Hidup Panjang Itu Untuk Apa?

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
— Mazmur 90:12

Kebanyakan orang sebenarnya tidak ingin hidup selamanya dalam tubuh seperti sekarang. Kita mungkin ingin hidup panjang, tetapi bukan tanpa batas. Kita ingin mencapai usia tua yang wajar, tetap sehat dan mandiri, masih dapat menikmati keluarga, berbicara dengan sahabat, melakukan berbagai kegiatan, dan melihat anak serta cucu bertumbuh. Namun pada suatu saat, kita juga menyadari bahwa hidup di dunia ini mempunyai batas. Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar, “Berapa lama aku akan hidup?” tetapi, “Kalau Tuhan masih memberikan hidup kepadaku, untuk apa?”

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika seseorang memasuki usia lanjut. Masa muda biasanya dipenuhi berbagai target: pendidikan, pekerjaan, membangun keluarga, membeli rumah, mencapai kedudukan tertentu, dan mengumpulkan harta. Tetapi setelah sebagian besar tujuan itu tercapai, kita mulai melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda. Waktu terasa semakin berharga, dan kita mulai menyadari bahwa yang paling penting bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apa yang kita lakukan dengan hari-hari yang masih Tuhan berikan.

Musa berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami.” Ia tidak meminta Tuhan menghapus kenyataan bahwa manusia fana. Sebaliknya, ia meminta hati yang bijaksana untuk menjalani kehidupan justru karena kehidupan itu terbatas. Menghitung hari bukan berarti terus-menerus menghitung berapa tahun lagi kita akan hidup, tetapi menyadari bahwa setiap hari adalah pemberian Tuhan yang tidak boleh disia-siakan.

Selama hidup masih ada, berarti masih ada tanggung jawab. Kehidupan itu sendiri adalah sesuatu yang perlu dipelihara. Karena itu, menjaga kesehatan, berolahraga, makan dengan bijaksana, cukup beristirahat, menjaga pikiran tetap aktif, memelihara relasi, dan memperoleh pertolongan medis ketika diperlukan bukanlah tindakan yang bertentangan dengan iman. Sebaliknya, semuanya dapat menjadi bagian dari penatalayanan terhadap kehidupan yang Tuhan percayakan.

Namun kita juga perlu memahami batasnya. Kita bertanggung jawab memelihara kehidupan, tetapi kita tidak berkuasa menentukan panjang kehidupan. Kita boleh berusaha hidup sehat, tetapi tidak boleh menjadikan kesehatan sebagai tujuan tertinggi. Kita boleh berharap panjang umur, tetapi tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap kematian. Umur kita berada dalam tangan Tuhan.

Lalu, untuk apa Tuhan memberikan tambahan hari?

Untuk mengasihi. Untuk mengampuni. Untuk melayani. Untuk menguatkan mereka yang lemah. Untuk memberikan perhatian kepada keluarga. Untuk membagikan pengalaman dan hikmat kepada generasi yang lebih muda. Untuk mendoakan anak-anak dan cucu-cucu. Untuk terus belajar mengenal Tuhan. Dan bahkan untuk menikmati dengan penuh syukur berbagai kebaikan sederhana yang masih Tuhan berikan.

Ketika usia bertambah, bentuk pelayanan kita mungkin berubah. Dahulu kita mungkin banyak bekerja dengan tenaga dan kemampuan fisik. Sekarang mungkin kita lebih banyak memberi nasihat, mendengarkan, mendoakan, dan menjadi teladan. Kita tidak harus terus melakukan sebanyak yang dahulu kita lakukan untuk membuktikan bahwa hidup kita masih berguna. Kesetiaan dalam perkara-perkara kecil tetap berharga di hadapan Tuhan.

Dan akhirnya, orang Kristen tidak perlu melihat kematian sebagai kekalahan terakhir. Kematian memang menyedihkan karena memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi. Tetapi bagi mereka yang percaya kepada Kristus, kematian bukanlah akhir. Kristus telah bangkit dan menjanjikan kehidupan kekal kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Karena itu, kita dapat memelihara kehidupan dengan penuh tanggung jawab tanpa menjadi diperbudak oleh ketakutan akan kematian.

Mungkin inilah keseimbangan iman Kristen: selama Tuhan memberi hidup, kita memeliharanya; selama Tuhan memberi waktu, kita menggunakannya dengan bijaksana; dan ketika Tuhan memanggil kita pulang, kita menyerahkan diri kepada-Nya.

Jadi, hidup panjang itu untuk apa?

Bukan sekadar untuk menambah angka usia. Bukan sekadar untuk menikmati kenyamanan lebih lama. Tetapi untuk menggunakan setiap hari yang tersisa sebagai kesempatan untuk mengasihi sesama, bertumbuh dalam iman, menjadi berkat, dan memuliakan Tuhan.

Kita tidak tahu berapa banyak hari yang masih tersisa. Tetapi kita memiliki hari ini. Dan mungkin itulah yang Tuhan ingin kita perhatikan: bukan berapa panjang hidup kita, melainkan seberapa setia kita mengisi hari yang sedang dipercayakan-Nya.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan bijaksana. Tolong kami memelihara kehidupan yang Engkau percayakan, tanpa menjadi takut kehilangan hidup. Selama Engkau masih memberikan kami waktu, mampukan kami menggunakannya untuk mengasihi, melayani, menjadi berkat, dan memuliakan nama-Mu. Dan ketika tiba waktunya kami meninggalkan dunia ini, teguhkan iman kami kepada Kristus dan pengharapan akan kehidupan kekal bersama-Mu. Amin.

Tinggalkan komentar