Adakah orang atau bangsa yang Anda kagumi?

“Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.”
— Yesaya 5:20

Manusia mempunyai kecenderungan alami untuk mengagumi seseorang yang dianggap hebat. Kita mengagumi pemimpin yang kuat, tokoh yang berani, atau seseorang yang dianggap berjasa bagi bangsa dan kelompoknya. Demikian pula kita merasa bangga terhadap bangsa sendiri. Rasa memiliki dan rasa cinta kepada komunitas bukanlah sesuatu yang salah. Persoalannya muncul ketika kesetiaan kepada kelompok mulai mengalahkan kesetiaan kepada kebenaran.

Inilah yang disebut tribalisme: kecenderungan melihat dunia dalam kategori “kita” dan “mereka”. Apa yang dilakukan “orang kita” cenderung kita maklumi, sedangkan kesalahan “orang mereka” cepat kita kecam. Kita dapat melihat keberanian pada pihak sendiri, tetapi melihat fanatisme pada pihak lain. Kita menyebut tindakan kita sebagai pembelaan, tetapi tindakan pihak lain sebagai agresi.

Sejarah menunjukkan betapa berbahayanya cara berpikir seperti ini.

Adolf Hitler pernah dipuja oleh banyak rakyat Jerman sebagai pemimpin yang mengangkat kembali martabat bangsanya. Ratko Mladić juga dipandang oleh sebagian orang Serbia Bosnia sebagai pembela bangsa mereka. Namun sejarah tidak dapat berhenti pada pertanyaan, “Apa yang mereka lakukan untuk kelompoknya?” Kita harus bertanya lebih jauh: “Apa yang mereka lakukan terhadap manusia lain?”

Pertanyaan kedua inilah yang sering hilang dalam propaganda politik.

Seorang pemimpin dapat membangun jalan, memulihkan ekonomi, memenangkan perang, atau mengembalikan kebanggaan nasional, tetapi semua keberhasilan itu tidak dapat menjadi alasan untuk menghapus kekejaman. Kebaikan yang dilakukan seseorang tidak menjadikan kejahatannya sebagai kebaikan.

Yesaya memperingatkan tentang pembalikan moral: kejahatan disebut baik dan kebaikan disebut jahat. Inilah bahaya terbesar ketika nasionalisme berubah menjadi semacam agama. Bangsa, bendera, tanah air, atau pemimpin tidak lagi sekadar menjadi bagian dari kehidupan manusia, tetapi menjadi sesuatu yang harus dibela apa pun yang terjadi.

Ketika itu terjadi, suara hati dapat dibungkam dengan sebuah kalimat sederhana: “Yang penting kita menang.”

Tetapi Alkitab tidak pernah memberikan bangsa mana pun hak untuk menjadi ukuran moralitasnya sendiri. Israel sendiri, bangsa pilihan Allah, berkali-kali ditegur oleh para nabi ketika melakukan ketidakadilan. Status sebagai umat pilihan tidak memberikan kekebalan terhadap penghakiman Allah.

Ini menjadi peringatan penting bagi kita. Jika Allah tidak membiarkan Israel menggunakan identitasnya sebagai alasan untuk membenarkan dosa, kita pun tidak boleh menggunakan bangsa, agama, keluarga, ideologi, atau kelompok kita sebagai pembenaran.

Karena itu, kita perlu belajar memandang sejarah bukan hanya dari podium para pemenang, tetapi juga dari tempat para korban menangis. Sebuah bangsa mungkin memiliki monumen untuk para pahlawannya, tetapi keluarga korban mungkin memiliki kuburan tanpa nama. Negara mungkin mengadakan upacara kehormatan, tetapi Allah tetap mendengar jeritan mereka yang tertindas.

Di hadapan Allah, darah manusia tidak memiliki kewarganegaraan. Dalam kasih-Nya, gereja tidak bergantung pada pemerintah.

Kita boleh menghormati seorang prajurit yang gugur tanpa menyetujui perang yang mengirimnya ke medan tempur. Kita boleh mencintai bangsa sendiri tanpa menganggap bangsa sendiri selalu benar. Kita boleh menghargai jasa seorang pemimpin tanpa mengubahnya menjadi manusia yang tidak mungkin salah. Kita boleh kagum atas bangsa lain tanpa menutup mata atas kesalahan mereka.

Bahkan kasih kepada bangsa sendiri justru menuntut keberanian untuk mengatakan: “Bangsa saya juga bisa salah.”

Yesus membawa kita lebih jauh lagi. Ketika orang bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?”, Ia tidak membatasi sesama kepada kelompok sendiri. Ia menghadirkan seorang Samaria sebagai teladan kasih. Dengan demikian, Yesus meruntuhkan tembok “kita versus mereka”.

Salib Kristus akhirnya menjadi tempat di mana semua kesombongan kelompok dihancurkan. Tidak ada bangsa yang dapat berkata, “Kami lebih baik.” Tidak ada kelompok yang dapat berkata, “Kami tidak membutuhkan pengampunan.” Semua manusia berdiri di hadapan Allah sebagai ciptaan-Nya yang membutuhkan anugerah.

Maka pertanyaan bagi kita bukan hanya, “Siapakah orang atau bangsa yang saya kagumi?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

“Apakah kekaguman saya masih memungkinkan saya melihat kebenaran ketika orang atau bangsa yang saya kagumi ternyata melakukan kejahatan?”

Sebab orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi penggemar manusia, melainkan saksi kebenaran. Kita boleh menghormati manusia, tetapi hanya Allah yang layak menerima penyembahan.

Kiranya kita tidak pernah begitu mencintai “pihak kita” sehingga kehilangan kemampuan untuk menangisi penderitaan “pihak mereka”.

Doa Penutup

Tuhan, lepaskan kami dari kesetiaan buta kepada kelompok, bangsa, pemimpin, atau ideologi kami. Berikan kami keberanian untuk menyebut kejahatan sebagai kejahatan, sekalipun dilakukan oleh pihak yang kami cintai. Ajarlah kami mengasihi tanah air tanpa mengidolakan bangsa, dan mengingat para korban tanpa memelihara kebencian. Biarlah kebenaran-Mu lebih tinggi daripada semua kesetiaan kami. Dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan komentar