiap musim kehidupan. Ketika kami bersukacita, ajarlah kami untuk bersyukur. Ketika kami menderita, ajarlah kami untuk tetap percaya kepada kasih dan kuasa-Mu. Tolong kami melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kendali-Mu, dan pakailah setiap pengalaman hidup kami untuk membentuk kami semakin serupa dengan Kristus. Teguhkan iman kami agar kami tetap berharap kepada-Mu sampai akhir hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.