Bila Nasi Sudah Menjadi Bubur

“Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”
— Filipi 3:13

Ada sebuah ungkapan sederhana yang sangat realistis: “Nasi sudah menjadi bubur.” Artinya, sesuatu telah terjadi dan tidak mungkin dikembalikan seperti semula. Kita boleh menyesal, tetapi penyesalan tidak akan mengubah kenyataan.

Dalam hidup, banyak hal yang sudah menjadi “bubur”. Waktu yang telah berlalu tidak dapat diputar kembali. Kesempatan yang terlewat tidak dapat diambil lagi. Uang yang sudah hilang tidak dapat dikembalikan dengan terus meratapinya. Kata-kata yang sudah terucapkan tidak dapat ditarik kembali. Keputusan yang ternyata salah tidak dapat dihapus dari sejarah hidup kita. Bahkan ada hubungan yang telah rusak, orang yang telah meninggalkan kita, kesehatan yang tidak lagi seperti dahulu, dan berbagai keadaan yang berada di luar kendali kita.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Paulus berkata, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”

Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa kita harus menghapus ingatan tentang masa lalu. Masa lalu tetap penting karena di sana kita belajar. Kesalahan dapat menjadi guru. Kegagalan dapat menjadi sumber hikmat. Bahkan luka dapat membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Yang harus kita tinggalkan bukanlah pelajarannya, melainkan keterikatan kita kepada masa lalu.

Ada orang yang hidupnya terhenti karena terus berkata, “Seandainya saja…” Seandainya dulu saya memilih yang lain. Seandainya saya tidak melakukan kesalahan itu. Seandainya saya mengambil kesempatan tersebut. Seandainya saya lebih berhati-hati.

Tetapi terlalu lama hidup dalam “seandainya” dapat membuat kita kehilangan kesempatan yang Tuhan berikan sekarang.

Kisah Yudas memberikan peringatan yang menyedihkan. Ia menyesali pengkhianatannya terhadap Yesus. Ia bahkan mengakui bahwa ia telah berdosa. Tetapi penyesalannya tidak membawanya kepada pengharapan dan pemulihan. Ia justru mengambil keputusan yang semakin menghancurkan dirinya.

Di sini kita melihat bahwa penyesalan belum tentu merupakan pertobatan.

Penyesalan berkata, “Saya telah melakukan kesalahan.”

Pertobatan berkata, “Saya telah melakukan kesalahan; Tuhan, ampunilah saya, dan tuntunlah saya untuk berjalan kembali.”

Petrus juga pernah gagal. Ia menyangkal Yesus tiga kali. Tetapi kegagalannya bukan menjadi akhir hidupnya. Ia menangis, dipulihkan oleh Kristus, dan kemudian kembali menjalankan panggilannya.

Perbedaannya bukan karena Petrus tidak pernah gagal, sedangkan Yudas gagal. Keduanya gagal. Tetapi ada perbedaan dalam bagaimana mereka menghadapi kegagalan mereka.

Karena itu, ketika kita menyadari bahwa “nasi telah menjadi bubur”, jangan terus-menerus menangisi beras yang sudah tidak mungkin kembali. Bertanyalah: “Tuhan, apa yang dapat saya pelajari dari semua ini? Dan apa yang masih dapat saya lakukan hari ini?”

Inilah hikmat yang juga tercermin dalam Serenity Prayer: memohon ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat kita ubah, keberanian untuk mengubah apa yang masih dapat kita ubah, dan hikmat untuk membedakan keduanya.

Ada hal-hal yang harus kita terima. Ada hal-hal yang masih dapat kita perbaiki. Dan ada hal-hal yang harus kita serahkan kepada Tuhan.

Masa lalu adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk tinggal.

Kita tidak dapat mengubah kemarin, tetapi kita dapat menjalani hari ini. Kita tidak mengetahui seluruh hari esok, tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok.

Kegagalan bukan selalu akhir. Kehilangan bukan selalu kehancuran. Masa lalu bukan selalu penjara.

Selama Tuhan masih memberikan hari ini, masih ada kesempatan untuk bersyukur, memperbaiki yang dapat diperbaiki, meminta maaf, mengampuni, mengasihi, melayani, dan berjalan lebih dekat kepada-Nya.

Karena itu, jangan terus menyesali nasi yang sudah menjadi bubur. Belajarlah dari masa lalu, serahkan yang tidak dapat diubah kepada Tuhan, dan arahkanlah langkah kepada apa yang masih ada di hadapan kita.

Sebab kasih karunia Allah tidak hanya bekerja dalam hidup kita yang sempurna. Kasih karunia juga bekerja di tengah hidup kita yang berantakan.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menerima apa yang tidak dapat kami ubah, memperbaiki apa yang masih dapat kami perbaiki, dan memiliki hikmat untuk membedakan keduanya. Tolong kami untuk tidak terperangkap dalam penyesalan masa lalu, tetapi belajar darinya dan terus berjalan bersama-Mu. Ampunilah kesalahan kami dan berikan kami keberanian untuk menatap hari depan dengan iman dan pengharapan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar