“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
— Filipi 4:8

Kita sedang hidup dalam suatu zaman yang dahulu hanya dapat dibayangkan melalui film fiksi ilmiah. Artificial Intelligence atau AI kini dapat menjawab pertanyaan, menerjemahkan bahasa, menulis, menganalisis data, membuat gambar, membantu penelitian, bahkan berdialog dengan manusia.
AI dalam bahasa Indonesia berarti kecerdasan buatan atau kecerdasan artifisial. Dalam beberapa bidang, kemampuan AI mengolah informasi bahkan melampaui kemampuan manusia. Tidak mengherankan jika sebagian orang bertanya: apakah suatu hari AI akan menjadi lebih “cerdas” daripada manusia?
Pertanyaan itu menarik, tetapi bagi orang Kristen ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana seharusnya kita memandang AI?
Pertama-tama, kita perlu mengingat bahwa kemampuan manusia untuk berpikir sendiri merupakan berkat Tuhan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan akal budi yang diberikan Tuhan, manusia dapat mempelajari ciptaan, menemukan hukum-hukum alam, membangun teknologi, menciptakan karya seni, dan mengembangkan berbagai pengetahuan. AI, dalam arti tertentu, merupakan salah satu hasil dari kemampuan berpikir manusia yang luar biasa.
Karena itu, keberadaan AI tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan iman Kristen. AI dapat menjadi alat yang berguna untuk menolong manusia belajar, bekerja, meneliti, berkomunikasi, dan memecahkan berbagai persoalan. Seperti pisau, komputer, atau internet, AI pada dirinya sendiri bukanlah baik atau jahat secara moral. Yang sangat menentukan adalah bagaimana manusia menggunakannya.
Namun di sinilah doktrin Total Depravity (Kerusakan Total) mengingatkan kita untuk berhati-hati. Kerusakan total tidak berarti manusia kehilangan seluruh kemampuan berpikirnya. Manusia masih mampu berpikir secara logis dan menghasilkan banyak kebaikan. Tetapi dosa telah memengaruhi seluruh keberadaannya, termasuk pikirannya. Karena itu semua orang cenderung jatuh dalam dosa. Inilah yang sering disebut sebagai efek noetik dari dosa.
Masalah manusia bukan sekadar bahwa ia kurang mengetahui kebenaran. Kadang-kadang manusia mengetahui sesuatu benar, tetapi tidak menyukainya. Ia dapat menggunakan kecerdasannya untuk mencari alasan agar dapat melakukan apa yang sebenarnya ingin dilakukannya. Bahkan akal yang sangat cerdas dapat menjadi alat untuk membenarkan keserakahan, kesombongan, ketidakadilan, atau dosa. Manusia bisa membenarkan apa yang salah sebagai kehendak Tuhan atau menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada.
AI berbeda dalam hal ini. AI tidak tidak berdosa karena AI bukan makhluk moral seperti manusia. Seperti sebuah komputer, AI tidak mempunyai hati nurani yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan. Ia juga tidak memiliki iman, pertobatan, kasih kepada Allah, atau kerinduan untuk memuliakan-Nya. AI dapat berbicara tentang Tuhan, tetapi berbicara tentang Tuhan tidak sama dengan mengenal Tuhan. AI juga bisa dengan bebas menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. AI bukan manusia yang diciptakan Tuhan dengan batasan moral yang jelas (Kejadian 2:16-17).
Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika meminta AI memberikan nasihat. AI dapat memberikan jawaban yang masuk akal, menyenangkan, bahkan sangat meyakinkan. Tetapi sesuatu yang terdengar bijaksana belum tentu benar secara moral dan rohani. AI dapat membantu kita berpikir, tetapi AI tidak boleh menjadi pengganti hati nurani, hikmat, dan tanggung jawab kita di hadapan Allah.
Ada bahaya lain yang lebih halus. Manusia dapat menggunakan AI untuk memperoleh pembenaran bagi apa yang memang ingin dilakukannya. Jika hati sudah menginginkan sesuatu, kita dapat mencari jawaban AI yang mendukung keinginan tersebut. Dengan demikian, AI bukan lagi alat untuk mencari kebenaran, melainkan alat untuk membenarkan diri. AI bisa membantu manusia menciptakan malapetaka, seperti perang atau pandemi.
Filipi 4:8 memberikan prinsip yang sangat penting. Paulus tidak berkata agar kita memikirkan segala sesuatu yang menarik, menguntungkan, atau menyenangkan. Ia mengarahkan pikiran kita kepada yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, baik dan patut dipuji.
Inilah panggilan Kristen di zaman AI: bukan hanya memiliki kemampuan berpikir yang semakin besar, tetapi belajar berpikir dengan benar. AI mungkin dapat membantu meningkatkan kecerdasan kita, tetapi hanya Tuhan yang dapat memperbarui pikiran dan hati kita.
Maka janganlah kita takut kepada AI, tetapi juga janganlah kita menyembahnya. Gunakanlah AI sebagai alat, tetapi jangan menyerahkan kepadanya otoritas yang hanya menjadi milik Tuhan. Kita boleh meminta AI membantu kita menemukan informasi, menyusun gagasan, atau melihat persoalan dari berbagai sudut. Tetapi pada akhirnya, kita sendiri harus bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini sesuai dengan firman Tuhan? Apakah melalui keputusan ini saya sedang memuliakan Allah?
AI akan menjadi makin pintar dan bisa lebih cerdas daripada manusia. Tetapi kebutuhan manusia yang paling mendalam tetap sama: bukan sekadar pikiran yang lebih cerdas, melainkan hati yang telah diperbarui oleh anugerah Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih atas akal budi yang Engkau berikan kepada manusia dan atas kemampuan kami untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berikan kami hikmat untuk menggunakan AI dengan bijaksana. Jangan biarkan kecerdasan teknologi menggantikan Engkau dalam hidup kami. Perbaruilah pikiran dan hati kami supaya kami selalu mencari apa yang benar, baik, suci, dan berkenan kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.