Bolehkah kita mengeluh?

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.”
— Filipi 2:14

Apakah orang Kristen tidak boleh mengeluh? Bukankah ada saat-saat ketika hidup terasa begitu berat sehingga kita ingin berkata, “Tuhan, mengapa harus begini?” Jika setiap keluhan dianggap sebagai dosa, kita mungkin akhirnya belajar menyembunyikan rasa sakit di balik kata-kata rohani. Kita tersenyum dan berkata, “Puji Tuhan,” sementara hati sebenarnya sedang terluka. Padahal Alkitab tidak mengajarkan kepura-puraan seperti itu.

Karena itu, kita perlu memahami dengan tepat perkataan Paulus dalam Filipi 2:14. Paulus tidak sedang melarang setiap ungkapan kesedihan, kekecewaan, atau pertanyaan kepada Allah. Dalam Alkitab, kita menemukan Daud yang meratap, Yeremia yang menangis, Ayub yang bergumul, dan bahkan Yesus yang berseru dalam penderitaan-Nya. Yang Paulus larang adalah bersungut-sungut dan berbantah-bantahan sebagai sikap hati yang menolak dan tidak puas terhadap jalan Allah.

Konteks ayat ini sangat penting. Pada ayat 12–13, Paulus berkata agar jemaat mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar, sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Karena itu, ketika mereka menjalani proses yang Allah kerjakan dalam hidup mereka, mereka tidak seharusnya merespons dengan gerutu dan perselisihan.

Kata “bersungut-sungut” (goggysmos) menunjuk pada keluhan yang lahir dari ketidakpuasan, sedangkan “berbantah-bantahan” mengandung gagasan perselisihan atau pertengkaran. Paulus kemudian menjelaskan tujuannya: supaya mereka hidup sebagai anak-anak Allah yang bercahaya “di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (ay. 15).

Dengan demikian, yang menjadi persoalan bukan sekadar apa yang keluar dari mulut kita, tetapi apa yang ada di baliknya.

Mengomel biasanya lahir dari ego yang merasa berhak mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada yang sedang dialaminya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita merasa dirugikan. Lalu muncul pertanyaan, “Mengapa saya harus mengalami ini? Saya tidak pantas mendapatkannya!” Tanpa disadari, kita bukan lagi sekadar menyatakan bahwa kita terluka, tetapi sedang menuntut Allah, orang lain, atau lingkungan untuk memberikan apa yang menurut kita menjadi hak kita.

Israel di padang gurun memberi contoh yang jelas. Mereka lapar, haus, takut, dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Kesulitan mereka nyata. Namun respons mereka berubah menjadi sungut-sungut terhadap Musa dan Allah. Mereka tidak sekadar berkata, “Kami lapar.” Mereka mempertanyakan jalan Allah dan bahkan merindukan kembali kehidupan lama di Mesir. Kesulitan menjadi alasan untuk tidak mempercayai Allah.

Tetapi ada perbedaan antara omelan yang berdosa dan ratapan yang kudus.

Mazmur 42 berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Pemazmur tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia sedang sedih. Ia sedang bingung. Namun ia membawa kegelisahannya kepada Allah dan kemudian berkata kepada jiwanya sendiri, “Berharaplah kepada Allah!” Ratapan tidak menyembunyikan luka, tetapi juga tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk meninggalkan Allah.

Mengomel berkata, “Tuhan, saya berhak mendapatkan yang lebih baik. Ini sangat merendahkan diri saya.”

Ratapan berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti mengapa ini terjadi. Ini sangat menyakitkan, tetapi saya tetap datang kepada-Mu.”

Perbedaan ini penting dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan: usia yang bertambah, tubuh yang tidak lagi sekuat dahulu, perubahan rencana, kehilangan, keterbatasan, kekecewaan, atau kelemahan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak harus menyukai semuanya. Namun kita dapat belajar menerima proses pembentukan Tuhan tanpa terus-menerus menggerutu. Kita percaya bahwa Allah dapat memakai keadaan yang tidak kita sukai untuk membentuk kita semakin menyerupai Kristus.

Namun menerima providensi Allah tidak berarti menerima dosa, ketidakadilan, penindasan, atau bahaya sebagai sesuatu yang tidak perlu dilawan. Alkitab tidak memanggil kita menjadi pasif terhadap kejahatan. Kita dapat berdoa dengan jujur, menyatakan keberatan dengan benar, mengambil tindakan iman, membela yang lemah, dan menegakkan kebenaran.

Dalam ajaran Stoisisme, idealnya manusia mencapai ketenangan melalui kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penerimaan terhadap tatanan alam. Dalam iman Kristen, kita tidak mengandalkan kemampuan diri untuk tetap tenang, tetapi bergantung kepada Allah yang berdaulat, mengasihi, dan memelihara kita.

Karena itu, ungkapan seperti “Jangan menangis; terima saja keadaan” bisa terdengar stoik tetapi tidak selalu alkitabiah. Yesus sendiri menangis di depan makam Lazarus (Yoh. 11:35). Mazmur penuh dengan ratapan. Paulus pun berbicara tentang penderitaan dan kelemahannya secara terbuka.

Namun ada satu hal dari Stoisisme yang dapat kita apresiasi secara terbatas: kita memang perlu membedakan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang tidak dapat kita kendalikan. Orang Kristen juga tidak perlu menghabiskan hidup dengan mengomel tentang sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara gerutu pasif dan respons iman. Gerutu hanya menguras jiwa: kita mengeluh, mengulang keluhan, menyalahkan, tetapi tidak melakukan apa-apa. Respons iman membawa persoalan kepada Tuhan lalu bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki saya lakukan?”

Jadi, orang Kristen tidak dipanggil untuk berpura-pura kuat. Kita boleh menangis. Kita boleh sedih. Kita boleh bertanya. Kita boleh meratap. Tetapi kita tidak dipanggil untuk terus-menerus bersungut-sungut dengan hati yang merasa berhak dan menolak jalan Tuhan.

Mungkin pertanyaan yang lebih baik bukanlah, “Bolehkah saya mengeluh?”, tetapi “Apa yang sedang keluar dari hati saya ketika saya mengeluh?”

Apakah saya sedang mempertahankan hak saya, atau membawa luka saya kepada Tuhan? Apakah saya sedang menyalahkan Allah, atau mencari pertolongan-Nya? Apakah keluhan saya hanya menjadi gerutu yang merusak jiwa, atau mendorong saya untuk berdoa dan melakukan apa yang benar?

Mengomel mempertahankan hak kita. Ratapan menyerahkan luka kita. Iman menerima pembentukan Tuhan dan melakukan apa yang benar ketika menghadapi kejahatan.

Kiranya dalam segala keadaan kita belajar menjadi seperti bintang yang bercahaya di tengah dunia—bukan karena hidup kita selalu mudah, tetapi karena di tengah hidup yang sulit pun kita tetap percaya kepada Allah.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami membedakan antara gerutu yang lahir dari ego dan ratapan yang lahir dari iman. Ketika kami harus menerima keadaan, berikan kami hati yang rela. Ketika kami menghadapi dosa dan ketidakadilan, berikan kami keberanian untuk bertindak benar. Dan ketika hati kami terluka, mampukan kami datang kepada-Mu dengan jujur tanpa kehilangan iman dan pengharapan. Amin.

Tinggalkan komentar