Pilih Kaya atau Sehat?

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
Filipi 4:11

Kalau ada yang bertanya, “Kalau harus memilih, lebih baik kaya atau sehat?” kebanyakan orang akan menjawab, “Tentu sehat.” Lalu sering ditambahkan ungkapan yang populer, “Banyak orang ingin kaya, tetapi ketika sakit baru sadar bahwa kesehatan lebih berharga.”

Sekilas kalimat itu terdengar bijaksana. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, kenyataannya tidak sesederhana itu. Kekayaan dan kesehatan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kita tidak harus memilih salah satunya. Ada orang yang kaya dan sehat. Ada yang kaya tetapi sakit. Ada yang hidup sederhana namun sehat. Ada pula yang miskin dan bergumul dengan penyakit.

Bahkan di zaman sekarang, menjaga kesehatan sering kali membutuhkan biaya. Makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, obat-obatan, operasi, asuransi, dan fasilitas medis semuanya memerlukan uang. Kekayaan memang bukan jaminan kesehatan, tetapi dapat menjadi sarana untuk memelihara kesehatan. Sebaliknya, kesehatan yang baik juga dapat menolong seseorang bekerja dengan lebih produktif. Keduanya dapat saling mendukung.

Di sisi lain, ukuran “kaya” maupun “sehat” ternyata juga relatif.

Seseorang yang memiliki rumah besar, kendaraan mewah, dan tabungan melimpah mungkin masih merasa dirinya belum kaya karena selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih berada. Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang hidup tenang, bersyukur, dan merasa cukup.

Demikian pula dengan kesehatan. Hasil pemeriksaan medis seseorang mungkin sangat baik, tetapi hatinya dipenuhi kecemasan, kepahitan, atau kesepian. Apakah orang seperti itu benar-benar sehat? Sebaliknya, ada orang yang harus hidup dengan penyakit kronis, tetapi wajahnya tetap memancarkan damai sejahtera karena ia mengenal Kristus. Tubuhnya lemah, tetapi jiwanya kuat.

Karena itu, persoalan terbesar manusia sebenarnya bukan kekurangan uang ataupun gangguan kesehatan. Persoalan terbesar adalah hati yang tidak pernah merasa cukup.

Itulah sebabnya perkataan Paulus dalam Filipi 4:11 sangat mengesankan. Ia berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”

Perhatikan bahwa Paulus mengatakan, “telah belajar.” Rasa cukup bukanlah sesuatu yang muncul secara alami. Hati manusia cenderung selalu menginginkan lebih. Lebih banyak harta, lebih baik kesehatan, lebih besar kenyamanan, lebih tinggi kedudukan. Setelah satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya.

Namun Paulus belajar sesuatu yang jauh lebih berharga daripada memperoleh kekayaan atau kesehatan yang sempurna. Ia belajar hidup dengan hati yang puas di dalam Tuhan.

Ketika menulis surat Filipi, Paulus bukan sedang menikmati kehidupan yang nyaman. Ia berada dalam penjara. Ia pernah mengalami kelaparan, penganiayaan, kekurangan, bahkan kelemahan fisik. Namun semua itu tidak mampu merampas damai sejahteranya.

Mengapa?

Karena rasa cukupnya tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada Kristus.

Inilah rahasia yang sering dilupakan dunia. Dunia berkata, “Kalau saya lebih kaya, saya akan puas.” Yang lain berkata, “Kalau saya sembuh total, saya baru bisa bersyukur.” Tetapi firman Tuhan mengajarkan kebalikannya. Bersyukurlah sekarang, maka engkau akan belajar menikmati apa yang Tuhan percayakan hari ini.

Ada satu ayat lain yang sangat mendukung cara hidup orang Kristen, yaitu:

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”
— 1 Timotius 6:6

Ayat ini tidak berkata bahwa kekayaan adalah keuntungan terbesar, atau kesehatan adalah keuntungan terbesar, melainkan ibadah yang disertai rasa cukup. Dalam bahasa Yunani, kata autarkeia (rasa cukup) menunjuk pada kepuasan batin yang tidak bergantung pada keadaan lahiriah. Bagi orang percaya, rasa cukup itu bukan berasal dari kekuatan diri sendiri, tetapi dari pemeliharaan Kristus.

Tentu kita tetap boleh bekerja keras, mengelola keuangan dengan bijaksana, dan menjaga kesehatan sebaik mungkin. Semua itu adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai pengelola berkat Tuhan. Namun jangan sampai hati kita bergantung pada semua itu.

Kekayaan adalah anugerah Tuhan. Kesehatan juga anugerah Tuhan. Tetapi rasa cukup di dalam Kristus adalah anugerah yang membuat kita mampu menikmati keduanya tanpa diperbudak olehnya, dan tetap bersandar kepada Tuhan ketika salah satunya berkurang.

Jadi, jika ada yang bertanya, “Pilih kaya atau sehat?” mungkin jawabannya bukan memilih salah satu.

Lebih baik berdoa, “Tuhan, berikanlah kepadaku hati yang selalu merasa cukup di dalam Engkau untuk selama hidupku.” Sebab orang yang telah belajar mencukupkan diri akan tetap bersyukur ketika diberi kelimpahan, tetap setia ketika mengalami kekurangan, tetap rendah hati ketika sehat, dan tetap berharap ketika sakit. Itulah kekayaan rohani yang tidak dapat dirampas oleh keadaan apa pun.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih atas setiap berkat yang Engkau percayakan kepada kami, baik kesehatan, kemampuan bekerja, maupun rezeki yang kami terima setiap hari. Ajarlah kami memiliki hati yang selalu merasa cukup di dalam Kristus. Jangan biarkan kami diperbudak oleh keinginan akan lebih banyak harta atau putus asa ketika kesehatan kami menurun. Mampukan kami mensyukuri setiap keadaan, tetap setia kepada-Mu, dan menemukan damai sejahtera yang hanya berasal dari-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar