“dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”
— Kisah Para Rasul 17:25

Ketika mendengar Amanat Agung, (Matius 28:19) sebagian orang Kristen langsung merasa terbebani. Mereka berpikir, “Bagaimana kalau saya gagal membawa orang kepada Kristus? Bagaimana kalau saya tidak pandai berbicara? Bagaimana kalau saya ditolak?” Akibatnya, penginjilan menjadi sumber rasa bersalah dan tekanan, bukan sukacita.
Namun, di tengah semua itu, Kisah Para Rasul 17:25 memberikan sebuah pengingat yang sangat melegakan. Paulus berkata bahwa Allah “tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa.” Kalimat ini mengubah cara kita memandang pelayanan.
Allah tidak membutuhkan manusia. Dialah Pencipta langit dan bumi, yang memberikan hidup, napas, dan segala sesuatu kepada semua orang. Jika Allah tidak membutuhkan kita untuk menciptakan alam semesta, tentu Ia juga tidak membutuhkan kita untuk menyelamatkan manusia. Keselamatan adalah pekerjaan Roh Kudus. Hanya Allah yang dapat membuka hati seseorang, melahirbarukan, dan memberikan iman kepada orang berdosa.
Kebenaran ini membebaskan kita dari beban yang seharusnya tidak pernah kita pikul. Kita bukan juruselamat. Kita hanyalah utusan. Tugas kita adalah memberitakan Injil dengan setia; hasilnya berada sepenuhnya di tangan Tuhan. Karena itu kita tidak perlu stres seolah-olah keselamatan seseorang bergantung pada kemampuan kita. Kita menanam, kita menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.
Di saat yang sama, kebenaran ini juga menghancurkan kesombongan rohani. Tidak ada tempat untuk berkata, “Saya telah menyelamatkan banyak orang.” Tidak ada juga kecenderungan untuk menyalahkan orang lain yang dianggap gagal dalam misinya. Tidak seorang pun mampu menyelamatkan jiwa manusia. Jika ada seseorang bertobat melalui kesaksian kita, itu sepenuhnya karena anugerah Allah yang bekerja melalui firman-Nya. Semua kemuliaan kembali kepada-Nya.
Lalu muncul pertanyaan: jika Allah tidak membutuhkan kita, mengapa Ia tetap memerintahkan kita mengabarkan Injil?
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”
— Matius 28:19
Jawabannya sungguh indah. Allah mengundang kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Ia tidak membutuhkan kita, tetapi Ia berkenan memakai kita. Itu bukan karena kemampuan kita, melainkan karena kasih karunia-Nya.
Bayangkan seorang ayah yang sedang membuat sebuah meja kayu. Anak kecilnya datang menghampiri dan ingin membantu. Sang ayah sebenarnya dapat menyelesaikan semuanya jauh lebih cepat sendirian. Namun ia memberikan sebuah amplas kecil kepada anaknya. Bukan karena ia membutuhkan bantuan anak itu, melainkan karena ia ingin anaknya merasakan sukacita bekerja bersama ayahnya.
Demikian pula Allah. Melibatkan kita dalam pelayanan bukanlah kerja rodi dari surga, melainkan sebuah kehormatan yang luar biasa. Tugas memberitakan Injil berubah dari perasaan, “Saya harus,” menjadi ucapan syukur, “Saya boleh.” Betapa besarnya anugerah ketika Sang Raja semesta alam berkenan memakai hidup kita sebagai alat-Nya.
Lebih daripada itu, Allah mengizinkan kita menikmati sukacita-Nya sendiri. Tuhan Yesus berkata bahwa ada sukacita di surga karena satu orang berdosa bertobat. Ketika kita menjadi saksi Injil dan melihat seseorang mulai mengenal Kristus, bertumbuh dalam iman, atau menemukan pengharapan baru, kita sedang merasakan secuil kebahagiaan surgawi itu.
Sukacita seperti ini tidak dapat dibeli dengan uang, jabatan, ataupun harta. Ada kepuasan batin yang mendalam ketika melihat hidup seseorang dipulihkan oleh kasih karunia Tuhan. Kita sadar bahwa kita hanyalah alat yang dipakai-Nya, tetapi justru di situlah letak kebahagiaan itu. Allah mengizinkan kita ikut menyaksikan karya keselamatan-Nya.
Akhirnya, ayat ini juga memurnikan motivasi pelayanan kita. Kita tidak melayani agar Tuhan berutang budi kepada kita. Kita tidak menginjili supaya memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di hadapan-Nya. Kita melayani karena hati kita telah lebih dahulu disentuh oleh Injil.
Orang yang mengerti anugerah tidak akan berkata, “Tuhan membutuhkan saya.” Sebaliknya ia akan berkata, “Betapa ajaibnya, Tuhan yang tidak membutuhkan siapa pun justru berkenan memakai saya.”
Di sinilah letak keistimewaan Amanat Agung. Allah yang tidak membutuhkan kita justru berkenan memakai kita sebagai penyampai kabar terbaik yang pernah didengar dunia. Alam memberitakan kemuliaan Allah tanpa suara (Mazmur 19:2-5), tetapi gereja dipanggil memberitakan kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus dengan suara yang lantang.
Itulah semangat Amanat Agung yang sejati. Kita pergi bukan untuk menggantikan pekerjaan Allah, melainkan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan yang sudah dan sedang dikerjakan-Nya. Kita bukan penyelamat dunia. Kristuslah Juruselamat. Kita hanyalah saksi yang bersukacita menceritakan kabar baik tentang Dia.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau tidak membutuhkan kami, namun dalam kasih karunia-Mu Engkau berkenan memakai kami. Jauhkan kami dari rasa takut, kesombongan, dan motivasi yang salah dalam melayani-Mu. Pakailah hidup kami sebagai saksi Kristus, sehingga banyak orang mengenal kasih dan keselamatan-Mu. Biarlah kami menikmati sukacita melihat karya-Mu terjadi dalam hidup orang lain, sementara seluruh kemuliaan hanya bagi nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.