Bolehkah Saya Menikmati Kehidupan Selama di Dunia?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas.”
— Yakobus 1:17

Pernahkah kita merasa bersalah ketika menikmati kehidupan? Ketika menikmati makanan yang enak, bepergian ke tempat yang indah, duduk santai bersama orang yang kita kasihi, menikmati musik, membeli sesuatu yang kita sukai, atau sekadar menikmati hari yang tenang? Bukankah ada kalanya kita berpikir, “Bukankah sebagai orang Kristen seharusnya saya lebih banyak memikirkan perkara-perkara rohani?”

Pertanyaan itu penting. Tetapi kita juga perlu berhati-hati agar tidak menganggap bahwa segala sesuatu yang menyenangkan pasti tidak rohani.

Allah menciptakan dunia dengan keindahan. Ia memberikan kepada manusia kemampuan untuk melihat, mendengar, mencicipi, menyentuh, mengasihi, tertawa, dan menikmati. Alkitab sendiri mengatakan bahwa Allah memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Yakobus mengingatkan bahwa setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas.

Jadi, menikmati kehidupan bukanlah dosa.

Yang perlu kita waspadai adalah ketika pemberian menggantikan Sang Pemberi.

Makanan adalah pemberian yang baik, tetapi makanan tidak boleh menjadi sumber kebahagiaan yang utama. Uang dapat memberikan kenyamanan, tetapi uang tidak boleh menjadi tempat kita menggantungkan rasa aman. Keluarga adalah berkat yang besar, tetapi kita tidak boleh menuntut keluarga memenuhi seluruh kebutuhan jiwa kita. Perjalanan, hiburan, keberhasilan, kesehatan, dan berbagai kenyamanan hidup boleh dinikmati, tetapi semuanya bersifat sementara.

Di sinilah kita menemukan perbedaan antara menikmati kehidupan dan hidup untuk kenikmatan.

Hedonisme dunia berkata, “Carilah sebanyak mungkin kesenangan selama masih hidup.”

Tetapi Hedonisme Kristen berkata sesuatu yang berbeda: “Nikmatilah pemberian Allah, tetapi temukan sukacita terdalam di dalam Allah sendiri.”

Kita tidak perlu menjadi seperti seorang Stoik yang berusaha tidak membutuhkan apa pun. Kita juga tidak perlu menjadi seorang hedonis yang harus mendapatkan apa pun yang menyenangkan hatinya. Kita dapat belajar untuk menerima keadaan dengan tenang, tetapi sekaligus menikmati pemberian Tuhan dengan penuh syukur.

Paulus memberikan gambaran yang indah. Ia pernah mengalami kelimpahan dan kekurangan, kenyang dan lapar. Ia belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Namun kecukupannya bukan karena ia kuat mengendalikan dirinya. Ia berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Inilah perbedaan yang mendasar.

Bukan, “Saya cukup kuat sehingga tidak membutuhkan kenikmatan.”

Melainkan, “Saya dapat menikmati kenikmatan tanpa diperbudak olehnya, karena sumber sukacita saya adalah Tuhan.”

Karena itu, ketika kita menikmati secangkir kopi, kita dapat bersyukur. Ketika menikmati perjalanan bersama pasangan, kita dapat bersyukur. Ketika tertawa bersama anak dan cucu, kita dapat bersyukur. Ketika menikmati makanan yang lezat, pemandangan yang indah, musik yang menyenangkan, atau sore yang tenang, kita tidak perlu merasa bersalah.

Kita hanya perlu mengingat dari mana semuanya datang.

Semua itu adalah pemberian, bukan Allah itu sendiri.

Dan justru karena kita tahu bahwa pemberian itu berasal dari Allah, kita dapat menikmatinya dengan cara yang benar. Kita tidak menggenggamnya seolah-olah harus memilikinya selamanya. Kita menerimanya dengan syukur, menikmatinya dengan sukacita, dan melepaskannya ketika Tuhan menghendaki.

Suatu hari, banyak hal yang sekarang kita nikmati akan hilang. Kekuatan tubuh berkurang. Kesempatan bepergian mungkin semakin terbatas. Orang-orang yang kita kasihi dapat meninggalkan kita lebih dahulu. Bahkan kehidupan duniawi kita sendiri akan berakhir.

Tetapi ada satu yang tidak berubah: Tuhan yang memberikan semuanya itu.

Maka bolehkah saya menikmati kehidupan selama masih di dunia?

Ya. Nikmatilah.

Tetapi nikmatilah sebagai seorang anak yang menerima pemberian dari Bapanya, bukan sebagai seorang manusia yang berusaha menemukan surga di dalam dunia.

Sebab kenikmatan terbesar bukanlah memiliki semua pemberian Tuhan.

Kenikmatan terbesar adalah memiliki Tuhan, Sang Pemberi, untuk selama-lamanya.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk setiap pemberian baik yang Engkau berikan dalam kehidupan kami. Ajarlah kami menikmatinya dengan penuh syukur tanpa diperbudak olehnya. Tolong kami menikmati ciptaan-Mu tanpa melupakan Sang Pencipta, dan menemukan sukacita terdalam bukan dalam apa yang kami miliki, melainkan di dalam Engkau. Amin.

Tinggalkan komentar