“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”
— Yakobus 1:13

Ketika malapetaka menimpa manusia, kita sering kehabisan kata-kata. Berita tentang penderitaan dan kehancuran di Nepal kembali mengingatkan kita betapa rapuhnya kehidupan. Dalam waktu yang singkat, kehidupan yang sebelumnya berjalan biasa dapat berubah menjadi kepanikan, kehilangan, dan kesedihan. Kita melihat penderitaan manusia dan bertanya dalam hati: Di manakah Tuhan ketika semua ini terjadi?
Pertanyaan itu bukan hanya pertanyaan orang yang tidak percaya. Orang beriman pun dapat mengajukannya. Bahkan Alkitab penuh dengan seruan seperti itu. “Berapa lama lagi, Tuhan?” demikian pemazmur berseru. Ketika penderitaan terlalu berat untuk dipahami, iman tidak selalu menghasilkan jawaban. Kadang-kadang iman hanya memberikan keberanian untuk tetap bertanya kepada Tuhan.
Namun muncul pertanyaan yang lebih sulit: “Kalau Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, jangan-jangan Tuhan sendiri yang menyebabkan malapetaka itu?”
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Kita tidak mengetahui seluruh maksud Allah di balik suatu peristiwa tertentu. Karena itu, kita tidak boleh dengan mudah mengatakan bahwa suatu bencana merupakan hukuman Allah terhadap orang-orang yang menjadi korbannya. Kita juga tidak boleh mengklaim mengetahui bahwa Tuhan secara khusus menyebabkan suatu malapetaka untuk mencapai tujuan tertentu, kecuali jika Allah sendiri menyatakannya.
Yakobus memberikan batas yang jelas: Allah tidak mencobai manusia dengan kejahatan. Allah bukan sumber kejahatan dan tidak menikmati penderitaan manusia.
Kita perlu mengingat sesuatu yang sering terlupakan: kita hidup di dalam dunia yang telah rusak.
Ciptaan yang dahulu disebut Allah “sungguh amat baik” sekarang adalah ciptaan yang mengalami kerusakan. Dosa telah memasuki sejarah manusia dan membawa kematian, penderitaan, ketidakadilan, dan kehancuran. Paulus menggambarkan seluruh ciptaan sebagai sesuatu yang “mengeluh” dan “merasa sakit bersalin” sampai sekarang (Roma 8:22).
Karena itu, ketika bencana terjadi, kita tidak boleh langsung berkata, “Tuhan sedang menghukum mereka.” Korban suatu tragedi tidak otomatis berarti lebih berdosa daripada orang lain. Yesus sendiri menolak cara berpikir seperti itu ketika berbicara tentang berbagai tragedi pada zaman-Nya.
Tetapi mengatakan bahwa dunia telah rusak tidak berarti Allah telah kehilangan kendali. Allah tetap berdaulat. Tidak ada satu pun peristiwa yang mengejutkan-Nya. Di sinilah kita perlu membedakan antara apa yang Allah kehendaki dan apa yang Allah izinkan terjadi.
Kehendak Allah tidak pernah bertentangan dengan karakter-Nya yang kudus, baik, dan penuh kasih. Karena itu, ketika manusia melakukan kejahatan, kita tidak boleh berkata bahwa Allah menghendaki kejahatan itu hanya karena Ia membiarkannya terjadi.
Mengizinkan bukan berarti menyetujui. Membiarkan terjadi bukan berarti menjadi penyebab langsungnya.
Dalam providensi-Nya, Allah dapat memilih untuk tidak mencegah suatu peristiwa, tetapi itu tidak berarti bahwa peristiwa tersebut mencerminkan apa yang Ia sukai secara moral. Allah tetap berdaulat atas apa yang terjadi, tetapi kita tidak boleh mengubah setiap kejadian menjadi pernyataan: “Inilah yang Tuhan kehendaki.”
Ada hal-hal yang Allah izinkan dalam dunia yang telah jatuh, tetapi yang jelas bertentangan dengan karakter-Nya. Kejahatan manusia adalah contohnya. Allah mengizinkan manusia memiliki kebebasan yang dapat disalahgunakan, tetapi bukan berarti Allah menyetujui pembunuhan, penindasan, atau ketidakadilan.
Demikian pula dengan malapetaka. Kita dapat berkata dengan iman bahwa Allah mengizinkannya terjadi dalam kedaulatan-Nya, tetapi dengan rendah hati kita harus mengakui: kita tidak tahu mengapa Ia memilih mengizinkannya.
Perbedaan ini penting. Jika kita mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah dalam arti bahwa semuanya adalah sesuatu yang Ia sukai, kita akan kesulitan memahami mengapa Alkitab begitu sering menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang dibenci Allah. Tetapi jika kita mengatakan bahwa Allah sama sekali tidak berdaulat atas penderitaan, kita menjadikan Allah seolah-olah tidak berdaya menghadapi dunia yang kacau.
Iman Kristen menolak kedua ekstrem tersebut.
Allah tetap berdaulat, tetapi Allah bukan pencipta kejahatan. Allah mengizinkan, tetapi tidak berarti menyetujui. Kita tidak memahami semuanya, tetapi kita dapat mempercayai karakter-Nya.
Dan karakter Allah itu paling jelas terlihat dalam Kristus.
Ketika Lazarus meninggal, Yesus mengetahui bahwa Ia akan membangkitkannya. Namun Yesus tetap menangis. Pengetahuan tentang akhir cerita tidak membuat-Nya menjadi dingin terhadap kesedihan manusia.
Betapa indahnya: Allah yang berdaulat adalah Allah yang menangis.
Dalam Kristus, Allah tidak berdiri jauh dari penderitaan manusia. Ia masuk ke dalam dunia yang rusak ini. Ia mengalami kelaparan, kesepian, penolakan, ketidakadilan, penyiksaan, dan kematian. Di kayu salib kita melihat bahwa Allah tidak acuh terhadap penderitaan manusia.
Maka ketika kita melihat malapetaka di Nepal atau di mana pun di dunia, kita tidak perlu buru-buru menyalahkan Tuhan. Kita juga tidak perlu menyalahkan para korban. Kita dipanggil untuk menangis bersama mereka yang menangis, berdoa bagi mereka yang menderita, dan menolong sejauh kemampuan yang Tuhan berikan.
Kita mungkin tidak mampu menjawab pertanyaan, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Tetapi kita dapat menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
“Apakah Tuhan peduli?”
Lihatlah Kristus yang menangis di makam Lazarus. Lihatlah Kristus yang menderita di kayu salib.
Ya, Tuhan peduli.
Dan kisah ini belum selesai. Dunia masih mengeluh. Manusia masih menangis. Kematian masih datang. Tetapi pengharapan Kristen tidak berhenti pada dunia yang rusak ini. Suatu hari Allah akan memulihkan ciptaan-Nya dan menjadikan segala sesuatu baru. Air mata tidak akan menjadi bahasa terakhir manusia. Kematian tidak akan menjadi akhir cerita. Malapetaka tidak akan menjadi kata terakhir.
Sementara menunggu hari itu, tugas kita bukan menjelaskan semua misteri penderitaan. Tugas kita adalah mengasihi, menolong, berdoa, dan tetap berharap.
Keheningan Tuhan bukan berarti ketidakhadiran Tuhan. Dan izin Tuhan bukan berarti persetujuan-Nya terhadap kejahatan.
Kita mungkin tidak memahami jalan-Nya, tetapi kita dapat mempercayai hati-Nya.
Doa Penutup
Tuhan, ketika kami melihat malapetaka dan penderitaan manusia, hati kami bertanya, “Di manakah Engkau?” Kami tidak memahami mengapa Engkau mengizinkan begitu banyak air mata dan kehilangan.
Jauhkan kami dari kesombongan untuk menghakimi para korban atau mengaku mengetahui seluruh maksud-Mu. Ajarlah kami membedakan antara apa yang Engkau izinkan dan apa yang Engkau kehendaki menurut kekudusan-Mu.
Terima kasih karena dalam Kristus Engkau tidak jauh dari penderitaan kami. Engkau menangis bersama manusia dan bahkan masuk ke dalam penderitaan kami. Ketika kami tidak memahami jalan-Mu, teguhkanlah iman kami kepada kasih dan kedaulatan-Mu.
Ajarlah kami untuk menangis bersama mereka yang menangis, menolong mereka yang membutuhkan, dan tetap berharap kepada hari ketika Engkau akan menjadikan segala sesuatu baru.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.