“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’” — Matius 16:24

Ada jenis iman yang semakin populer tanpa kita sadari: iman yang mengambil apa yang menyenangkan, tetapi meninggalkan apa yang menuntut. Iman semacam ini dapat disebut “iman prasmanan.” Seperti seseorang yang datang ke meja prasmanan, ia memilih makanan yang disukainya dan melewati yang tidak disukainya. Dalam kehidupan rohani pun demikian: mengambil kasih Tuhan, berkat, penghiburan, damai sejahtera, dan kehidupan kekal, tetapi menolak pertobatan, penyangkalan diri, kekudusan, ketaatan, dan salib.
Inilah salah satu wajah Moralistic Therapeutic Deism (MTD), atau Deisme Terapeutik Moralistik. Secara sederhana, ia dapat diringkas dalam gagasan: “Yang penting saya menjadi orang baik, Tuhan membuat saya nyaman, dan Tuhan menolong saya ketika saya membutuhkan-Nya.” Kedengarannya religius, bahkan mungkin sangat saleh. Tetapi di dalamnya terdapat persoalan mendasar: manusia tetap menjadi pusat, sementara Tuhan ditempatkan sebagai penolong yang mendukung kehidupan yang kita inginkan.
Kita tentu tidak boleh meremehkan hidup yang bermoral. Alkitab justru memanggil kita untuk hidup kudus dan mengasihi sesama. Tetapi menjadi orang baik tidak sama dengan diselamatkan. Seseorang dapat memiliki moralitas yang baik tetapi belum pernah bertobat dan percaya kepada Kristus.
Masalah lainnya adalah ketika Tuhan hanya dicari untuk memberikan kenyamanan. Tuhan menjadi seperti “ketuhanan yang Maha Penolong Saat Butuh Saja.” Ketika menghadapi masalah, kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Setelah masalah selesai, kita kembali menjalani hidup seolah-olah Tuhan tidak memiliki hak atas keputusan kita.
Namun Yesus memberikan panggilan yang jauh lebih dalam. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Perhatikan kata “setiap orang.” Ini bukan panggilan khusus bagi pendeta, misionaris, atau orang Kristen yang sangat rohani. Setiap orang yang mau mengikut Kristus dipanggil untuk menyangkal diri.
Menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri. Artinya, kita berhenti menempatkan diri sebagai pusat kehidupan. Keinginan saya tidak lagi menjadi ukuran tertinggi. Kenyamanan saya bukan lagi tujuan utama. Saya mulai bertanya: “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki?”
Kemudian Yesus berkata, “memikul salibnya.” Salib bukan sekadar simbol indah yang kita pasang di gereja atau kalung yang kita kenakan. Salib berbicara tentang pengorbanan, ketaatan, dan kesediaan membayar harga karena mengikut Kristus.
Tentu saja, kita tidak diselamatkan karena mampu memikul salib dengan sempurna. Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus. Tetapi kasih karunia yang menyelamatkan tidak membuat kita semakin nyaman hidup dalam dosa. Kasih karunia mengubah hati sehingga kita rindu mengikuti Dia.
Karena itu, iman Kristen bukanlah memilih bagian-bagian Injil yang kita sukai. Kita tidak dapat berkata, “Saya mau Yesus sebagai Penghibur, tetapi bukan sebagai Tuhan. Saya mau pengampunan, tetapi tidak mau pertobatan. Saya mau berkat, tetapi tidak mau ketaatan. Saya mau mahkota, tetapi tidak mau salib.”
Kristus tidak menawarkan iman prasmanan.
Ia memanggil kita untuk mengikut Dia.
Dan anehnya, justru ketika kita berhenti menjadikan kenyamanan diri sebagai pusat kehidupan, kita menemukan sukacita yang lebih dalam. Sebab tujuan akhir iman bukanlah membuat kita nyaman, melainkan membawa kita kembali kepada Allah.
Iman yang benar bukan berkata, “Tuhan, berikanlah apa yang saya inginkan.”
Iman yang benar berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu dalam hidup saya.” Di situlah iman bertumbuh dari sekadar agama menjadi hubungan yang nyata dengan Kristus.
Biarlah kita berubah dari manusia yang memilih milih firman Tuhan sesuai kenyamanan kita, dan menjadi manusia yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu menyerahkan diri-Nya bagi kita.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ampunilah kami apabila selama ini kami hanya mengambil bagian-bagian iman yang menyenangkan hati kami. Ajarlah kami untuk sungguh-sungguh bertobat, menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Engkau. Biarlah kasih karunia-Mu tidak hanya menghibur kami, tetapi juga mengubah kami. Jadikan hidup kami bukan berpusat pada kenyamanan diri, melainkan pada kehendak dan kemuliaan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.