Apa Alasan untuk Bekerja Keras?

“Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah – sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”
— Mazmur 127:2

Bekerja keras adalah sesuatu yang baik. Alkitab tidak pernah mengajarkan kemalasan (Amsal 6:6). Kita dipanggil untuk bertanggung jawab, menggunakan talenta yang Tuhan berikan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Namun Mazmur 127:2 mengingatkan bahwa ada perbedaan antara bekerja keras dan diperbudak oleh pekerjaan.

Ada orang yang bekerja keras karena memang pekerjaannya menuntut demikian. Ada pula yang bekerja keras karena ingin mencapai sesuatu. Tetapi ada orang yang terus bekerja karena pekerjaan itu memberikan kepuasan tertentu. Ketika target tercapai, masalah terselesaikan, atau hasil pekerjaan terlihat, muncul perasaan senang dan puas. Kesibukan membuatnya merasa produktif, berguna, bahkan hidup. Karena itu ia sulit berhenti.

Ada pula yang bekerja keras karena mengharapkan pujian. Ia ingin dianggap rajin, bertanggung jawab, dapat diandalkan, atau sangat dibutuhkan. Tanpa disadari, pekerjaan menjadi sumber validasi dirinya. Ia merasa berharga karena orang lain menghargai apa yang dilakukannya.

Yang lebih halus lagi, seseorang dapat bekerja terlalu keras karena merasa orang lain kurang mampu. “Kalau bukan saya yang mengerjakan, pasti tidak beres.” Ia sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Akhirnya ia mengambil alih semakin banyak pekerjaan dan semakin yakin bahwa hanya dirinya yang mampu melakukannya dengan benar.

Hal seperti ini dapat terjadi bahkan dalam keluarga. Orang tua yang sudah lanjut usia mungkin masih terus mengurus anak-anak dan cucu-cucunya karena merasa mereka tidak mampu melakukannya sendiri. “Kasihan anak saya.” “Kalau saya tidak membantu, siapa yang akan membantu?” “Biar saya saja.” Semua itu mungkin dimulai dari kasih, tetapi perlahan dapat berubah menjadi ketergantungan. Anak menjadi terlalu bergantung kepada orang tua, sementara orang tua merasa dirinya harus selalu dibutuhkan.

Ada kepuasan tertentu di dalamnya: merasa berguna, dibutuhkan, dipuji, dan mampu mengendalikan keadaan. Tetapi kepuasan itu dapat menjadi jebakan. Kita mulai sulit membedakan antara melayani karena kasih dan bekerja karena membutuhkan kepuasan yang diberikan oleh pekerjaan itu.

Di sinilah persoalannya menjadi rohani.

Kita dapat begitu menikmati keberhasilan dan produktivitas sehingga diri kita menjadi yang paling penting dalam kehidupan kita. Kita tidak secara terang-terangan meninggalkan Tuhan. Kita tetap berdoa, tetap ke gereja, bahkan mungkin tetap melayani. Tetapi hati kita mulai berkata, “Saya mampu mengurus semuanya.” Kita memperoleh rasa aman dari pekerjaan, bukan dari Tuhan; memperoleh nilai diri dari prestasi, bukan dari kasih karunia; dan memperoleh kepuasan dari pujian manusia, bukan dari persekutuan dengan Allah.

Karena itu perkataan pemazmur, “pada waktu tidur,” begitu indah. Tidur adalah gambaran keterbatasan manusia. Ketika kita tidur, kita tidak bekerja. Kita tidak mengontrol apa pun. Kita tidak menghasilkan sesuatu. Namun Tuhan tetap bekerja dan memelihara.

Tidur seolah-olah berkata, “Dunia tidak bergantung kepadaku. Aku bukan penyelamat keluargaku. Aku bukan penentu masa depan. Tuhanlah yang memegang semuanya.”

Ini bukan alasan untuk menjadi malas. Kita tetap bekerja dengan rajin. Tetapi kita perlu memeriksa alasan kita bekerja keras.

Apakah karena tanggung jawab? Baik.

Apakah karena menggunakan karunia Tuhan? Baik.

Apakah karena mengasihi keluarga dan melayani sesama? Baik.

Apakah karena orang lain benar-benar membutuhkan bantuan saya? Baik.

Tetapi jika kita bekerja terutama karena membutuhkan pujian, ingin merasa superior, takut kehilangan kendali, rasa kuatir yang berlebihan, atau merasa bahwa tanpa kita semuanya akan berantakan, mungkin sudah waktunya berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: “Siapakah diri saya ini? Apakah saya bisa bertahan terus jika saya hidup seperti ini? Siapa sebenarnya yang saya percayai?”

Ada waktunya kita bekerja. Ada waktunya kita berhenti. Ada waktunya kita menolong anak-anak. Ada waktunya kita membiarkan mereka belajar bertanggung jawab. Ada waktunya kita mengambil alih. Ada waktunya kita menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.

Dan ada waktunya kita tidur.

Sebab ketika kita tidur, Tuhan tidak tidur.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari Mazmur 127:2: kita dipanggil untuk bekerja dengan setia, tetapi bukan untuk hidup seolah-olah segala sesuatu bergantung pada apa yang kita lakukan.

Kita boleh berhenti karena kita percaya kepada-Nya. Dan jika kita bangun, kita bisa bersyukur kepada-Nya karena dunia tetap berputar.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami bekerja dengan rajin dan setia, tetapi jangan biarkan pekerjaan menjadi sumber nilai, kepuasan, atau keamanan kami. Tolong kami untuk mengenali ketika kami mulai mencari pujian, kontrol, atau rasa dibutuhkan. Ajarlah kami menyerahkan pekerjaan, keluarga, dan masa depan kami ke dalam tangan-Mu. Berikan kami keberanian untuk bekerja ketika waktunya bekerja dan beristirahat ketika waktunya berhenti. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar