Siapa dan Apa yang Bisa Kita Percaya?

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
— 1 Tesalonika 5:21

Kita hidup dalam zaman ketika begitu banyak orang berbicara kepada kita. Pemerintah memberikan informasi, para ilmuwan menyampaikan penelitian, dokter memberikan nasihat, perusahaan mempromosikan produknya, gereja menyampaikan pengajaran, dan media sosial menyebarkan berbagai pendapat dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang sederhana tetapi penting: siapa dan apa yang dapat kita percaya?

Sebagai orang percaya, kita memang dipanggil untuk berhati-hati. Manusia bukan makhluk yang sempurna. Pemerintah dapat melakukan kesalahan, perusahaan dapat mengejar keuntungan, ilmuwan dapat keliru, bahkan pemimpin gereja pun dapat memiliki kepentingan dan kelemahan pribadi. Karena itu, menerima sesuatu hanya karena dikatakan oleh seseorang yang memiliki jabatan, gelar, reputasi, atau banyak pengikut bukanlah bentuk hikmat.

Namun, kehati-hatian tidak sama dengan kecurigaan terhadap segala sesuatu. Seorang ilmuwan yang bukan Kristen dapat menemukan sesuatu yang benar tentang dunia ciptaan Tuhan. Sebaliknya, seorang Kristen pun dapat keliru, bahkan ketika ia berbicara dengan penuh keyakinan dan mengutip Alkitab. Karena itu, siapa yang berbicara memang perlu diperhatikan, tetapi apa yang dikatakannya tetap harus diuji.

Lalu, bagaimana kita menguji sebuah informasi? Kita dapat memulainya dengan bertanya: siapa sumbernya dan apa buktinya? Apakah ia benar-benar memahami bidang yang dibicarakannya? Apakah ada data atau penelitian yang dapat diperiksa? Bagaimana data itu diperoleh? Setelah itu, kita tidak berhenti pada satu sumber, tetapi membandingkannya dengan sumber lain yang independen. Kita bertanya apakah orang atau lembaga lain yang tidak mempunyai kepentingan yang sama memperoleh kesimpulan yang serupa.

Pada saat yang sama, kita perlu memperhatikan kemungkinan adanya kepentingan di balik informasi tersebut. Perusahaan mungkin mempunyai kepentingan komersial, pemerintah kepentingan politik, dan media kepentingan untuk menarik perhatian. Tetapi adanya kepentingan tidak otomatis membuat suatu informasi salah. Itu hanya alasan untuk memeriksanya dengan lebih teliti. Kita juga harus membedakan antara fakta, penafsiran, dan dugaan. Pernyataan bahwa dua hal berhubungan tidak selalu berarti bahwa yang satu menyebabkan yang lain. Sesuatu yang sedang diteliti belum tentu sudah terbukti.

Yang tidak kalah penting adalah kesediaan untuk mendengarkan keberatan terhadap pendapat kita sendiri. Kita sering mencari informasi bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk membuktikan bahwa kita sudah benar. Padahal, menguji berarti bersedia bertanya, “Bagaimana kalau saya keliru?” Kita bahkan perlu menerima kemungkinan bahwa setelah semua pemeriksaan dilakukan, bukti yang tersedia belum cukup untuk menghasilkan kesimpulan yang pasti. Mengatakan “saya belum tahu” kadang-kadang justru merupakan bentuk kejujuran dan hikmat.

Hal ini dapat diterapkan dalam banyak bidang kehidupan. Dalam kesehatan, kita dapat memeriksa penelitian serta manfaat dan risikonya. Dalam investasi, kita dapat memeriksa data sebelum mempercayai janji keuntungan. Dalam berita, kita dapat mencari sumber asli sebelum meneruskan sebuah cerita. Dalam ilmu pengetahuan, kita dapat membedakan temuan yang sudah kuat dari hipotesis yang masih diperdebatkan. Bahkan dalam khotbah dan pengajaran Kristen, kita perlu bertanya apakah penafsiran yang diberikan sungguh sesuai dengan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.

Vaksin hanyalah salah satu contoh. Kita boleh bertanya tentang keamanan, efektivitas, manfaat dan risiko, kualitas penelitian, serta kemungkinan konflik kepentingan. Tetapi kita juga harus berhati-hati agar pertanyaan yang sehat tidak berubah menjadi kesimpulan tanpa bukti. Jika seseorang mengatakan bahwa suatu vaksin menggunakan informasi genetik, misalnya, kita perlu bertanya lebih jauh: informasi genetik dalam bentuk apa, bagaimana cara kerjanya, dan apakah ada bukti bahwa informasi tersebut mengubah DNA manusia? Jangan berhenti pada satu istilah yang terdengar menakutkan.

Di sinilah perkataan Paulus menjadi sangat relevan: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Paulus tidak mengatakan, “Percayalah segala sesuatu.” Ia juga tidak mengatakan, “Curigailah segala sesuatu.” Kita diperintahkan untuk menguji, kemudian memegang yang baik.

Jemaat di Berea memberikan teladan yang indah. Mereka mendengarkan pengajaran Paulus, tetapi kemudian memeriksa Kitab Suci untuk melihat apakah yang dikatakannya benar (Kisah Para Rasul 17:11). Mereka tidak menolak Paulus hanya karena harus menguji perkataannya, tetapi juga tidak menerimanya secara membabi buta.

Iman Kristen bukanlah ketakutan terhadap pertanyaan. Iman yang sehat tidak takut diuji, karena kebenaran tidak perlu takut terhadap pemeriksaan.

Pada akhirnya, kita tidak menaruh kepercayaan mutlak kepada ilmuwan, dokter, pemerintah, perusahaan, pendeta, media, ataupun diri kita sendiri. Kepercayaan mutlak hanya kepada Tuhan. Manusia dapat salah; Tuhan tidak.

Karena itu, pertanyaan kita bukan sekadar, “Siapa yang mengatakan ini?” tetapi juga, “Apa buktinya, bagaimana kita mengetahuinya, apakah sumber lain yang independen menguatkannya, dan apakah kesimpulannya benar-benar mengikuti bukti?”

Kiranya kita menjadi orang percaya yang tidak mudah ditipu, tetapi juga tidak mudah mencurigai; tidak naif, tetapi juga tidak sinis. Kita menguji dengan akal budi yang Tuhan berikan, dengan kejujuran, kerendahan hati, dan—dalam perkara iman—dengan terang firman-Nya.

Ujilah segala sesuatu. Peganglah yang baik. Dan di atas semuanya, tetaplah percaya kepada Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan, berikanlah kami hikmat dan kejujuran untuk menguji setiap informasi yang kami terima. Tolong kami membedakan fakta dari dugaan, bukti dari opini, dan kebenaran dari penyesatan. Jauhkan kami dari sikap mudah percaya maupun kecurigaan yang berlebihan. Berikan kami kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan keberanian untuk memegang apa yang benar. Di atas segala sesuatu, biarlah kepercayaan kami tetap tertuju kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Tinggalkan komentar