“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
— Yohanes 14:27

Siapa yang tidak pernah khawatir?
Seiring bertambahnya usia, sering kali daftar kekhawatiran justru semakin panjang. Tubuh tidak lagi sekuat dahulu. Penyakit datang silih berganti. Anak-anak dan cucu mempunyai pergumulan mereka sendiri. Harga-harga terus naik. Berita perang, bencana, dan ketidakpastian ekonomi memenuhi layar televisi dan telepon genggam. Hari demi hari, dunia seakan menyediakan alasan baru untuk merasa cemas.
Di siang hari, mata kita melihat banyak hal yang mengusik hati. Ketika malam tiba dan suasana menjadi sunyi, pikiran mulai mengulang semuanya. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab muncul satu demi satu. Bagaimana kalau penyakit ini bertambah parah? Bagaimana masa depan keluarga saya? Bagaimana kalau tabungan tidak cukup? Bagaimana kalau saya tidak sanggup menghadapi hari esok?
Mungkin kita pernah berusaha mengusir semua pikiran itu, tetapi semakin dilawan, semakin kuat rasanya.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa rasa khawatir juga dapat menjadi panggilan Tuhan agar kita berhenti mengandalkan diri sendiri?
Kekhawatiran mengingatkan kita bahwa kita bukan Tuhan. Kita tidak dapat mengendalikan masa depan. Kita tidak sanggup menambah sehasta pun pada jalan hidup kita. Selama kita merasa mampu mengatur segalanya, kita mudah lupa kepada Tuhan. Tetapi ketika kekuatan kita mencapai batasnya, barulah kita menyadari betapa kita membutuhkan Dia.
Karena itu, masalah sebenarnya bukanlah bahwa kita pernah merasa khawatir. Yang menjadi persoalan adalah jika kekhawatiran itu mengambil alih tempat yang seharusnya ditempati oleh Tuhan di dalam hati kita.
Yesus mengucapkan Yohanes 14:27 bukan ketika keadaan sedang tenang. Justru saat itu salib sudah di depan mata. Murid-murid akan segera mengalami ketakutan, kebingungan, dan kehilangan. Namun Yesus tidak berkata, “Aku akan menghilangkan semua masalahmu.” Sebaliknya, Ia berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.”
Damai yang diberikan dunia bergantung pada keadaan. Selama semuanya baik-baik saja, hati terasa tenang. Tetapi ketika keadaan berubah, damai itu pun lenyap.
Damai yang diberikan Kristus berbeda. Damai itu lahir dari keyakinan bahwa hidup kita berada di dalam tangan Bapa yang penuh kasih dan berdaulat. Kita mungkin tidak memahami jalan yang sedang kita lalui, tetapi kita mengenal Pribadi yang memimpin langkah kita.
Itulah sebabnya orang percaya masih dapat tersenyum di tengah air mata, masih dapat berharap ketika hasil pemeriksaan dokter belum sesuai harapan, masih dapat tidur dengan tenang meskipun hari esok belum pasti. Bukan karena persoalannya kecil, tetapi karena Tuhan yang diandalkannya jauh lebih besar daripada persoalannya.
Mungkin Anda kenal lagu “Ku Tak Tahu Hari Esok” telah menghibur banyak orang percaya selama puluhan tahun. Pesannya sederhana tetapi sangat dalam: kita memang tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang hari esok.
Bait yang paling dikenal berbunyi:
Ku tak tahu hari esok,
Namun langkahku tegap.
Bukan surya kuharapkan,
Kar’na surya ’kan lenyap.
O tiada ku gelisah,
Akan masa menjelang.
Ku berjalan serta Yesus,
Maka hatiku tenang.
Pengarang lagu tersebut, Ira Forest Stanphill (1904–1993), menulisnya pada masa yang penuh ketidakpastian. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke banyak bahasa dan menjadi penghiburan bagi orang-orang yang menghadapi perang, penyakit, kehilangan, maupun masa tua.
Begitu juga, setiap kali rasa khawatir datang, jangan biarkan ia mendorong kita menjauh dari Tuhan. Jadikanlah kekhawatiran itu sebagai undangan untuk semakin dekat kepada-Nya. Biarlah setiap berita yang menggelisahkan berubah menjadi doa. Biarlah setiap ketidakpastian menjadi kesempatan untuk berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup, tetapi Engkau sanggup.”
Semakin bertambah usia, kita akan semakin menyadari bahwa hidup ini memang tidak pernah benar-benar berada dalam kendali kita. Namun itu bukan kabar buruk. Justru itulah kabar baiknya. Hidup kita sejak semula berada di dalam tangan Tuhan yang tidak pernah salah memimpin.
“Mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok. Dan itu sudah cukup.”
Karena itu, jangan ukur damai sejahtera dari sedikitnya masalah yang kita hadapi. Ukurlah dari besarnya kepercayaan kita kepada Kristus. Ketika hati mulai gelisah, ingatlah kembali janji-Nya: “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Damai itu bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi, melainkan anugerah yang menopang hati sampai akhir perjalanan hidup kita.
Doa Penutup
Bapa yang penuh kasih, kami mengakui betapa mudah hati kami dikuasai oleh kekhawatiran. Ajarlah kami menjadikan setiap kecemasan sebagai alasan untuk datang lebih dekat kepada-Mu. Penuhi hati kami dengan damai sejahtera Kristus, sehingga dalam segala keadaan kami tetap percaya bahwa Engkau memegang hidup kami dan tidak akan pernah meninggalkan kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.