“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.”
— Markus 6:31

Ada kalanya kita merasa bersalah ketika tidak sedang melakukan sesuatu. Seolah-olah setiap waktu harus diisi dengan pekerjaan, pelayanan, mengurus keluarga, berolahraga, membaca, atau menyelesaikan berbagai persoalan. Bahkan ketika tubuh sudah lelah, pikiran masih terus bekerja. Kita memikirkan apa yang belum selesai, apa yang harus dilakukan besok, dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.
Padahal, Tuhan tidak menciptakan manusia untuk terus bergerak tanpa berhenti.
Dalam Markus 6, para murid baru saja kembali dari pelayanan. Begitu banyak orang datang dan pergi sehingga mereka bahkan tidak sempat makan. Melihat keadaan itu, Yesus tidak berkata, “Kalian harus bekerja lebih keras.” Sebaliknya, Ia berkata, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!”
Betapa sederhananya ajakan itu, tetapi betapa penting maknanya. Yesus mengetahui bahwa manusia mempunyai keterbatasan. Tubuh membutuhkan istirahat, demikian pula pikiran. Ada saatnya kita harus berhenti dari kesibukan dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk dipulihkan.
Istirahat bukan kemalasan.
Kemalasan adalah keengganan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Orang malas menghindari tanggung jawab tanpa tujuan yang baik. Istirahat justru berbeda. Istirahat adalah berhenti dengan tujuan. Kita berhenti bukan karena tidak peduli terhadap tanggung jawab, tetapi karena menyadari bahwa kita bukan mesin.
Tuhan sendiri memberikan pola ini sejak penciptaan. Setelah menyelesaikan pekerjaan penciptaan, Allah berhenti pada hari ketujuh dan menguduskannya (Kejadian 2:2–3). Tentu Allah tidak membutuhkan pemulihan tenaga seperti manusia. Namun, pola yang diberikan-Nya mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari bekerja dan menghasilkan sesuatu. Ada waktunya bekerja, dan ada waktunya berhenti.
Yang sering kita lupakan adalah bahwa pikiran juga membutuhkan istirahat.
Kita mungkin tidak sedang bekerja secara fisik, tetapi pikiran terus berlari. Berita, media sosial, telepon, percakapan, pekerjaan, masalah keluarga, keuangan, kesehatan, dan masa depan dapat memenuhi kepala kita. Akibatnya, tubuh mungkin duduk diam, tetapi pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat.
Karena itu, kita perlu membedakan antara rekreasi dan istirahat mental.
Misalnya, setelah beribadah pada hari Minggu, kita mungkin pergi berjalan-jalan ke mall. Tidak ada yang salah dengan makan bersama keluarga, melihat-lihat toko, atau menikmati suasana. Itu dapat menjadi rekreasi. Namun, mall yang penuh dengan orang, suara, musik, lampu, iklan, percakapan, dan berbagai rangsangan visual belum tentu menjadi tempat untuk mengistirahatkan pikiran. Begitu juga, jika kita tidak berhati-hati acara kumpul-kumpul keluarga di rumah justru bisa membuat lelah mental. Tubuh mungkin tidak bekerja, tetapi pikiran tetap menerima begitu banyak rangsangan. Bagi sebagian orang, setelah berada di tengah keramaian, pikiran justru terasa semakin lelah.
Di sinilah kita melihat bahwa tidak bekerja belum tentu berarti beristirahat.
Rekreasi dapat menyenangkan, tetapi istirahat mental mempunyai tujuan yang berbeda: memberikan kesempatan kepada pikiran untuk mengurangi rangsangan, melepaskan tuntutan, dan menjadi tenang. Karena itu, setelah gereja mungkin ada kalanya kita tidak perlu pergi ke mana-mana. Pulang ke rumah, makan dengan tenang, berbincang dengan pasangan, membaca buku, mendengarkan musik, tidur siang, duduk di teras, atau berjalan santai di tempat yang tenang dapat menjadi bentuk istirahat yang lebih memulihkan.
Yesus mengajak murid-murid-Nya pergi ke tempat yang sunyi. Ia membawa mereka menjauh sejenak dari kerumunan yang terus menuntut perhatian mereka. Ada kalanya jiwa kita memang membutuhkan bukan lebih banyak hiburan, tetapi lebih sedikit rangsangan; bukan lebih banyak suara, tetapi keheningan; bukan lebih banyak aktivitas, tetapi kesempatan untuk berhenti.
Tentu, hidup tidak memungkinkan kita selalu berada dalam keheningan. Ada pekerjaan yang harus dilakukan, keluarga yang harus diperhatikan, dan tanggung jawab yang tidak dapat ditinggalkan. Namun, kita dapat dengan sengaja menyediakan waktu untuk berhenti. Kita dapat mematikan televisi, meletakkan telepon, menjauh sejenak dari media sosial, dan membiarkan pikiran kita tenang.
Dalam keheningan itu, kita belajar mempercayai Tuhan.
Mazmur 46:11 berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Ada hubungan yang dalam antara diam dan iman. Ketika kita berhenti, kita sedang mengakui bahwa kita bukan penguasa atas segala sesuatu. Kita tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Kita tidak harus mengendalikan semua keadaan. Tuhan tetap bekerja ketika kita berhenti bekerja.
Hari Minggu karena itu dapat menjadi kesempatan untuk memperlambat langkah. Kita beribadah, menikmati keluarga, berbicara dengan orang yang kita kasihi, membaca firman Tuhan, dan menyediakan ruang bagi jiwa untuk bernapas.
Jangan merasa bersalah ketika Tuhan mengundang kita untuk beristirahat. Kita berhenti bukan karena hidup kita tidak penting. Kita berhenti justru karena kita tahu bahwa hidup kita ada dalam tangan-Nya.
Istirahat adalah berhenti dengan tujuan: berhenti sejenak agar tubuh dipulihkan, pikiran ditenangkan, hati disegarkan, dan iman kembali diarahkan kepada Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami mengetahui kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti. Tenangkan pikiran kami dari segala kekhawatiran dan kesibukan yang tidak perlu. Ajarlah kami menikmati keheningan dan mempercayakan segala sesuatu ke dalam tangan-Mu. Kiranya dalam istirahat kami, kami semakin menyadari bahwa Engkau tetap memelihara kami. Dalam nama Yesus. Amin.