Pentingnya Hati dan Pikiran

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”
— Yakobus 2:19

Bayangkan hidup manusia seperti sebuah kapal yang sedang berlayar. Kapal membutuhkan arah dan juga kemampuan untuk mencapai arah tersebut. Dalam gambaran ini, hati adalah nahkoda sekaligus kompas. Hati menentukan ke mana hidup diarahkan berdasarkan apa yang paling kita cintai. Sedangkan pikiran adalah mesin dan kemudi. Pikiran membantu kita memahami keadaan, mempertimbangkan pilihan, menghitung risiko, dan mencari cara terbaik untuk mencapai tujuan.

Keduanya harus berjalan bersama.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di lingkungan gereja, kita kadang mendengar ungkapan, “Jangan terlalu banyak berpikir. Percaya saja.” Maksudnya mungkin baik: jangan sampai iman digantikan oleh keraguan. Tetapi jika “percaya saja” berarti kita tidak perlu berpikir, bertanya, atau mencari pengertian, maka kita justru kehilangan sesuatu yang penting dalam iman Kristen.

Yesus berkata:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu … dan dengan segenap akal budimu.”
— Matius 22:37

Perhatikan: hati dan akal budi. Yesus tidak meminta kita memilih salah satunya. Allah memberikan kemampuan berpikir bukan untuk kita tinggalkan ketika datang kepada-Nya, melainkan untuk kita gunakan bagi-Nya.

Pendidikan dapat membuat seseorang mempunyai “mesin” yang sangat kuat. Ia dapat menjadi ahli matematika, dokter, insinyur, ilmuwan, atau ahli teknologi. Tetapi mesin yang kuat tidak menjamin kapal menuju pelabuhan yang benar. Seseorang dapat sangat pintar tetapi menggunakan kepintarannya untuk tujuan yang salah.

Sebaliknya, seseorang dapat mempunyai niat yang baik tetapi tidak mau menggunakan pikirannya. Ia sungguh ingin menyenangkan Tuhan, tetapi mudah menerima setiap ajaran tanpa memeriksanya. Akibatnya, ketulusan hati tidak selalu menghasilkan keputusan yang benar.

Karena itu, iman Kristen bukan sekadar perasaan religius. Iman mempunyai isi yang perlu kita ketahui. Dalam teologi, iman yang menyelamatkan dikenal melalui tiga istilah: notitia, assensus, dan fiducia.

Istilah-istilah ini sebenarnya sederhana.

Notitia berarti mengetahui. Kita perlu mengetahui apa yang kita percayai: siapa Allah, siapa Yesus Kristus, apa masalah dosa manusia, dan apa yang telah Kristus lakukan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kita tidak mungkin mempercayai seseorang yang sama sekali tidak kita kenal.

Kemudian ada assensus, yaitu mengakui bahwa apa yang kita ketahui itu benar. Misalnya, kita bukan hanya mengetahui bahwa Yesus mati dan bangkit, tetapi sungguh percaya bahwa berita Injil itu benar.

Tetapi masih ada satu langkah yang lebih dalam: fiducia, yaitu mempercayakan diri. Kita bukan hanya mengetahui bahwa Kristus adalah Juruselamat dan mengakui bahwa hal itu benar; kita menaruh hidup kita kepada-Nya.

Yakobus menunjukkan mengapa ketiga hal ini penting. Setan-setan pun percaya bahwa Allah itu satu. Mereka mengetahui kebenaran tentang Allah dan bahkan mengakuinya. Tetapi mereka tidak menyerahkan diri kepada Allah. Pengetahuan mereka tidak menghasilkan kasih dan ketaatan. Mereka hanya gemetar.

Jadi, mengetahui tentang Allah belum tentu berarti mengenal Allah secara pribadi.

Hal ini juga menolong kita memahami apa yang salah dengan iman yang hanya berkata, “Saya percaya.” Pertanyaan berikutnya adalah: Apa yang saya percaya? Apakah saya sungguh menganggapnya benar? Dan apakah kepercayaan itu membuat saya menyerahkan hidup kepada Kristus?

Tentu kita tidak diselamatkan karena pengetahuan kita sempurna atau karena perbuatan kita cukup baik. Keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Tetapi iman yang menyelamatkan bukan sekadar persetujuan di kepala. Iman itu melibatkan seluruh pribadi: pikiran yang memahami, hati yang percaya, dan kehidupan yang kemudian diarahkan kepada Kristus.

Karena itu gereja tidak perlu takut mengajarkan jemaat untuk berpikir. Bertanya bukan berarti tidak beriman. Justru orang percaya dipanggil untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik. Kita membutuhkan pikiran yang mampu membedakan kebenaran dari kesalahan.

Kembali kepada gambaran kapal tadi: hati menentukan pelabuhan yang kita cintai, sedangkan pikiran membantu kita menemukan jalan menuju ke sana. Hati tanpa pikiran dapat tersesat. Pikiran tanpa hati dapat kehilangan arah.

Dan di sinilah pembaruan hidup menjadi penting. Allah bukan hanya ingin mengubah apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita cintai dan bagaimana kita berpikir.

Maka janganlah kita takut menggunakan pikiran ketika beriman. Dan jangan pula kita mengandalkan pikiran tanpa menyerahkan hati kepada Tuhan.

Kita membutuhkan hati yang mengasihi Allah dan pikiran yang mencari kebenaran-Nya.

Sebab iman yang dewasa bukanlah berhenti berpikir supaya dapat percaya, melainkan menggunakan pikiran untuk memahami kebenaran, membuka hati untuk mempercayainya, dan kemudian menyerahkan seluruh hidup kepada Kristus.

Itulah iman yang bukan hanya ada di kepala, tetapi menjadi arah seluruh kehidupan.

Doa Penutup

Tuhan, berikan kami hati yang sungguh mengasihi-Mu dan pikiran yang sungguh mencari kebenaran-Mu. Ajarlah kami bukan hanya mengetahui tentang Engkau dan mengakui kebenaran-Mu, tetapi juga mempercayakan seluruh hidup kami kepada Kristus. Biarlah hati dan pikiran kami berjalan selaras dalam mengikuti-Mu. Amin.

Tinggalkan komentar