“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
— Matius 19:6

Ketika kita masih muda dan baru menikah, kehidupan kita sering berpusat pada membangun rumah tangga. Kemudian anak-anak lahir. Perlahan-lahan perhatian kita banyak tercurah kepada mereka. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, mengantar mereka ke sekolah, mendampingi mereka bertumbuh, dan berusaha memberikan yang terbaik bagi masa depan mereka.
Tetapi waktu terus berjalan. Anak-anak menjadi dewasa. Mereka menikah, mempunyai rumah sendiri, dan membangun keluarga mereka. Kemudian lahirlah cucu-cucu yang membawa sukacita baru. Pada tahap kehidupan ini, kita perlu kembali mengingat sebuah kebenaran penting: anak-anak dan cucu-cucu adalah bagian dari kehidupan kita, tetapi mereka bukan pusat kehidupan pernikahan kita.
Yesus berkata, “Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” Kesatuan suami istri bukan hanya kesatuan secara lahiriah karena tinggal dalam satu rumah. Ada juga kesatuan batiniah: berbagi kehidupan, pergumulan, kegembiraan, kekhawatiran, keputusan, kenangan, dan harapan. Suami dan istri menjadi teman seperjalanan yang paling dekat dalam kehidupan ini.
“Sehati dan sepikir” tidak berarti selalu mempunyai pendapat yang sama. Suami dan istri tetap dua pribadi yang berbeda. Namun mereka belajar untuk mempunyai arah yang sama, mencari kehendak Tuhan yang sama, dan saling menyesuaikan diri dalam kasih. Bahkan ketika terjadi perbedaan, mereka tetap dapat berkata, “Kita akan menghadapi ini bersama.”
Hal ini berbeda dengan hubungan kita dengan anak-anak dan cucu-cucu. Kita dapat sangat mengasihi mereka, tetapi mereka mempunyai kehidupan mereka sendiri. Anak-anak dewasa mempunyai pasangan, pekerjaan, rumah tangga, dan tanggung jawab sendiri. Cucu-cucu bahkan berada satu generasi lebih jauh. Kita dapat membantu mereka, mendoakan mereka, memberikan nasihat, bahkan menyediakan waktu dan tenaga bagi mereka. Namun kita tidak dipanggil untuk menggantikan peran orang tua mereka.
Karena itu, kehidupan keluarga membutuhkan batas yang sehat: anak-anak dewasa didukung, tetapi tidak diambil alih; cucu-cucu diberkati, tetapi tidak dijadikan pusat kehidupan.
Batas yang sehat dapat terlihat dalam hal-hal sederhana. Misalnya, kita membantu anak ketika mereka benar-benar membutuhkan, tetapi tidak merasa harus menyelesaikan setiap masalah mereka. Kita boleh memberikan nasihat, tetapi tidak memaksakan keputusan ketika mereka memilih jalan yang berbeda. Kita dapat membantu secara finansial bila mampu, tetapi tidak sampai mengorbankan kebutuhan dan masa depan rumah tangga kita sendiri.
Demikian juga dengan cucu. Kita boleh dengan sukacita menjaga mereka sesekali, tetapi tidak menganggap bahwa kita selalu harus tersedia setiap kali orang tua mereka membutuhkan pengasuhan. Kita dapat memberikan hadiah, tetapi tidak merasa harus memenuhi setiap keinginan mereka. Kita boleh menyampaikan nilai-nilai iman dan kehidupan, tetapi tetap menghormati tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.
Batas yang sehat bukan berarti berkata, “Itu bukan urusan saya.” Sebaliknya, kita berkata, “Saya mengasihi dan akan membantu sejauh yang menjadi bagian saya, tetapi saya tidak akan mengambil alih apa yang menjadi tanggung jawabmu.”
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan ketika memasuki usia lanjut: Siapakah yang paling kita rindukan ketika ia tidak ada di sisi kita?
Tentu kita dapat merindukan anak dan cucu. Kita dapat merasa bahagia ketika mereka datang berkunjung dan merasa sedih ketika mereka pulang. Tetapi seharusnya ada kesepian yang lebih dalam ketika kita jauh dari pasangan. Sebab pasangan bukan sekadar seseorang yang kita cintai. Ia adalah orang yang telah Allah berikan untuk berjalan bersama kita dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, janganlah kesepian karena jauh dari pasangan selalu kita atasi dengan mengejar kedekatan dengan anak dan cucu. Menikmati kebersamaan dengan mereka adalah berkat, tetapi jangan sampai kebersamaan itu menggantikan hubungan yang telah Allah persatukan.
Prioritas kehidupan dapat kita gambarkan demikian: Tuhan adalah sumber kebijaksanaan; pasangan adalah teman hidup seumur hidup; anak-anak dewasa adalah generasi kedua yang kita dukung dalam batas; dan cucu adalah generasi ketiga yang kita berkati melalui kasih, teladan, doa, dan warisan iman.
Ini bukan berarti kita lebih mengasihi pasangan daripada anak dan cucu. Ini berarti setiap hubungan mempunyai tempat dan tanggung jawab yang berbeda.
Bahkan dengan menjaga pernikahan kita tetap sehat, kita sedang memberikan hadiah yang sangat berharga kepada anak-anak dan cucu-cucu. Mereka dapat melihat bahwa pernikahan bukan hanya sarana untuk membesarkan anak, melainkan sebuah persekutuan seumur hidup yang layak dipelihara sampai akhir.
Keluarga modern yang sehat menemukan bahwa pasangan tetap menjadi inti hubungan setelah anak-anak dewasa. Kekristenan memberikan alasan yang lebih dalam: karena sejak awal Allah sendiri yang mempersatukan suami dan istri menjadi satu.
Kiranya pada masa tua kita tidak menjadi semakin bergantung kepada anak dan cucu untuk mengisi kekosongan hidup, melainkan semakin menikmati karunia Tuhan dalam berjalan bersama pasangan. Kita boleh memberkati generasi berikutnya tanpa kehilangan kebersamaan dengan orang yang sejak awal telah Allah persatukan dengan kita.
Sebab pada akhirnya, anak-anak akan menjalani kehidupan mereka sendiri, cucu-cucu akan tumbuh dewasa, tetapi suami dan istri tetap dipanggil untuk berjalan bersama—dua pribadi yang telah dipersatukan Allah menjadi satu.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami memahami dan menjaga prioritas dalam kehidupan keluarga. Berikan kami hikmat untuk mengasihi anak dan cucu dengan cara yang benar, tanpa mengabaikan pasangan yang telah Engkau persatukan dengan kami. Tolong kami menikmati kebersamaan dengan pasangan sampai akhir perjalanan hidup, dan menjadikan kehidupan kami berdua sebagai kesaksian tentang kasih dan kesetiaan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.