“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.”
— Roma 8:22

Mengapa hidup terasa sulit? Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam hati hampir setiap orang. Ada masa ketika semuanya berjalan baik, tetapi ada pula masa ketika persoalan datang bertubi-tubi. Tubuh mulai melemah, orang yang kita kasihi mengalami masalah, pekerjaan tidak berjalan seperti yang diharapkan, hubungan menjadi rumit, atau masa depan terasa tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu, sangat manusiawi kalau kita berkata, “Tuhan, mengapa hidup ini begitu berat?”
Tetapi sebagai orang Kristen, apakah mengeluh itu salah?
Roma 8:22 memberikan jawaban yang menarik. Paulus tidak menggambarkan dunia ini sebagai tempat yang semuanya baik-baik saja. Ia berkata bahwa segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dengan kata lain, penderitaan bukan sesuatu yang asing dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Ciptaan sedang menantikan pembebasan dan pemulihan yang Allah janjikan.
Karena itu, menjadi orang percaya tidak berarti kita tidak akan pernah mengeluh. Iman Kristen tidak mengharuskan kita berpura-pura kuat ketika sebenarnya hati kita sedang terluka. Alkitab sendiri penuh dengan ratapan. Para pemazmur menangis, bertanya, bahkan berseru kepada Allah ketika mereka tidak memahami keadaan yang mereka alami.
Yang perlu dibedakan adalah mengeluh kepada Allah dan bersungut-sungut terhadap Allah.
Bersungut-sungut dapat menjadi sikap hati yang menuduh Allah tidak baik dan menolak kehendak-Nya. Tetapi ratapan adalah ketika kita membawa rasa sakit kita kepada Allah karena kita tahu bahwa hanya kepada-Nyalah kita dapat datang. Kita berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti. Aku lelah. Aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi aku tetap datang kepada-Mu.”
Keluhan semacam itu justru dapat menjadi sebuah bentuk doa.
Lebih indah lagi, ketika kita berada dalam kelemahan, kita tidak ditinggalkan sendirian. Paulus melanjutkan dalam Roma 8:26 bahwa Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, Roh Kudus berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Betapa dalam penghiburan ini! Ada saat ketika kita terlalu lelah untuk berdoa. Ada penderitaan yang begitu dalam sehingga kita tidak mampu menemukan kata-kata. Kita hanya bisa menangis atau menghela napas panjang. Namun ketidakmampuan kita bukan berarti Allah jauh. Justru dalam kelemahan itu Roh Kudus hadir menolong kita.
Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks iman Kristen. Kelemahan kita dapat membuat kuasa Allah semakin nyata.
Kita sering mengira bahwa untuk mengalami Tuhan kita harus kuat. Padahal Paulus mendengar Tuhan berkata kepadanya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).
Selama kita merasa mampu mengatasi semuanya sendiri, kita mungkin tidak terlalu menyadari betapa kita membutuhkan Tuhan. Tetapi ketika kita sampai pada titik, “Aku tidak sanggup lagi,” kita mulai belajar bersandar. Ketika kemampuan kita terbatas, kita mulai melihat bahwa kuasa Allah tidak terbatas.
Mungkin karena itu, kita tidak perlu malu ketika suatu hari kita berkata, “Tuhan, saya lelah.” Kita tidak perlu merasa gagal dalam iman hanya karena air mata jatuh. Kita tidak perlu menganggap pertanyaan “Mengapa?” sebagai bukti bahwa kita tidak percaya.
Yang penting adalah ke mana kita membawa keluhan itu.
Jika kita membawanya kepada Allah, keluhan dapat menjadi doa. Dalam doa itu kita menemukan Roh Kudus yang menolong dalam kelemahan. Dan dalam kelemahan itu kita belajar mengenal Allah bukan hanya sebagai Pribadi yang Mahakuasa, tetapi sebagai Bapa yang menopang anak-anak-Nya.
Kita mungkin tidak selalu mendapatkan jawaban atas pertanyaan “mengapa”. Tetapi kita dapat menemukan jawaban yang lebih dalam: siapa yang menyertai kita ketika hidup terasa berat.
Ciptaan masih mengeluh. Kita pun kadang mengeluh. Tetapi keluhan kita tidak berakhir dalam keputusasaan. Kita mengeluh sambil berharap, menangis sambil percaya, dan berjalan dalam kelemahan sambil memegang janji Allah.
Jadi, salahkah kalau kita mengeluh?
Tidak, selama keluhan itu membawa kita kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.
Sebab mungkin dalam keluhan kita yang paling jujur, kita justru menemukan bahwa Tuhan lebih dekat daripada yang selama ini kita sadari.
Doa Penutup
Tuhan, ketika hidup terasa berat dan kami tidak sanggup lagi menyembunyikan kelemahan kami, ajarlah kami datang kepada-Mu dengan jujur. Tolong kami agar keluhan kami menjadi doa dan air mata kami menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Mu. Ketika kami tidak tahu bagaimana harus berdoa, biarlah Roh Kudus menolong kami. Dalam kelemahan kami, biarlah kami semakin mengenal kuasa dan kasih-Mu. Amin.