“Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.”
— Matius 24:6

Setiap kali membuka berita, kita hampir selalu mendengar tentang perang atau ancaman perang. Konflik di Ukraina belum berakhir. Timur Tengah terus bergolak. Di berbagai belahan dunia lain, ketegangan antarnegara semakin meningkat. Tidak sedikit orang mulai bertanya-tanya, “Apakah ini tanda Perang Dunia yang baru?” Kekhawatiran seperti ini mudah menguasai hati, apalagi jika kita melihat begitu banyak negara mulai membentuk aliansi dan memperkuat persenjataan mereka.
Namun, jauh sebelum semua ini terjadi, Yesus sudah mengatakannya. Ia berkata bahwa kita akan mendengar “deru perang atau kabar-kabar tentang perang.” Dengan kata lain, peperangan bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi Tuhan. Sejarah manusia sejak kejatuhan ke dalam dosa memang dipenuhi oleh peperangan. Dari zaman Kain dan Habel hingga zaman modern, manusia terus berkonflik karena keserakahan, kebencian, ambisi, dan keinginan untuk berkuasa.
Yang menarik adalah apa yang Yesus katakan berikutnya: “Jangan kamu gelisah.” Tuhan tidak menyuruh kita mengabaikan kenyataan, tetapi Ia juga tidak ingin kita hidup dalam ketakutan. Mengapa? Karena sejarah dunia tidak berjalan tanpa arah. Di balik segala pergolakan, Allah tetap berdaulat. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar pengetahuan dan izin-Nya.
Sebagai orang percaya, kita tentu boleh berdoa agar perdamaian terjadi. Kita bersedih melihat penderitaan para korban perang. Kita berharap para pemimpin dunia mengambil keputusan yang bijaksana. Namun pada saat yang sama, kita juga percaya bahwa Allah tetap memegang kendali atas sejarah. Kerajaan-kerajaan dunia akan datang dan pergi, tetapi Kerajaan Allah tetap berdiri untuk selama-lamanya.
Namun, ada peperangan yang sesungguhnya jauh lebih dekat dengan kita daripada perang antarbangsa. Itu adalah peperangan rohani yang terjadi setiap hari di dalam kehidupan orang percaya. Rasul Paulus mengingatkan bahwa pergumulan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan kuasa-kuasa kegelapan. Iblis tidak selalu menyerang melalui penganiayaan atau ancaman fisik. Sering kali ia bekerja melalui godaan yang halus, kesombongan, kekhawatiran, kepahitan, keputusasaan, atau berbagai distraksi yang menjauhkan hati kita dari Kristus.
“karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”
— Efesus 6:12-13
Jika kita terlalu sibuk mengamati peperangan dunia tetapi mengabaikan peperangan di dalam hati sendiri, kita justru sedang kehilangan kewaspadaan yang paling penting. Mungkin tidak ada bom yang jatuh di sekitar kita, tetapi hati kita dapat perlahan-lahan menjauh dari Tuhan. Mungkin negara kita hidup dalam damai, tetapi jiwa kita bisa dikalahkan oleh dosa yang tidak kita lawan.
Kabar baiknya, peperangan rohani ini tidak kita hadapi sendirian. Kristus telah memenangkan kemenangan yang menentukan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Iblis memang masih berusaha menggoda dan menakut-nakuti, tetapi ia adalah musuh yang sudah dikalahkan. Karena itu, kemenangan orang percaya tidak bergantung pada kekuatan dirinya sendiri, melainkan pada Kristus yang hidup di dalamnya.
Itulah sebabnya, ketika dunia dipenuhi kabar perang, Yesus tidak berkata, “Takutlah.” Sebaliknya, Ia berkata, “Jangan gelisah.” Mata kita tidak perlu terus terpaku pada berita-berita yang membuat cemas. Sebaliknya, pandangan kita harus tetap tertuju kepada Kristus, Raja di atas segala raja. Dialah yang memegang awal dan akhir sejarah. Tidak ada satu pun peristiwa yang dapat menggagalkan rencana-Nya bagi umat-Nya.
Selama kita masih hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, perang mungkin akan terus ada. Namun, suatu hari nanti Sang Raja Damai akan datang kembali. Pada saat itulah segala peperangan akan berakhir untuk selama-lamanya. Sampai hari itu tiba, marilah kita hidup dengan hati yang tenang, tetap berjaga-jaga, setia kepada Tuhan, dan berjuang memenangkan peperangan yang paling penting, yaitu tetap beriman kepada Kristus sampai akhir.
Doa Penutup
Bapa di surga, ketika kami mendengar kabar-kabar perang dan melihat dunia yang semakin tidak menentu, tolonglah kami agar tidak dikuasai oleh ketakutan. Teguhkan iman kami untuk tetap percaya bahwa Engkau memegang kendali atas sejarah. Berikan kami kekuatan untuk memenangkan peperangan rohani setiap hari dan tetap setia kepada Kristus sampai akhir hidup kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.