Haruskah Kita Selalu Mengungkapkan Apa yang Sebenarnya?

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
— Matius 5:37

Ayat di atas kelihatannya mudah dimengerti, tapi tidak mudah menerapkannya. Sehubungan dengan itu, ada pertanyaan untuk kita:

“Haruskah kita selalu mengatakan apa yang sebenarnya?”

Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tetapi ternyata tidak sesederhana itu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berada dalam situasi ketika mengatakan seluruh kebenaran justru terasa tidak bijaksana. Ada pertanyaan yang terlalu pribadi, ada masa lalu yang tidak perlu dibongkar kembali, ada informasi yang tidak relevan, dan ada keadaan ketika kita perlu menjaga perasaan orang lain.

Lalu, apakah kita harus selalu mengatakan semuanya?

Saya kira jawabannya: tidak.

Tetapi itu berbeda dengan mengatakan bahwa kita boleh berbohong.

Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” Dalam konteks Khotbah di Bukit, Yesus sedang menekankan integritas. Perkataan kita seharusnya dapat dipercaya. Kita tidak perlu bersumpah demi meyakinkan orang lain bahwa perkataan kita benar. “Ya” kita harus benar-benar berarti ya, dan “tidak” benar-benar berarti tidak.

Namun, menjadi orang yang jujur tidak berarti kita harus menjadi buku terbuka bagi semua orang.

Ketika seseorang menanyakan sesuatu yang sangat pribadi, kita boleh berkata, “Saya lebih memilih untuk tidak membicarakannya.” Itu bukan kebohongan. Ketika pasangan bertanya tentang sesuatu yang sangat sensitif dari masa lalu, mungkin tidak semua detail perlu diceritakan, terutama jika hal tersebut sudah selesai dan tidak mempunyai konsekuensi terhadap kehidupan pernikahan sekarang. Tetapi jika masa lalu itu masih mempunyai dampak nyata—misalnya utang, anak, hubungan yang masih berlangsung, atau kewajiban tertentu—menyembunyikannya tentu berbeda. Pasangan mempunyai hak untuk mengetahuinya.

Demikian pula dalam pekerjaan.

Membuat resume bukan berarti menuliskan seluruh sejarah hidup kita. Kita memilih pengalaman yang relevan, menonjolkan pencapaian, dan menyusun kata-kata secara persuasif. Itu bukan kebohongan selama kita tidak menciptakan kesan yang palsu. “Memoles” penyajian tidak boleh berubah menjadi memalsukan kenyataan.

Dalam politik, batas ini bahkan lebih sulit. Seorang politisi tentu boleh menyampaikan visi, menekankan keberhasilan, dan memilih argumen yang mendukung kebijakannya. Tetapi ketika fakta sengaja diputarbalikkan, statistik dipalsukan, atau janji dibuat dengan sengaja untuk menipu pemilih, kita telah melewati batas.

Masalahnya adalah manusia sering merasa bahwa tanpa sedikit kebohongan, kita tidak akan berhasil.

Kita mungkin berpikir, “Kalau saya mengatakan semuanya apa adanya, saya tidak akan mendapatkan pekerjaan.” Atau, “Kalau saya mengakui kesalahan, karier saya akan rusak.” Atau, “Kalau saya mengatakan kebenaran dalam politik, saya tidak akan menang.”

Di sinilah iman kita diuji.

Apakah keberhasilan merupakan pembenaran bagi ketidakjujuran?

Alkitab berkata tidak. Paulus bahkan menolak gagasan bahwa kita boleh melakukan yang buruk supaya hasil akhirnya menjadi baik (Roma 3:8). Keberhasilan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran.

Namun demikian, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan “kejujuran” sebagai alasan untuk mengatakan segala sesuatu tanpa hikmat. Ada kebenaran yang benar tetapi tidak perlu kita ceritakan. Ada pertanyaan yang tidak perlu kita jawab. Ada informasi yang bukan hak orang lain untuk mengetahuinya.

Karena itu, mungkin ada prinsip sederhana yang dapat menolong kita:

Kita tidak harus mengungkapkan segala sesuatu, tetapi apa yang kita katakan haruslah benar.

Kita boleh menjaga privasi tanpa berdusta. Kita boleh memilih kata-kata yang baik tanpa memanipulasi. Kita boleh tidak menjawab pertanyaan tertentu tanpa menciptakan cerita palsu atau kesan yang menipu orang lain.

Dan ketika kita sendiri tidak tahu atau tidak mampu untuk menjawab bagaimana, kita dapat berkata dengan jujur, “Saya belum siap membicarakan hal itu,” atau, “Saya tidak tahu.” Bahkan pengakuan bahwa kita tidak tahu atau tidak mampu adalah sebuah bentuk kejujuran.

Lebih jauh lagi, pertanyaan-pertanyaan yang sulit kadang membawa kita kepada Tuhan. Ketika kita tidak mampu menjelaskan diri kita sendiri, kita diingatkan bahwa Tuhan mengetahui seluruh kebenaran tentang kita. Kita mungkin dapat menyembunyikan sesuatu dari manusia, tetapi tidak dari Dia.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,” doa pemazmur (Mazmur 139:23).

Maka hidup dalam kebenaran bukan berarti hidup tanpa privasi. Bukan pula berarti mengatakan semua yang ada dalam pikiran kita. Hidup dalam kebenaran berarti tidak membangun kehidupan kita di atas kepalsuan.

Pada akhirnya, kita mungkin kehilangan suatu kesempatan karena memilih jujur. Kita mungkin kalah dalam persaingan. Kita mungkin dianggap terlalu polos. Tetapi kita dapat tidur dengan hati yang tenang karena tidak perlu mengingat kebohongan apa yang harus kita pertahankan.

Sebab bagi orang percaya, kejujuran bukan sekadar strategi untuk berhasil. Kejujuran adalah bagian dari karakter Kristus yang ingin dibentuk dalam diri kita.

Kita tidak hidup terutama di hadapan manusia yang menilai kita, melainkan di hadapan Allah yang mengenal kita sepenuhnya.

Tidak semua hal harus diungkapkan, tetapi apa yang kita ungkapkan harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Dan ketika kita harus memilih antara keuntungan dan kebenaran, kiranya kita mempunyai keberanian untuk berkata:

“Tuhan, biarlah saya kehilangan sesuatu karena berkata benar, tetapi jangan biarkan saya kehilangan integritas demi mendapatkannya.”

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami hidup dalam kebenaran dan kasih. Berikan kami hikmat untuk mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan bagaimana menjaga privasi tanpa berdusta. Ampunilah kami ketika kami menggunakan kebohongan untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. Bentuklah hati kami agar lebih takut kehilangan integritas di hadapan-Mu daripada kehilangan keuntungan di hadapan manusia. Dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan komentar