Misogini: Arti dan Akibatnya

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”
— Kejadian 1:27

Ada sebuah kebiasaan yang mungkin pernah kita dengar, bahkan dianggap biasa dalam masyarakat kita. Ketika seorang bayi lahir, kelahiran anak laki-laki kadang disambut dengan kebanggaan yang lebih besar daripada kelahiran anak perempuan. Anak laki-laki disebut sebagai penerus nama keluarga, pewaris, atau kebanggaan orang tua. Anak perempuan tentu juga disayangi, tetapi tanpa disadari kadang ditempatkan pada posisi yang berbeda.

Kita mungkin berkata, “Bukankah itu hanya kebiasaan budaya?” Memang, tidak setiap penghargaan terhadap anak laki-laki berarti seseorang membenci perempuan. Tetapi kita perlu bertanya lebih dalam: mengapa jenis kelamin seseorang menentukan seberapa besar ia dianggap membanggakan?

Di sinilah kita perlu mengenal sebuah kata yang mungkin masih asing bagi banyak orang: misogini. Misogini berarti sikap merendahkan, membenci, memusuhi, atau memandang perempuan sebagai kelompok yang lebih rendah daripada laki-laki. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu misos (kebencian) dan gyne (perempuan). Dengan demikian, kata misoginis berarti pelaku atau orang yang memiliki rasa benci terhadap wanita, sedangkan kata misogami berarti kebencian terhadap ikatan perkawinan.

Misogini tidak selalu muncul dalam bentuk kebencian terbuka. Ia dapat muncul melalui lelucon, stereotip, perlakuan tidak adil, atau keyakinan bahwa laki-laki secara alami lebih berharga dan lebih berhak menentukan segala sesuatu.

Karena itu, tidak semua orang yang mempunyai pandangan tradisional tentang peran laki-laki dan perempuan dapat disebut misoginis. Seorang Kristen dapat meyakini adanya tanggung jawab yang berbeda antara suami dan istri tanpa merendahkan perempuan. Masalahnya muncul ketika perbedaan peran berubah menjadi perbedaan nilai dan martabat.

Kejadian 1:27 memberikan dasar yang sangat kuat. “Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Keduanya berada di dalam karya penciptaan Allah dan keduanya diciptakan menurut gambar Allah. Alkitab tidak mengatakan bahwa laki-laki lebih menyerupai Allah daripada perempuan. Martabat manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, kekayaan, pendidikan, kedudukan, atau kemampuan.

Karena itu, ketika seorang anak laki-laki disambut dengan kebanggaan sedangkan anak perempuan dianggap kurang bernilai, kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menghakimi setiap keluarga yang mempunyai kebiasaan demikian, melainkan untuk memeriksa hati kita sendiri. Jangan-jangan ada nilai budaya yang tanpa sadar telah kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Misogini juga dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Seorang laki-laki yang sejak kecil dibentuk untuk merasa lebih tinggi daripada perempuan dapat membawa pola pikir itu ke dalam pernikahan, pekerjaan, gereja, dan masyarakat. Jika kemudian ia mengalami kekecewaan, penolakan, atau kegagalan, rasa berhak yang tidak terpenuhi dapat berubah menjadi kebencian terhadap perempuan. Dalam lingkungan tertentu, kebencian semacam ini bahkan dapat dipupuk melalui komunitas daring yang terus-menerus menguatkan kemarahan dan rasa menjadi korban.

Karena itu, berita tentang hubungan antara misogini dan ekstremisme seharusnya tidak hanya menjadi bahan pembicaraan tentang keamanan masyarakat. Gereja pun perlu memperhatikannya. Kita tidak perlu menunggu sampai seorang pemuda menjadi ekstremis untuk mengajarkan kepadanya bahwa perempuan adalah ciptaan Allah yang harus dihormati.

Gereja perlu mengajarkan kepada anak laki-laki bahwa menjadi laki-laki bukan berarti menjadi lebih tinggi daripada perempuan. Menjadi laki-laki berarti belajar bertanggung jawab, mengendalikan diri, menghormati perempuan, dan menggunakan kekuatan untuk melayani, bukan untuk mendominasi.

Bagi para suami, Efesus 5:25 bahkan memberikan ukuran yang jauh lebih tinggi: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Kepemimpinan Kristen bukanlah hak untuk dilayani. Kepemimpinan Kristen adalah panggilan untuk mengasihi dan berkorban.

Dan bagi kita semua, mungkin ada baiknya kita memeriksa kembali kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini kita anggap biasa. Bagaimana kita menyambut kelahiran anak laki-laki dan anak perempuan? Bagaimana kita berbicara tentang perempuan? Apakah kita tertawa ketika perempuan direndahkan? Apakah kita mengajarkan kepada anak laki-laki bahwa menang, kuat, dan berkuasa lebih penting daripada mengasihi dan menghormati? Apakah gereja mengajarkan bahwa kaum pria saja yang bisa menjadi pemimpin?

Dosa sering kali tidak dimulai dari tindakan yang besar. Ia dapat dimulai dari sebuah pikiran yang terus dipelihara, sebuah lelucon yang terus diulang, atau sebuah kebiasaan yang tidak pernah kita pertanyakan.

Sebaliknya, perubahan juga dapat dimulai dari hal yang sederhana: memandang setiap manusia sebagaimana Allah memandangnya—sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Kiranya gereja tidak hanya mengajarkan kepada perempuan bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik, tetapi juga mengajarkan kepada laki-laki bagaimana menjadi laki-laki yang mencerminkan Kristus. Sebab dunia tidak membutuhkan laki-laki yang merasa lebih tinggi daripada perempuan. Dunia membutuhkan laki-laki yang memiliki kekuatan untuk mengasihi, kerendahan hati untuk menghormati, dan keberanian untuk melayani.

Doa Penutup

Tuhan, ampunilah kami apabila tanpa sadar kami memelihara sikap atau kebiasaan yang merendahkan perempuan. Ajarlah kami melihat setiap laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan-Mu yang memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar-Mu. Bentuklah anak-anak dan para laki-laki di dalam gereja-Mu menjadi pribadi yang kuat tetapi rendah hati, berani tetapi penuh kasih, dan memiliki kuasa yang digunakan untuk melayani, bukan mendominasi. Dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan komentar