“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,”
— Filipi 3:20

Setiap bangsa mempunyai simbol, sejarah, dan kebanggaannya sendiri. Indonesia mempunyai Merah Putih, lagu kebangsaan, Pancasila, dan berbagai perayaan nasional. Semua itu mempunyai tempatnya dalam kehidupan berbangsa. Kita boleh menghormati bendera, mencintai tanah air, menghargai sejarah kemerdekaan, dan bersyukur kepada Tuhan atas bangsa tempat kita hidup.
Namun, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: identitas kebangsaan bukanlah identitas tertinggi seorang Kristen.
Paulus mengatakan sesuatu yang sangat dalam: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga.” Paulus tidak sedang mengatakan bahwa menjadi warga negara dunia adalah sesuatu yang buruk. Ia sendiri hidup sebagai warga Romawi dan memahami tanggung jawabnya sebagai warga negara. Tetapi ia tahu bahwa ada kewargaan yang jauh lebih tinggi daripada kewargaan duniawi—yaitu kewargaan dalam Kerajaan Allah.
Itulah sebabnya gereja perlu berhati-hati ketika identitas nasional mulai dibawa terlalu jauh ke dalam kebaktian. Bendera negara, lagu patriotik, pembacaan dasar negara, tarian kebangsaan, atau berbagai seremoni kemerdekaan mungkin mempunyai tempat dalam kehidupan masyarakat. Tetapi kebaktian memiliki tujuan yang berbeda. Ketika umat Tuhan berkumpul untuk beribadah, kita datang bukan terutama sebagai orang Indonesia, Australia, Amerika, Korea, Tionghoa, atau bangsa lainnya. Kita datang sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus.
Di hadapan takhta Allah, tidak ada bendera nasional yang menjadi pusat perhatian. Tidak ada bangsa yang lebih tinggi daripada bangsa lainnya. Yang menjadi pusat adalah Kristus.
Karena itu, gereja tidak perlu menggunakan nasionalisme untuk membuktikan bahwa orang Kristen adalah warga negara yang baik. Kita dapat mencintai Indonesia tanpa membawa nasionalisme ke dalam liturgi. Kita dapat menghormati pemerintah tanpa mengangkat negara menjadi sesuatu yang sakral. Kita dapat bersyukur atas kemerdekaan tanpa menjadikan perayaan kemerdekaan sebagai bagian dari ibadah.
Bahkan, kita dapat melakukan sesuatu yang lebih bermakna: berdoa bagi bangsa.
Paulus meminta agar jemaat menaikkan doa bagi para raja dan semua pembesar, supaya kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan (1 Timotius 2:1–2). Jadi gereja tidak dipanggil untuk mengabaikan negara. Gereja dipanggil untuk mendoakan negara.
Tapi ada perbedaan besar antara menghormati negara dan menguduskan negara.
Kita boleh mencintai tanah air, tetapi jangan sampai tanah air mengambil tempat yang hanya layak diberikan kepada Allah. Kita boleh bangga menjadi warga Indonesia, tetapi kebanggaan itu tidak boleh mengalahkan identitas kita sebagai umat Kristus. Kita boleh menyanyikan lagu kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi ketika kita datang beribadah, hati kita diarahkan kepada lagu baru yang dinyanyikan oleh umat tebusan bagi Anak Domba.
Sebab pada akhirnya, semua negara dunia akan berlalu. Semua bendera akan diturunkan. Semua lagu kebangsaan akan berhenti dinyanyikan. Batas-batas negara akan kehilangan maknanya. Tetapi Kerajaan Kristus tidak akan berakhir.
Itulah sebabnya Paulus berkata bahwa kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Pengharapan kita bukan terutama pada masa depan Indonesia, Amerika, Tiongkok, Australia, atau bangsa mana pun. Pengharapan kita adalah kedatangan Kristus dan penyempurnaan Kerajaan-Nya.
Maka ketika kita memasuki gereja, marilah kita meninggalkan sejenak segala identitas duniawi yang dapat memisahkan kita. Kita datang sebagai satu umat, satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, dan satu pengharapan.
Setiap orang adalah warga suatu negara di bumi, tetapi sebagai umat Kristen kita semuanya adalah warga Kerajaan Allah.
Dan kewargaan surgawi itulah yang seharusnya menjadi identitas kita yang terutama.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terima kasih karena melalui anugerah-Mu kami telah menjadi warga Kerajaan Allah. Tolong kami menghormati bangsa dan pemerintah kami dengan benar, tanpa memberikan kepada negara tempat yang hanya layak bagi-Mu. Ketika kami beribadah, arahkan hati kami hanya kepada-Mu. Kiranya kami hidup sebagai warga dunia yang baik, tetapi terutama sebagai warga surgawi yang setia kepada Kristus. Amin.