“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
— Matius 22:39

Hubungan antar manusia sering kita anggap seperti sesuatu yang seharusnya berjalan dengan sendirinya. Setelah menikah, kita berharap hubungan suami istri akan tetap baik. Setelah mempunyai anak, kita berharap hubungan orang tua dan anak akan selalu dekat. Dalam persahabatan pun kita berharap kedekatan yang dahulu pernah ada akan bertahan begitu saja. Namun kehidupan tidak pernah berhenti berubah. Karena itu, hubungan yang sehat bukanlah keseimbangan yang sekali tercapai lalu dapat dibiarkan berjalan dengan sendirinya. Hubungan yang sehat adalah keseimbangan yang dinamis.
Dua orang dapat saling mengasihi dengan tulus, tetapi kebutuhan, kemampuan, keadaan, dan tanggung jawab mereka dapat berubah. Ketika masih muda, mungkin kita mempunyai tenaga besar, sedang membangun karier, membesarkan anak, dan mengejar berbagai cita-cita. Ketika memasuki usia lanjut, prioritas dapat berubah. Tubuh menjadi lebih terbatas, pekerjaan berkurang, anak-anak telah dewasa, dan kenyataan tentang kehidupan yang sementara menjadi semakin nyata. Hubungan yang dahulu cocok dengan keadaan lima atau dua puluh tahun yang lalu mungkin membutuhkan penyesuaian kembali.
Karena itu, kasih membutuhkan kalibrasi (penyesuaian) bersama. Kita perlu belajar memperhatikan: Apakah orang yang saya kasihi masih membutuhkan hal yang sama? Apakah kemampuan saya masih sama? Apakah ada sesuatu yang perlu saya kurangi atau tambahkan? Apakah saya masih mendengarkan, atau hanya mengharapkan orang lain memahami saya?
Namun bagi orang percaya, perubahan dalam relasi mempunyai dimensi yang lebih dalam. Kita bukan hanya sedang belajar mempertahankan hubungan; kita sedang berada dalam proses pengudusan atau sanctification. Setelah diselamatkan oleh anugerah Allah, kehidupan kita tidak berhenti di sana. Roh Kudus terus membentuk kita semakin menyerupai Kristus. Karena itu, setiap hubungan dapat menjadi salah satu tempat Allah menyatakan kelemahan kita sekaligus mengajar kita bertumbuh dalam kasih.
Sering kali kita baru menyadari betapa egoisnya kita ketika hidup bersama orang lain. Kita menemukan bahwa kita mudah tersinggung, sulit mengampuni, ingin selalu mendapatkan apa yang kita kehendaki, atau merasa pengorbanan kita tidak dihargai. Semua itu dapat menjadi cermin bagi hati kita. Masalah dalam hubungan tidak selalu semata-mata masalah pada orang lain; kadang Allah menggunakannya untuk memperlihatkan sesuatu dalam diri kita yang masih perlu dikuduskan.
Tetapi pengudusan tidak berarti bahwa kita harus mempertahankan setiap hubungan dengan cara apa pun. Kasih Kristen mempunyai batas.
Ada perbedaan antara hubungan yang sedang mengalami konflik dan hubungan yang secara terus-menerus menjadi tempat kekerasan, ancaman, manipulasi, penghinaan, eksploitasi, atau kontrol yang merusak. Konflik membutuhkan rekonsiliasi, komunikasi, pengampunan, dan perubahan. Tetapi relasi yang berbahaya membutuhkan batas, perlindungan, dan kadang-kadang jarak.
Mengampuni seseorang tidak berarti kita harus kembali menempatkan diri dalam situasi yang memungkinkan orang itu terus menyakiti kita. Memahami kelemahan seseorang tidak berarti kita harus membiarkan perilakunya yang merusak. Mengasihi bukan berarti menjadi sasaran kekerasan tanpa batas. Bahkan ketika kita berdoa bagi seseorang yang menyakiti kita, kita tetap dapat mengambil langkah untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.
Ini sangat penting dalam kehidupan Kristen karena kadang-kadang seseorang menggunakan kata pengorbanan untuk membenarkan hubungan yang tidak sehat. Ia berkata, “Saya harus bertahan karena saya orang Kristen.” Tetapi salib Kristus bukanlah perintah untuk membiarkan manusia lain menyalahgunakan kita. Pengorbanan Kristen berarti memberikan diri dalam ketaatan kepada Allah, bukan menyerahkan diri untuk dieksploitasi oleh manusia.
Dalam relasi yang sehat, batas dapat dibicarakan dan dihormati. Dalam relasi yang berbahaya, batas justru mungkin diperlukan untuk menciptakan keselamatan. Kita dapat berkata, “Saya mengasihi Anda, tetapi saya tidak akan menerima kekerasan.” Kita dapat berkata, “Saya bersedia berbicara ketika kita dapat melakukannya dengan hormat.” Kita dapat berkata, “Saya tidak dapat terus memenuhi tuntutan ini.” Dan jika seseorang terus melanggar batas tersebut, kita mungkin perlu mengambil jarak atau mencari pertolongan dari orang lain yang dapat membantu.
Ini bukan berarti setiap ketidaksepakatan adalah hubungan berbahaya. Orang yang berbeda pendapat dengan kita, mengecewakan kita, atau sesekali bersikap egois tidak otomatis menjadi orang yang harus kita jauhi. Kita sendiri pun masih dalam proses pengudusan dan dapat melakukan kesalahan. Kasih memberi ruang bagi pertobatan, pertumbuhan, dan pengampunan.
Tetapi kasih juga membutuhkan kebenaran. Pengampunan tanpa pertobatan tidak selalu berarti pemulihan kepercayaan. Rekonsiliasi membutuhkan perubahan yang nyata, terutama ketika kerusakan yang terjadi berulang kali. Kepercayaan dapat dibangun kembali secara bertahap; itu tidak selalu harus diberikan kembali seketika hanya karena seseorang berkata, “Maaf.”
Karena itu, kasih dan batas harus berjalan bersama. Kasih bertanya, “Apa yang baik bagi orang lain?” Batas bertanya, “Apa yang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang bukan?” Keduanya diperlukan agar hubungan tidak berubah menjadi eksploitasi di satu pihak atau egoisme di pihak lain.
Hal ini berlaku dalam pernikahan, keluarga, persahabatan, maupun gereja. Orang tua dapat mengasihi anak tanpa terus-menerus mengambil alih kehidupan anak yang telah dewasa. Anak dapat mengasihi orang tua yang lanjut usia tanpa menganggap bahwa seluruh kehidupannya harus dikorbankan. Suami dan istri dapat saling melayani tanpa menjadikan salah satu pihak sebagai pelayan permanen bagi pihak yang lain.
Pada usia lanjut, dinamika ini mungkin menjadi semakin jelas. Suami dan istri yang dahulu bersama-sama membangun kehidupan kini menghadapi kerentanan dan penuaan bersama. Kemampuan fisik berubah. Ketergantungan mungkin meningkat. Karena itu, keseimbangan perlu terus dikalibrasi. Kadang salah satu lebih banyak memberi; pada waktu lain ia sendiri membutuhkan pertolongan. Yang penting bukan pembagian yang selalu sama, melainkan saling memperhatikan agar tidak ada pihak yang terus-menerus terkuras.
Dan pengudusan tidak berhenti karena usia bertambah. Selama kita masih hidup, Allah masih membentuk kita. Bahkan keterbatasan tubuh, kehilangan, perubahan peran, dan semakin dekatnya kematian dapat menjadi bagian dari sekolah iman. Kita masih belajar mengasihi, belajar menerima pertolongan, belajar melepaskan, belajar berkata tidak, belajar mengampuni, dan belajar bergantung kepada Tuhan.
Maka sesekali kita perlu bertanya: Apakah cara saya mengasihi benar-benar kasih? Apakah saya sedang melayani dengan sukacita atau karena rasa bersalah? Apakah saya sedang berkorban karena kasih, atau karena takut kehilangan penerimaan orang lain? Apakah saya sedang mengampuni, tetapi tetap membutuhkan batas? Apakah hubungan ini sedang mengalami konflik yang dapat diperbaiki, atau sudah menjadi relasi yang membahayakan?
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang selalu seimbang setiap hari. Ada musim ketika kita memberi lebih banyak dan ada musim ketika kita menerima lebih banyak. Yang penting adalah adanya perhatian timbal balik, penghormatan terhadap batas, dan kesediaan untuk terus berubah.
Sebab tujuan akhir kehidupan Kristen bukanlah memiliki semua hubungan yang sempurna, melainkan menjadi semakin serupa dengan Kristus di tengah hubungan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Kita diselamatkan oleh anugerah, dan oleh anugerah yang sama kita terus dikuduskan. Karena itu, setiap perubahan dalam relasi dapat menjadi kesempatan untuk belajar mengasihi dengan lebih dewasa: berkorban tanpa membiarkan diri dieksploitasi, mengampuni tanpa menyangkal kenyataan, menetapkan batas tanpa membenci, dan melayani tanpa kehilangan kebebasan yang Tuhan berikan.
Kasih bukan berarti tidak memiliki batas. Kasih yang dewasa justru tahu kapan harus memberi, kapan harus menerima, kapan harus berkorban, kapan harus mengampuni, dan kapan harus berkata, “Sampai di sini.”
Dalam relasi yang aman, batas membantu kasih bertumbuh. Dalam relasi yang berbahaya, batas dapat menjadi bentuk kasih terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain yang mungkin juga menjadi korban. Dan dalam keduanya, kita tetap belajar berjalan di hadapan Tuhan, karena pengudusan adalah perjalanan seumur hidup.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami mengasihi seperti Kristus. Berikan kami hati yang rela berkorban, tetapi juga hikmat untuk mengenali batas yang sehat. Tolong kami mengampuni tanpa membenarkan kejahatan, mengasihi tanpa membiarkan diri dieksploitasi, dan berani mengambil jarak ketika keselamatan dan martabat terancam. Gunakan setiap relasi untuk terus menguduskan kami, supaya kami semakin serupa dengan Kristus. Amin.