Hidup adalah Kristus, Mati adalah Keuntungan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
— Filipi 1:21

Ada sesuatu yang berubah dalam cara manusia memandang kematian. Dahulu, ketika seseorang berhenti bernapas dan jantungnya berhenti berdetak, kematian hampir tidak mungkin disalahartikan. Tetapi kemajuan teknologi medis telah membuat keadaan menjadi jauh lebih kompleks. Ventilator dapat mempertahankan pernapasan, obat-obatan dapat mempertahankan tekanan darah, dan berbagai teknologi dapat membuat organ-organ tubuh tetap berfungsi meskipun kerusakan yang sangat berat telah terjadi.

Akibatnya, kita dipaksa bertanya: Apakah hidup hanya berarti tubuh masih berfungsi?

Pertanyaan itu membawa kita kepada perkataan Yesus: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Yesus tidak sedang berbicara hanya tentang denyut jantung atau kemampuan bernapas. Ia berbicara tentang kehidupan manusia dalam arti yang jauh lebih dalam—tentang diri kita, jiwa kita, dan hubungan kita dengan Allah.

Teknologi dapat memperpanjang kehidupan biologis, tetapi teknologi tidak dapat memberikan makna kepada kehidupan.

Kita mungkin dapat hidup lebih lama, tetapi untuk apa? Kita dapat memiliki kekayaan lebih banyak, tetapi untuk apa? Kita dapat memperoleh pendidikan, jabatan, rumah, kendaraan, bahkan seluruh penghargaan dunia, tetapi semuanya tidak dapat ditukar dengan kehidupan yang sejati.

Paulus memahami hal ini dengan sangat jelas ketika ia berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.”

Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata, “Bagiku hidup adalah kesehatan.” Ia juga tidak berkata, “Bagiku hidup adalah kekayaan,” “keluarga,” “karier,” atau “kenyamanan.” Semua itu dapat menjadi berkat Tuhan, tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan.

“Hidup adalah Kristus.”

Artinya, Kristus bukan sekadar bagian dari kehidupan kita. Kristus adalah pusatnya. Kita bekerja untuk Kristus. Kita melayani keluarga untuk Kristus. Kita menikmati kesehatan dan berkat untuk Kristus. Bahkan ketika tubuh mulai melemah karena usia, hidup kita tetap mempunyai tujuan karena Kristus tetap ada.

Lalu Paulus melanjutkan, “mati adalah keuntungan.”

Bagaimana mungkin kematian disebut keuntungan?

Bukan karena kematian itu sendiri indah. Kematian tetap merupakan musuh terakhir manusia. Tetapi bagi orang yang ada di dalam Kristus, kematian bukan lagi akhir yang mengerikan. Kematian membawa kita kepada hadirat Kristus.

Karena itu, bagi orang percaya, ada penghiburan yang luar biasa: selama hidup, kita memiliki Kristus; ketika mati, kita tetap memiliki Kristus.

Kita boleh menggunakan teknologi medis. Kita boleh berusaha mempertahankan kehidupan. Kita boleh berdoa bagi kesembuhan. Tetapi kita tidak perlu menjadikan perpanjangan hidup sebagai tujuan tertinggi. Sebab yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan untuk siapa kita hidup.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah, “Berapa lama saya masih dapat hidup?” tetapi:

“Apakah selama saya hidup, Kristus menjadi pusat kehidupan saya?”

Sebab teknologi mungkin dapat menunda kematian, tetapi hanya Kristus yang memberikan kehidupan kekal.

Dan karena itu kita dapat berkata bersama Paulus:

Jika Tuhan masih memberikan saya hidup, saya mau hidup bagi Kristus. Jika suatu hari Tuhan memanggil saya pulang, saya tidak kehilangan Kristus. Saya pergi kepada Kristus.

Itulah sebabnya bagi orang percaya, hidup memiliki tujuan dan kematian memiliki pengharapan.

Hidup adalah Kristus. Mati adalah keuntungan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih untuk kehidupan yang Engkau berikan kepada kami. Ajarlah kami menggunakan sisa hidup kami bukan terutama untuk mengejar kenikmatan dunia, melainkan untuk hidup bagi-Mu. Ketika kami menghadapi kelemahan, usia tua, sakit penyakit, dan akhirnya kematian, berikanlah kami iman dan damai sejahtera. Tolong kami mengingat bahwa hidup kami ada di dalam tangan-Mu dan bahwa kematian tidak dapat memisahkan kami dari kasih-Mu. Kiranya selama kami hidup, Kristus menjadi pusat kehidupan kami, dan ketika tiba saatnya kami meninggalkan dunia ini, kami boleh pergi dengan pengharapan bahwa kami akan bersama-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan komentar