Solitude dalam Perspektif Kristen

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”
— Mazmur 46:11

Kita hidup dalam dunia yang hampir tidak pernah benar-benar diam. Telepon berbunyi, pesan masuk, media sosial terus bergerak, pekerjaan menunggu, keluarga membutuhkan perhatian, dan berbagai persoalan kehidupan terus memenuhi pikiran. Bahkan ketika tubuh kita sedang beristirahat, pikiran kita sering tetap sibuk. Kita begitu terbiasa dengan suara dan kesibukan sehingga keheningan kadang-kadang terasa aneh.

Padahal, manusia membutuhkan keheningan. Kita membutuhkan solitude—kesendirian yang disengaja dan sehat, ketika untuk sementara kita mengambil jarak dari hiruk-pikuk kehidupan supaya dapat beristirahat, berpikir, merenung, dan terutama kembali mengarahkan hati kepada Allah.

Solitude berbeda dari kesepian. Kesepian adalah keadaan ketika seseorang merasa terputus dan tidak memiliki hubungan yang berarti dengan orang lain. Solitude justru dapat menjadi pilihan untuk menyendiri tanpa kehilangan hubungan kasih dengan orang lain. Seseorang dapat menikmati solitude dan tetap menjadi pribadi yang sangat mengasihi keluarga, sahabat, dan komunitasnya.

Mazmur 46 lahir dari suasana yang penuh pergolakan. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goyah, bumi bergoncang, dan manusia menghadapi ketidakpastian. Di tengah keadaan seperti itu, Allah berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”

“Diamlah” bukan berarti berhenti peduli terhadap kehidupan. Bukan pula berarti melarikan diri dari tanggung jawab. Kata-kata itu merupakan undangan untuk berhenti sejenak dari kegaduhan dan menyadari kembali siapa yang sebenarnya memegang kendali. Ada saat ketika kita terlalu sibuk mengatur kehidupan sehingga lupa bahwa kita bukan Allah.

Kita mungkin merasa harus selalu tersedia bagi orang lain. Sebagai suami atau istri, kita mempunyai tanggung jawab terhadap pasangan. Sebagai orang tua, kita masih memikirkan anak-anak. Sebagai kakek dan nenek, kita dapat merasa perlu membantu anak dan cucu. Di gereja pun ada pelayanan dan kebutuhan orang lain. Semua itu baik. Tetapi sesuatu yang baik dapat menjadi tidak sehat apabila kita tidak pernah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berhenti.

Bahkan Yesus sendiri memberi teladan tentang pentingnya menyendiri. Injil mencatat bahwa Ia sering mengundurkan diri ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Ia melayani orang banyak, mengajar, menyembuhkan, dan berjalan bersama murid-murid-Nya. Namun Ia juga mencari tempat yang sunyi. Kesendirian bukan tanda bahwa Ia tidak mengasihi manusia. Justru dalam keheningan itu Ia kembali kepada Bapa.

Kita pun membutuhkan saat-saat seperti itu.

Solitude tidak harus berarti pergi ke tempat yang jauh. Mungkin hanya duduk sendirian selama beberapa menit pada pagi hari. Mungkin berjalan seorang diri tanpa telepon. Mungkin membaca Alkitab tanpa tergesa-gesa. Mungkin duduk di taman dan menikmati keheningan. Mungkin minum secangkir kopi tanpa harus membuka media sosial. Bahkan tidak melakukan apa-apa selama beberapa saat dapat menjadi bentuk istirahat yang sangat berharga.

Dalam solitude, kita belajar bahwa nilai diri kita tidak bergantung pada seberapa banyak pekerjaan yang kita selesaikan atau seberapa banyak orang yang membutuhkan kita. Kita tetap dikasihi Allah ketika kita sedang tidak produktif. Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa kita berguna.

Lebih dari itu, solitude memberikan kesempatan untuk mendengar kembali suara hati. Dalam kesibukan, kita dapat mengabaikan kegelisahan, kelelahan, kemarahan, atau kesedihan yang sebenarnya sedang kita alami. Keheningan memungkinkan kita menyadari apa yang selama ini kita tekan. Di sana kita dapat membawa semuanya kepada Tuhan dalam doa.

Namun solitude juga harus dijalani dengan bijaksana. Kesendirian tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab, memutus hubungan, atau mengasingkan diri dari orang-orang yang mengasihi kita. Kita diciptakan untuk hidup dalam komunitas. Tetapi kita juga bukan mesin yang dapat terus bekerja tanpa berhenti. Karena itu, terkadang solitude bisa dilakukan di tengah keramaian.

Ada waktunya untuk berinteraksi dengan orang lain, dan ada waktunya untuk duduk sendiri dan melihat orang lain bekerja, sambil bersyukur kepada Tuhan atas pemeliharaan-Nya. Memang, ada waktunya berbicara, dan ada waktunya diam. Ada waktunya memberi, dan ada waktunya menerima. Ada waktunya melayani, dan ada waktunya beristirahat.

Mungkin karena itu kita perlu belajar menikmati karunia solitude tanpa merasa bersalah.

Ketika kita diam, kita tidak sedang membuang waktu. Tidak juga kehilangan rasa peduli. Tetapi kita sedang mengingat kembali siapa Allah dan siapa diri kita. Kita bukan pusat alam semesta. Kita bukan penyelamat keluarga kita. Kita bukan orang yang harus mengendalikan segala sesuatu. Allah adalah Allah.

“Diamlah dan ketahuilah.”

Dalam dunia yang terus berkata, “Lakukan lebih banyak,” Tuhan kadang berkata, “Berhentilah sejenak.” Dalam dunia yang terus menuntut perhatian kita, Tuhan mengundang kita untuk memberikan perhatian kepada-Nya.

Dan mungkin, setelah kita belajar diam di hadapan Allah, kita dapat kembali kepada keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari bukan dengan hati yang semakin kosong, melainkan dengan hati yang telah diperbarui.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menikmati keheningan tanpa merasa bersalah. Tolong kami membedakan antara melarikan diri dari tanggung jawab dan mengambil waktu untuk memulihkan diri. Dalam kesunyian, mampukan kami mengenal-Mu lebih dalam dan menyadari bahwa Engkaulah Allah yang memegang hidup kami. Berikan kami hati yang tenang agar kami dapat kembali mengasihi dan melayani orang lain dengan sukacita. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar