Apakah Waktuku Sudah Habis?

“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.”
Ibrani 11:39

Ada kalanya kita memandang kalender dan mulai bertanya dalam hati, “Apakah waktuku sudah habis?” Usia terus bertambah, kesehatan tidak lagi sekuat dahulu, kesempatan semakin terbatas, dan beberapa doa yang telah dipanjatkan selama bertahun-tahun masih belum juga dijawab. Kita mulai bertanya-tanya, “Mengapa Tuhan masih menunda? Bukankah Dia sanggup memberikan yang lebih baik sekarang?”

Pertanyaan seperti ini bukanlah tanda bahwa iman kita telah hilang. Banyak tokoh Alkitab juga mengalaminya. Paulus memohon agar “duri dalam daging” diambil darinya, tetapi Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9). Tuhan memang tidak mengabulkan permohonan Paulus seperti yang diharapkannya, tetapi Dia memberikan sesuatu yang lebih berharga: penyertaan dan kasih karunia yang tidak pernah habis.

Demikian pula penulis Ibrani mengingatkan bahwa para pahlawan iman “tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu” selama hidup mereka. Nuh tidak melihat seluruh rencana keselamatan Allah. Abraham tidak menyaksikan lahirnya bangsa-bangsa yang dijanjikan. Musa tidak memasuki Tanah Perjanjian. Mereka meninggal sebelum melihat penggenapan penuh dari janji Allah.

Namun, apakah itu berarti iman mereka sia-sia? Sama sekali tidak. Justru Alkitab berkata bahwa iman mereka memberikan kesaksian yang baik. Kesetiaan mereka tidak diukur dari banyaknya doa yang terkabul selama hidup mereka, tetapi dari kepercayaan mereka kepada Allah yang selalu setia.

Sering kali kita mengira bahwa Tuhan terlambat karena kita mengukur waktu dengan jam dan kalender. Tetapi Tuhan bekerja menurut rencana-Nya yang sempurna. Apa yang menurut kita adalah penundaan, bisa jadi merupakan bagian dari hikmat-Nya yang jauh melampaui pengertian kita.

Lebih dari itu, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa kita akan melihat seluruh hasil pekerjaan-Nya semasa kita hidup di dunia ini. Ada doa yang dijawab pada masa hidup kita. Ada pula benih yang kita tabur dan baru akan berbuah bagi generasi berikutnya. Bahkan ada janji yang baru akan kita lihat penggenapannya secara sempurna di dalam kekekalan.

Karena itu, ketika kita mulai khawatir bahwa waktu sudah hampir habis, Tuhan mengajak kita mengalihkan perhatian dari lamanya penantian kepada kecukupan kasih karunia-Nya. Tuhan tidak selalu memberi kita penjelasan tentang masa depan, tetapi Dia selalu memberi kekuatan untuk menjalani hari ini.

Kasih karunia Tuhan bukan hanya mengampuni dosa, tetapi juga menopang langkah kita setiap hari. Ia tidak memberikan persediaan anugerah untuk seumur hidup sekaligus, melainkan cukup untuk hari ini, lalu diperbarui lagi esok pagi. Itulah sebabnya kita tidak perlu mengetahui seluruh jalan di depan kita. Kita hanya perlu berjalan bersama Dia selangkah demi selangkah.

Bagi mereka yang sudah memasuki usia lanjut, ayat ini membawa penghiburan yang mendalam. Mungkin kita tidak akan melihat semua anak cucu berjalan seperti yang kita doakan. Mungkin kita tidak akan menyaksikan semua pelayanan yang kita rintis berkembang. Mungkin kita tidak akan melihat semua pergumulan hidup terselesaikan. Mungkin juga kesehatan kita akan terus menurun. Namun itu bukan berarti Tuhan gagal menepati janji-Nya.

Allah yang memegang masa depan tidak dibatasi oleh panjang pendeknya umur manusia. Tidak satu pun janji-Nya akan gugur karena waktu kita di dunia telah berakhir. Jika ada penggenapan yang belum kita lihat sekarang, kita akan melihatnya kelak di hadapan-Nya. Di sana tidak akan ada lagi penyesalan karena merasa waktu telah habis. Yang ada hanyalah kekaguman melihat bahwa selama ini Tuhan tidak pernah terlambat.

“Waktu kita mungkin terbatas, tetapi kesetiaan Tuhan tidak pernah dibatasi oleh waktu.”

Orang percaya tidak hidup dari melihat semua janji Allah digenapi selama hidupnya, tetapi dari keyakinan bahwa Allah akan menggenapi semua janji-Nya, baik di dunia ini maupun di dalam kekekalan.

Karena itu, jangan biarkan kekhawatiran tentang hari esok merampas damai sejahtera hari ini. Selama Tuhan masih memberi kita napas, berarti kasih karunia-Nya masih bekerja. Dan ketika perjalanan hidup ini berakhir, kasih karunia yang sama akan membawa kita pulang ke rumah Bapa, tempat semua janji Allah mencapai penggenapannya yang sempurna.

Doa:

Bapa yang setia, kami mengaku bahwa sering kali kami gelisah karena merasa waktu semakin singkat dan banyak doa yang belum kami lihat jawabannya. Ajarlah kami untuk tidak mengukur kesetiaan-Mu dengan kalender kami, melainkan dengan janji-Mu yang tidak pernah gagal. Berikanlah kepada kami hati yang tetap percaya bahwa kasih karunia-Mu selalu cukup, baik dalam masa penantian maupun ketika kami tidak memahami jalan-Mu. Tolonglah kami menjalani setiap hari dengan damai, sambil menyerahkan masa depan kami sepenuhnya ke dalam tangan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar