“Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna.”
— 1 Korintus 10:23

Ada banyak keputusan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak secara langsung diatur oleh Alkitab. Alkitab tidak mengatakan kita harus memilih teh atau kopi, tinggal di rumah seperti apa, membeli mobil merek apa, mengenakan pakaian model tertentu, memilih pekerjaan atau karier tertentu, atau mengisi waktu luang dengan kegiatan yang mana. Dalam tradisi Kristen, hal-hal seperti ini sering disebut adiaphora—hal-hal yang tidak diperintahkan ataupun dilarang secara khusus oleh Alkitab.
Pada titik ini kita sering berpikir, “Kalau boleh, berarti saya bebas memilih apa saja yang saya sukai.” Memang kita bebas. Tetapi kebebasan Kristen bukan berarti kita bebas dari tanggung jawab.
Paulus berkata, “Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna.” Perhatikan bahwa Paulus tidak berhenti pada pertanyaan, “Bolehkah?” Ia membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah ini berguna?” Sesuatu dapat diperbolehkan, tetapi belum tentu merupakan pilihan yang bijaksana.
Masalahnya, kita sering menggunakan kebebasan untuk memaksimalkan kenyamanan diri. Kalau dua pilihan sama-sama boleh, kita memilih yang paling enak, paling mudah, paling nyaman, paling menguntungkan, atau paling menyenangkan saat ini. Tidak ada yang salah dengan menikmati kenyamanan yang Tuhan berikan. Allah tidak memanggil kita untuk hidup sengsara hanya supaya terlihat rohani.
Namun, kenyamanan bukanlah kompas utama kehidupan Kristen.
Hal yang sama berlaku ketika kita memilih karier. Alkitab tidak menetapkan bahwa seorang Kristen harus menjadi insinyur, dokter, guru, pengusaha, pegawai negeri, atau profesi tertentu. Banyak pilihan karier secara moral sama-sama sah.
Karena itu, kita dapat tergoda memilih karier terutama berdasarkan gaji tertinggi, jabatan paling bergengsi, keamanan finansial, atau status sosial yang paling membanggakan. Semua pertimbangan tersebut tidak otomatis salah. Gaji yang baik dapat menjadi berkat, pekerjaan yang bergengsi tidak dengan sendirinya berdosa, dan mencari keamanan bagi keluarga adalah tanggung jawab yang baik.
Tetapi seorang Kristen perlu bertanya lebih jauh: “Apakah pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan? Apakah saya dapat melakukannya dengan integritas? Apakah pekerjaan ini memungkinkan saya memenuhi tanggung jawab kepada keluarga? Apakah lingkungan kerjanya akan menolong atau justru terus-menerus menarik saya menjauh dari Kristus? Dan melalui pekerjaan ini, apakah saya dapat melayani sesama dan memuliakan Tuhan?”
Karier bukan hanya sarana untuk mendapatkan penghasilan. Pekerjaan juga merupakan salah satu cara kita menjalankan panggilan hidup dan menggunakan talenta yang Tuhan percayakan.
Ada kalanya seseorang memilih pekerjaan yang lebih sederhana tetapi lebih sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya. Ada pula yang memilih pekerjaan yang lebih menuntut karena kesempatan untuk menggunakan karunia yang Tuhan berikan lebih besar. Tidak ada satu jawaban yang berlaku bagi semua orang. Yang penting adalah motivasi dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.
Demikian pula dalam memilih pasangan hidup. Seseorang mungkin tergoda memilih orang yang paling membuat dirinya bangga di hadapan keluarga dan masyarakat—karena pendidikan, penampilan, kekayaan, keluarga, atau statusnya. Semua kualitas tersebut dapat menjadi pertimbangan yang wajar, tetapi pasangan hidup bukanlah trofi untuk meningkatkan citra diri.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah kami dapat berjalan bersama dalam iman, saling mengasihi, saling melayani, dan bersama-sama bertumbuh dalam Kristus?”
Kita juga dapat melakukan hal yang sama dalam memilih gereja, rumah, kendaraan, pendidikan, rekreasi, dan berbagai hal lainnya. Kita bisa memilih sesuatu karena memang berguna dan sesuai kebutuhan. Tetapi kita juga bisa memilihnya karena ingin masuk dalam “kelompok orang berhasil”.
Di sinilah ego dapat bersembunyi bahkan di balik perkara yang sah.
Karena itu, ketika menghadapi keputusan adiaphora, kita tidak cukup bertanya, “Apakah ini boleh?” Kita perlu bertanya, “Apakah ini berguna? Apakah ini membangun? Apakah hati nurani saya damai? Apakah keputusan ini bijaksana? Dan yang paling penting, apakah pilihan ini memuliakan Tuhan?”
Paulus memberikan prinsip yang lebih luas:
“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
— 1 Korintus 10:31
Perhatikan kata “sesuatu yang lain.” Artinya, bahkan keputusan-keputusan kecil yang tampaknya tidak rohani tetap berada di bawah pemerintahan Tuhan. Memilih makanan, kendaraan, rumah, pekerjaan, karier, rekreasi, atau cara menggunakan uang bukan sekadar persoalan selera. Kita tetap dipanggil menggunakan hikmat sebagai orang yang telah menerima anugerah Tuhan.
Namun kita juga harus berhati-hati agar tidak menggantikan kebebasan dengan legalisme. Tidak semua keputusan mempunyai satu jawaban yang Tuhan tetapkan secara khusus. Dua orang Kristen yang sama-sama mengasihi Tuhan dapat memilih secara berbeda dalam perkara adiaphora, dan keduanya dapat memiliki hati nurani yang bersih.
Roma 14:5 berkata:
“Hendaklah tiap-tiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.”
Jadi kedewasaan Kristen bukanlah kemampuan menemukan larangan untuk setiap hal. Kedewasaan adalah kemampuan menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab.
Kita tidak perlu selalu bertanya, “Apa yang paling saya inginkan?” Kita juga tidak harus selalu memilih apa yang paling sulit. Pertanyaan yang lebih baik adalah:
“Dari pilihan-pilihan yang diperbolehkan, mana yang paling bijaksana, paling membangun, dan paling sesuai dengan panggilan saya untuk hidup bagi Kristus?”
Kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan untuk selalu mendapatkan apa yang kita mau. Kebebasan sejati adalah ketika kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan kita sendiri.
Kita bebas memilih, tetapi kita memilih sebagai milik Kristus.
Dan ketika suatu hari kita menyadari bahwa pilihan kita ternyata kurang bijaksana, kita pun tidak perlu tenggelam dalam penyesalan. Kita dapat belajar, bertobat bila diperlukan, memperbaiki arah, dan kembali berjalan bersama Tuhan.
Sebab dalam perkara adiaphora, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita pilih, tetapi juga hati yang memilihnya.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami menggunakan kebebasan yang Engkau berikan dengan penuh tanggung jawab. Jangan biarkan kenyamanan, gengsi, kesenangan, uang, atau keinginan untuk membanggakan diri menjadi alasan utama dalam mengambil keputusan. Berikan kami hikmat untuk membedakan apa yang sekadar boleh dari apa yang sungguh berguna dan membangun.
Ketika kami memilih gereja, karier, pasangan hidup, rumah, kendaraan, pendidikan, pekerjaan, maupun hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, tolong kami untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat pertimbangan. Ajarlah kami melihat segala sesuatu sebagai kesempatan untuk menggunakan karunia-Mu, melayani sesama, dan memuliakan nama-Mu.
Biarlah dalam setiap pilihan, besar maupun kecil, kami tetap mengingat bahwa hidup kami adalah milik-Mu.
Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.