Menjalani Masa Kini dan Menyongsong Masa Depan

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”
— Roma 8:18

Ada satu hal yang sangat menghibur bagi orang yang percaya kepada Kristus: kita bukan hanya menjalani kehidupan hari ini, tetapi kita juga tahu bagaimana akhir dari cerita kehidupan kita. Kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi kita mengetahui siapa yang memegang hari esok. Kita mungkin tidak memahami mengapa penderitaan tertentu harus kita alami, tetapi kita tahu bahwa penderitaan itu bukanlah akhir cerita.

Paulus menyebutnya sebagai “penderitaan zaman sekarang”. Ada sesuatu yang penting dalam ungkapan itu. Penderitaan memang nyata, tetapi ia berada dalam batas waktu. Ia bukan keadaan kekal. Sebaliknya, kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita adalah sesuatu yang melampaui kehidupan sekarang. Karena itu Paulus mengatakan bahwa penderitaan sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang.

Kita sering lupa bahwa dunia tempat kita hidup terus berubah. Keadaan yang nyaman hari ini tidak menjamin kenyamanan pada hari esok. Orang yang sehat dapat menjadi sakit. Orang yang berkecukupan dapat mengalami kehilangan. Orang yang kuat dapat menjadi lemah. Bahkan hubungan, pekerjaan, kekayaan, dan berbagai hal yang kita anggap stabil dapat berubah dalam waktu yang singkat.

Kalau hari ini kita sedang menikmati kesehatan, keluarga, pekerjaan, kecukupan, atau ketenangan, respons yang tepat bukanlah kesombongan, melainkan ucapan syukur. Kenyamanan adalah kesempatan untuk melayani, berbagi, dan menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang sedang berada dalam kesulitan.

Sebaliknya, ketika kita sendiri mengalami penderitaan, kita tidak perlu kehilangan pengharapan. Kita boleh menangis. Kita boleh merasa lemah. Kita boleh bertanya kepada Tuhan. Namun kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Keadaan kita dapat berubah, tetapi kesetiaan Tuhan tidak berubah.

Kita mungkin tidak mengetahui apa yang tertulis pada halaman berikutnya. Tetapi kita mengetahui akhir ceritanya: kemuliaan bersama Kristus. Dan kemuliaan itu begitu besar sehingga penderitaan zaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengannya.

Kebenaran ini bukan hanya untuk direnungkan, tetapi untuk dijalani setiap hari.

Pertama, ketika keadaan baik, bersyukurlah tanpa menyombongkan diri. Ketika bangun pagi dalam keadaan sehat, memiliki keluarga, makanan, tempat tinggal, dan berbagai kecukupan, berhentilah sejenak dan akui bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan. Jangan membandingkan berkat kita dengan kekurangan orang lain.

Kedua, ketika melihat orang lain menderita, jangan cepat menghakimi. Kita tidak mengetahui seluruh cerita kehidupan seseorang. Daripada bertanya, “Apa kesalahannya sehingga ia mengalami ini?”, lebih baik bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk menolongnya?” Belas kasihan jauh lebih mencerminkan hati Kristus daripada penghakiman.

Ketiga, ketika menghadapi kesulitan, jangan hanya melihat keadaan hari ini. Bawalah pergumulan itu kepada Tuhan dalam doa dan ingatkan diri sendiri bahwa penderitaan sekarang bersifat sementara. Kita tidak harus memahami semuanya untuk tetap percaya kepada-Nya.

Keempat, gunakan kenyamanan hari ini untuk mempersiapkan hati menghadapi hari esok. Kekayaan, kesehatan, waktu, dan kesempatan yang kita miliki bukanlah milik kita untuk selamanya. Karena itu, gunakanlah semuanya untuk mengasihi Tuhan, melayani sesama, dan melakukan kebaikan selagi masih diberi kesempatan.

Kelima, setiap malam arahkan kembali pandangan kepada tujuan akhir. Tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah hari ini saya hidup hanya untuk kehidupan sekarang, atau saya juga sedang hidup bagi kekekalan?” Pertanyaan sederhana ini dapat menolong kita menata kembali prioritas hidup.

Dengan demikian, kita tidak hidup dalam ketakutan terhadap masa depan, tetapi juga tidak terlena oleh kenyamanan masa kini. Kita menerima hari ini sebagai anugerah, menghadapi penderitaan dengan iman, dan menantikan masa depan dengan pengharapan.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menjalani hari ini dengan syukur dan kerendahan hati. Ketika hidup kami nyaman, jauhkan kami dari kesombongan; ketika kami menderita, teguhkan pengharapan kami. Tolong kami menggunakan setiap kesempatan untuk mengasihi dan melayani, sambil memandang kepada kemuliaan yang Engkau sediakan bersama Kristus. Amin.

Tinggalkan komentar