Perubahan dalam Hidup Manusia

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”
— 2 Korintus 4:16

Ada sesuatu yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan manusia: perubahan. Kita lahir sebagai bayi, bertumbuh menjadi anak-anak, memasuki masa remaja, menjadi dewasa, kemudian perlahan memasuki usia lanjut. Pada awal kehidupan, perubahan itu terlihat sebagai pertumbuhan. Tubuh menjadi lebih tinggi, otot semakin kuat, kemampuan berpikir berkembang, dan berbagai keterampilan semakin dikuasai. Kita menyambut perubahan itu dengan gembira.

Tetapi setelah mencapai kedewasaan, arah perubahan mulai bergeser. Tubuh tidak lagi bertumbuh seperti sebelumnya. Secara biologis, proses penuaan berlangsung perlahan. Massa otot dan kekuatan fisik cenderung menurun, massa tulang mengalami perubahan, kulit kehilangan sebagian elastisitasnya, dan beberapa aspek kecepatan pemrosesan otak juga dapat melambat. Perubahan ini biasanya tidak terasa dalam satu malam. Ia datang sedikit demi sedikit, sehingga sering baru kita sadari ketika suatu hari kita berkata, “Dulu saya bisa melakukan ini dengan mudah.”

Inilah yang Paulus sebut sebagai “manusia lahiriah kami semakin merosot.”

Paulus tidak sedang memberikan teori ilmiah tentang penuaan. Ia sedang berbicara tentang kenyataan bahwa tubuh manusia bersifat fana dan terus menuju kelemahan. Ia sendiri mengalami penderitaan, tekanan, dan berbagai kesulitan dalam pelayanan. Namun yang menarik adalah bahwa ia tidak berhenti pada kenyataan tersebut. Ia berkata, “sebab itu kami tidak tawar hati.”

Mengapa?

Karena manusia tidak hanya memiliki kehidupan lahiriah.

Ada manusia batiniah yang dapat terus diperbarui.

Kita dapat melihat gambaran yang sederhana dalam kehidupan para atlet. Seorang atlet mungkin pada suatu saat mencapai batas kemampuan fisiknya. Kecepatan, kekuatan, refleks, atau daya tahannya tidak lagi memungkinkan dia bertanding pada tingkat yang sama seperti ketika berada di puncak karier. Tetapi berakhirnya karier sebagai atlet tidak berarti berakhirnya kemampuan untuk berkembang. Pengalaman bertahun-tahun dapat membentuknya menjadi pelatih yang baik. Ia tidak lagi berada di lapangan sebagai pemain, tetapi dapat mengajarkan teknik, strategi, disiplin, dan mental bertanding kepada generasi berikutnya. Perannya berubah, tetapi pertumbuhannya tidak berhenti. Bahkan pengalaman yang dahulu diperoleh melalui tubuh kini dapat diteruskan melalui hikmat.

Demikian pula kehidupan manusia. Ada masa ketika kekuatan fisik menjadi keunggulan utama. Namun ketika kekuatan itu berkurang, kita tidak harus berhenti bertumbuh. Kita dapat beralih dari melakukan kepada membimbing, dari kecepatan kepada kebijaksanaan, dan dari pengalaman pribadi kepada memberikan teladan bagi generasi berikutnya.

Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks kehidupan. Ketika beberapa kemampuan fisik mulai berkurang, manusia masih mempunyai kemampuan untuk bertumbuh dalam hal-hal yang lain. Kecepatan memproses informasi mungkin melambat, tetapi pengetahuan dan pengalaman yang terkumpul dapat membuat seseorang memiliki pertimbangan yang lebih matang. Seseorang mungkin tidak lagi secepat ketika muda, tetapi ia dapat lebih mampu melihat pola, memahami akibat suatu keputusan, dan membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.

Dengan kata lain, kehidupan tidak hanya bergerak dari lebih kuat menjadi lebih lemah, tetapi juga dapat bergerak dari lebih cepat menjadi lebih bijaksana.

Bahkan otak manusia tetap memiliki kemampuan untuk berubah dan belajar sepanjang kehidupan. Mempelajari keterampilan baru, membaca, memainkan alat musik, mempelajari bahasa, berdiskusi, dan menghadapi tantangan baru dapat terus merangsang otak. Karena itu, menjadi tua tidak berarti berhenti belajar.

Hal yang sama bahkan lebih penting dalam kehidupan rohani.

Kita mungkin tidak akan menjadi sempurna dalam kehidupan sekarang. Tetapi kita dipanggil untuk terus menjadi dewasa di dalam Kristus. Pengudusan tidak berhenti ketika kita mencapai usia tertentu. Roh Kudus terus membentuk kita melalui firman Tuhan, doa, persekutuan, pelayanan, keberhasilan, kegagalan, bahkan penderitaan.

Kita masih dapat belajar menjadi lebih sabar. Masih dapat belajar mengampuni. Masih dapat belajar merendahkan diri. Masih dapat belajar mengendalikan perkataan. Masih dapat belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Dan yang terutama, kita dapat semakin belajar mempercayai Allah. Kita hanya berhenti belajar jika hidup ini berhenti.

Karena itu, usia lanjut tidak seharusnya hanya dipandang sebagai masa kehilangan. Ia dapat menjadi masa pendalaman.

Tubuh mungkin semakin lemah, tetapi iman dapat semakin kuat. Langkah mungkin semakin lambat, tetapi pertimbangan dapat semakin matang. Kita mungkin semakin menyadari keterbatasan diri, tetapi justru semakin memahami bahwa hidup ini bergantung pada kasih karunia Allah.

Inilah keindahan kalimat Paulus: “manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Perhatikan kata sehari ke sehari. Artinya, pembaruan itu adalah proses yang terus berlangsung. Tidak ada usia ketika seorang Kristen boleh berkata, “Saya sudah selesai bertumbuh.”

Selama kita masih hidup, masih ada pekerjaan Allah di dalam diri kita.

Karena itu, jangan tawar hati ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Jangan mengukur seluruh nilai diri berdasarkan apa yang dahulu dapat kita lakukan. Tubuh memang mempunyai batas. Tetapi karya Allah dalam manusia batiniah tidak berhenti hanya karena kekuatan tubuh berkurang.

Pada akhirnya, kita bukan sedang berusaha mempertahankan kemampuan masa muda. Kita sedang berjalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar: keserupaan dengan Kristus dan kehidupan kekal bersama-Nya.

Maka perubahan dalam hidup manusia bukan hanya cerita tentang menjadi tua. Bagi orang percaya, perubahan itu juga merupakan perjalanan dari hari ke hari—dari kekuatan menuju ketergantungan, dari pengalaman menuju hikmat, dari kelemahan menuju pengharapan, dan dari manusia lama menuju manusia yang terus diperbarui oleh kasih karunia Allah.

Manusia lahiriah boleh semakin merosot. Tetapi manusia batiniah dapat terus bertumbuh.

Doa Penutup

Tuhan, kami bersyukur karena Engkau memahami seluruh perjalanan hidup kami. Ketika tubuh kami semakin lemah dan kemampuan kami berkurang, tolonglah kami untuk tidak tawar hati. Perbaruilah manusia batiniah kami dari hari ke hari. Berikan kami iman yang semakin teguh, hati yang semakin rendah hati, kasih yang semakin dalam, hikmat yang semakin matang, dan pengharapan yang semakin kuat. Ajarlah kami menerima perubahan hidup dengan percaya bahwa kasih karunia-Mu tidak pernah berkurang. Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus sampai pada akhirnya kami berjumpa dengan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar