“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
— Matius 11:6

Semua orang tentu pernah mengalami kekecewaan. Tetapi, apakah Anda pernah kecewa kepada Tuhan?
Mungkin Anda pernah berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kesembuhan seseorang, tetapi orang itu tetap meninggal. Anda berdoa agar anak Anda berhasil, tetapi justru melihatnya mengalami kegagalan. Anda meminta Tuhan membuka jalan, tetapi pintu-pintu seakan tertutup satu demi satu. Atau mungkin Anda sudah berusaha hidup setia, tetapi masalah demi masalah tetap datang. Bahkan lebih parah lagi, ada orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan mungkin sedang menghukum kita.
Dalam keadaan seperti itu, sangat mudah bagi kita untuk bertanya, “Tuhan, mengapa?” Kita mungkin diam-diam berkata, “Bukankah Engkau tahu penderitaanku? Bukankah Engkau sanggup menolong? Mengapa Engkau tidak melakukannya? Mengapa Engkau biarkan orang mengejek aku??”
Pertanyaan seperti itu bukanlah sesuatu yang asing dalam Alkitab. Yohanes Pembaptis sendiri pernah mengalaminya.
Yohanes adalah orang yang pernah dengan berani memberitakan tentang Yesus. Ia bahkan menunjuk kepada-Nya dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Tetapi kemudian Yohanes dimasukkan ke dalam penjara. Di sana, dalam kesendirian dan penderitaan, keyakinannya mulai diguncangkan. Ia mengutus murid-muridnya bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”
Menariknya, Yesus tidak mempermalukan Yohanes karena pertanyaannya. Namun Ia memberikan sebuah peringatan: “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Perhatikan baik-baik. Yesus tidak berkata bahwa orang percaya tidak akan pernah kecewa. Ia tahu manusia dapat kecewa. Ia tahu penderitaan dapat mengguncang iman. Tetapi Ia memperingatkan agar kekecewaan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan-Nya.
Kita sering mempunyai harapan yang tidak pernah Tuhan janjikan. Kita berpikir, “Kalau saya setia kepada Tuhan, hidup saya seharusnya lebih baik.” Seolah-olah ada kontrak bisnis: saya memberikan kesetiaan, Tuhan memberikan perlindungan.
Tetapi iman Kristen tidak pernah menjanjikan kehidupan tanpa penderitaan.
Ada sebuah lagu yang sangat indah: Di Kala Hidupku Tent’ram, atau dalam bahasa Inggris, It Is Well with My Soul. Lagu ini mempunyai kisah yang luar biasa menyentuh.
Horatio Spafford, penulis lagu tersebut, mengalami kehilangan yang sangat dalam. Keempat anaknya meninggal dalam tragedi kapal laut. Bayangkan seorang ayah menerima kabar bahwa anak-anaknya telah tiada. Sulit membayangkan kepedihan seperti itu.
Namun dari tengah kehancuran itu lahirlah pengakuan iman: “It is well with my soul.” Jiwaku tetap tenteram.
Bukan karena hidupnya baik-baik saja.
Bukan karena ia tidak menangis.
Bukan karena kehilangan itu tidak menyakitkan.
Tetapi karena di tengah hidup yang hancur, ia menemukan bahwa jiwanya masih mempunyai tempat untuk bersandar kepada Tuhan.
Inilah yang sering kita salah mengerti tentang iman.
Iman bukan berkata, “Saya tidak pernah kecewa.”
Iman berkata, “Saya kecewa, tetapi saya tidak akan meninggalkan Tuhan.”
Iman bukan berarti kita memahami semua yang Tuhan lakukan.
Iman berarti kita tetap percaya kepada Tuhan ketika kita tidak memahami apa yang sedang Ia lakukan.
Ayub tidak mendapatkan penjelasan lengkap tentang mengapa ia menderita. Daud tidak selalu mendapatkan jawaban ketika ia berdoa. Paulus berulang kali memohon agar duri dalam dagingnya disingkirkan, tetapi Tuhan memberikan jawaban yang berbeda dari yang ia harapkan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”
Dan bukankah salib Kristus merupakan puncak dari semuanya?
Para murid mengira Yesus akan menjadi Raja yang segera mengalahkan musuh-musuh Israel. Tetapi yang mereka lihat justru Guru mereka dihukum mati di kayu salib. Bagi mereka, saat itu tampaknya seperti kegagalan terbesar.
Namun apa yang tampak seperti kekalahan ternyata merupakan kemenangan terbesar Allah.
Salib mengingatkan kita bahwa apa yang kita lihat dan rasakan bukanlah seluruh cerita.
Mungkin hari ini Anda sedang berada di halaman hidup yang tidak Anda mengerti. Mungkin Anda sedang kecewa. Mungkin doa yang Anda nantikan belum dijawab. Mungkin ada sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi yang sampai sekarang belum dapat Anda terima.
Jangan merasa bersalah karena Anda sedang bergumul.
Bawalah kekecewaan itu kepada Tuhan. Menangislah di hadapan-Nya. Bertanyalah kepada-Nya. Tetapi jangan pergi meninggalkan-Nya.
Sebab ada perbedaan besar antara berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti Engkau,” dan berkata, “Tuhan, saya tidak membutuhkan Engkau.”
Yang pertama adalah pergumulan iman.
Yang kedua adalah penolakan iman.
Mungkin hidup Anda hari ini tidak tentram. Tetapi jiwa Anda masih dapat menemukan ketentraman di dalam Kristus.
Karena pada akhirnya, damai sejahtera Kristen bukanlah keyakinan bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita. Damai sejahtera adalah keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, kita tetap berada di dalam tangan Tuhan.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok.
Dan karena itu, bersama Horatio Spafford, kita dapat belajar berkata:
“Tuhan, aku tidak mengerti jalan-Mu. Aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi. Tetapi aku tetap percaya. Biarlah jiwaku tetap tentram di dalam-Mu.”
Itulah arti perkataan Yesus:
“Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Bukan orang yang tidak pernah kecewa yang disebut berbahagia, melainkan orang yang di tengah kekecewaannya tetap memilih Kristus.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau mengetahui setiap kekecewaan yang kami simpan di dalam hati. Ketika doa kami belum terjawab dan jalan hidup kami tidak seperti yang kami harapkan, tolong kami untuk tidak menjauh dari-Mu. Ajarlah kami percaya ketika kami tidak mengerti, berharap ketika kami tidak melihat jalan, dan tetap bersandar kepada-Mu ketika hati kami terluka. Biarlah di tengah hidup yang tidak selalu tentram, jiwa kami tetap tentram di dalam kasih karunia-Mu. Amin.