“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
— Yesaya 46:4

Hampir semua orang pernah mengkhawatirkan masa depan. Anak muda cemas apakah akan mendapatkan pekerjaan yang baik. Orang tua memikirkan biaya hidup dan pendidikan anak-anak. Mereka yang memasuki usia pensiun bertanya-tanya apakah kesehatan akan tetap terjaga dan apakah tabungan akan cukup. Bahkan banyak lansia yang diam-diam takut kehilangan daya ingat atau menjadi beban bagi keluarga.
Sesungguhnya, yang paling menakutkan bukanlah kenyataan bahwa kesulitan bisa datang. Yang membuat kita gelisah adalah karena kita tidak tahu seberapa berat kesulitan itu nantinya. Kita tidak dapat melihat hari esok. Ketidakpastian sering kali lebih menakutkan daripada penderitaan itu sendiri.
Namun, di tengah kecemasan itu, Tuhan memberikan janji yang begitu indah melalui nabi Yesaya: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia… Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
Perhatikan bahwa Tuhan tidak berjanji hidup tanpa masalah. Sebaliknya, Dia berjanji bahwa apa pun yang terjadi, Dia sendiri akan memikul umat-Nya. Fokus janji ini bukanlah pada jalan yang selalu mulus, melainkan pada Pribadi yang setia menyertai kita sepanjang perjalanan.
Mazmur 23 melukiskan kebenaran yang sama dengan gambaran yang berbeda. Daud berkata, “TUHAN adalah gembalaku.” Seekor domba tidak mengetahui seluruh jalan yang akan dilaluinya. Domba hanya mengenal gembalanya. Selama gembala berjalan di depan, domba dapat mengikuti dengan tenang.
Begitulah kehidupan orang percaya. Kita tidak mengetahui seluruh rencana Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tahun depan, bulan depan, bahkan besok pagi. Tetapi kita mengenal Dia yang memegang seluruh hidup kita.
Ada sebuah lagu lama yang telah menghibur banyak orang selama puluhan tahun. Syairnya berbunyi:
“Ku tak tahu akan hari depan…”
Lagu itu tidak mengajarkan sikap optimistis yang kosong. Sebaliknya, lagu itu mengakui bahwa banyak hal tidak kita pahami. Namun refreinnya memberikan penghiburan yang luar biasa:
“Banyak hal tak kupahami dalam masa menjelang; tapi t’rang bagiku ini: tangan Tuhan yang pegang.”
Inilah inti iman Kristen. Iman bukan berarti mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Iman berarti mempercayai Tuhan yang telah memegang masa depan.
Penghiburan ini sangat berarti bagi setiap tahap kehidupan. Bagi anak muda, Tuhan memegang masa depan karier dan keluarga. Bagi orang yang sedang bergumul menghadapi masalah hidup, Tuhan memegang jalan keluar yang mungkin belum terlihat. Bagi mereka yang memasuki masa tua, Tuhan tidak pernah berkata, “Sekarang engkau harus berjalan sendiri.” Sebaliknya, Dia berkata, “Aku akan menggendong kamu.”
Dalam pandangan iman Kristen, martabat seseorang tidak ditentukan oleh kuat atau lemahnya tubuh, tajam atau pudarnya ingatan, ataupun banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki. Nilai kita terletak pada kenyataan bahwa kita dikasihi oleh Tuhan yang tidak pernah berubah. Kita mungkin lupa banyak hal, tetapi Tuhan tidak pernah melupakan anak-anak-Nya. Kita mungkin tidak lagi mampu memegang banyak hal, tetapi tangan-Nya tidak pernah melepaskan kita.
Karena itu, marilah kita menjalani hidup satu hari demi satu hari dengan hati yang tenang. Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Kita tidak tahu apakah jalan di depan akan menanjak atau menurun, dipenuhi sukacita atau air mata. Namun kita mengetahui satu hal yang jauh lebih penting: Tuhan sudah ada di sana. Sang Gembala yang menuntun kita hari ini adalah Allah yang sama yang berjanji, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia.” Maka kita dapat menyanyikan syair lagu itu dengan penuh keyakinan: “Ku tak tahu akan hari depan… tetapi t’rang bagiku ini: tangan Tuhan yang pegang.” Selama tangan-Nya memegang kita, tidak ada hari esok yang berada di luar pemeliharaan-Nya.
Doa Penutup
Bapa yang setia, kami mengakui bahwa kami sering cemas menghadapi masa depan. Tolong kami untuk tidak bergantung pada apa yang kami ketahui, tetapi kepada-Mu yang memegang hari esok. Ajarlah kami berjalan dengan iman, percaya bahwa Engkau akan menuntun, memikul, dan memelihara kami sampai akhir. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.