“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;”
— Matius 25:35
“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
— Matius 6:18

Kita hidup di dunia yang sangat menghargai sesuatu yang dapat dilihat. Pekerjaan yang berhasil, prestasi yang dicapai, pelayanan yang mendapat penghargaan, bahkan kebaikan yang diketahui banyak orang sering membuat kita merasa bahwa apa yang kita lakukan mempunyai nilai. Tidak ada yang salah dengan penghargaan manusia. Ucapan terima kasih dapat menguatkan hati dan membuat seseorang merasa bahwa pengorbanannya tidak sia-sia. Tetapi ada bahaya ketika penghargaan manusia menjadi alasan utama kita melayani.
Namun sebelum berbicara tentang pelayanan, kita perlu mengingat satu kebenaran yang paling mendasar: pelayanan bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan atau memperoleh perkenanan Allah. Anugerah Allah adalah dasar pelayanan kita.
Kita tidak melayani supaya Tuhan mengasihi kita. Kita melayani karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita tidak berbuat baik supaya mendapatkan keselamatan. Kita berbuat baik karena di dalam Kristus kita telah menerima keselamatan sebagai anugerah. Kita tidak bekerja untuk membayar utang keselamatan kepada Allah, sebab utang itu tidak mungkin kita bayar. Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan bagi kita.
Karena itu, pelayanan Kristen adalah respons syukur terhadap anugerah. Iman menerima apa yang Allah kerjakan bagi kita di dalam Kristus, dan kasih kemudian mengalir keluar melalui kehidupan kita. Pelayanan bukan akar keselamatan, melainkan salah satu buahnya.
Selama orang lain menghargai kita, pelayanan mungkin terasa menyenangkan. Kita merasa dibutuhkan dan berguna. Mungkin kita juga merasa bangga. Namun ketika pelayanan kita dianggap biasa, tidak diperhatikan, atau bahkan tidak dihargai, semangat kita dapat perlahan-lahan menghilang. Kita mulai berpikir, “Untuk apa saya melakukan semua ini kalau tidak ada yang menghargainya?”
Di sinilah Yesus mengarahkan pandangan kita kepada sesuatu yang lebih dalam. Dalam Matius 25, Yesus menggambarkan orang-orang yang memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, menerima orang asing, memberi pakaian kepada yang membutuhkan, dan mengunjungi orang sakit. Yang mengejutkan adalah perkataan-Nya: ketika mereka melakukan semuanya itu kepada manusia yang membutuhkan, sebenarnya mereka melakukannya kepada Kristus sendiri.
Tuhan yang kita layani tidak selalu kelihatan. Kita tidak melihat wajah Kristus ketika memberi makanan kepada seseorang. Kita tidak mendengar suara-Nya ketika menemani orang sakit. Kita mungkin tidak melihat Dia ketika mengunjungi seseorang yang kesepian, membantu orang yang lemah, atau melakukan pekerjaan kecil yang tidak diketahui siapa pun. Namun iman membuat kita percaya bahwa Kristus hadir dan melihat.
Karena itu, kita dipanggil untuk berbuat baik kepada semua orang. Kasih Kristen tidak boleh dibatasi oleh suku, bangsa, agama, status sosial, atau apakah seseorang dapat membalas kebaikan kita. Orang lapar tetap perlu diberi makan, orang sakit tetap perlu dikunjungi, dan orang yang kesepian tetap membutuhkan perhatian, siapa pun mereka.
Namun Alkitab juga memberikan suatu prioritas. Paulus berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6:10). Jadi kasih kita bersifat luas, tetapi tidak berarti tanpa prioritas. Semua orang adalah sesama yang harus kita kasihi, tetapi saudara seiman mempunyai tempat khusus dalam kehidupan komunitas umat Tuhan. Lebih dari itu, pasangan hidup kita menempati prioritas teratas di antara saudara seiman.
Saudara seiman adalah keluarga rohani yang dipersatukan oleh Kristus. Ketika seorang saudara sakit, mengalami kesulitan, menjadi lanjut usia, atau menghadapi kesepian, gereja dan sesama orang percaya dipanggil untuk tidak membiarkannya menghadapi semuanya seorang diri. Di dalam keluarga, pasangan kita adalah orang yang sudah dipersatukan Tuhan dengan kita untuk saling mengasihi sepanjang hidup di dunia. Di dalam keluarga Allah, kasih seharusnya menjadi nyata melalui perhatian dan pelayanan.
Namun melayani Tuhan bukan berarti kita harus melakukan segala sesuatu bagi semua orang. Kasih membutuhkan hikmat. Kita mempunyai keterbatasan waktu, tenaga, kesehatan, dan tanggung jawab. Melayani bukan berarti mengambil alih kehidupan orang lain atau mengorbankan diri tanpa batas. Kita menolong sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan dan menyerahkan hal-hal yang berada di luar kemampuan kita kepada Tuhan dan kepada orang-orang yang lebih mampu menanganinya.
Yang terutama adalah jangan sampai keterbatasan kita menjadi alasan untuk tidak peduli. Ketika Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang yang membutuhkan pertolongan, mungkin itulah kesempatan yang Dia berikan kepada kita untuk menyatakan kasih-Nya.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah, “Apakah mereka menghargai saya?” melainkan, “Apakah Tuhan berkenan kepada apa yang saya lakukan?”
Manusia mungkin tidak melihat. Manusia mungkin lupa. Manusia mungkin tidak mengucapkan terima kasih. Tetapi Tuhan melihat. Dan ketika kita melayani dengan kasih yang lahir dari iman, kita sebenarnya sedang melayani Dia yang tidak kelihatan.
Kiranya kita belajar berbuat baik kepada semua orang, dengan perhatian khusus kepada saudara seiman, bukan untuk mendapatkan anugerah, melainkan karena kita telah menerima anugerah. Kita melayani bukan untuk membuat diri kita layak di hadapan Allah, tetapi karena di dalam Kristus kita telah diterima oleh-Nya. Anugerah yang kita terima dengan cuma-cuma itulah yang kemudian mendorong kita untuk mengasihi dan melayani dengan cuma-cuma.
Sebab pelayanan yang sejati tidak mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Ia dengan sederhana berkata, “Tuhan, semua yang ada padaku adalah anugerah-Mu. Karena Engkau telah lebih dahulu mengasihi aku, biarlah hidupku menjadi saluran kasih-Mu bagi orang lain.”
Doa Penutup
Tuhan, kami bersyukur karena keselamatan dan segala yang kami miliki adalah anugerah-Mu. Ampunilah kami apabila kami pernah melayani untuk mencari penghargaan, pengakuan, atau merasa diri berjasa di hadapan-Mu.
Ajarlah kami melayani bukan untuk mendapatkan kasih-Mu, tetapi karena kami telah terlebih dahulu menerima kasih-Mu di dalam Kristus. Berikan kami hati yang rela berbuat baik kepada semua orang, dan perhatian yang khusus kepada saudara-saudara seiman yang membutuhkan pertolongan.
Berikan kami mata untuk melihat kebutuhan orang lain, hati yang rela menolong, dan hikmat untuk mengetahui batas kemampuan kami. Ketika pelayanan kami tidak dilihat atau dihargai manusia, ingatkan kami bahwa Engkau melihat segala sesuatu yang tersembunyi.
Biarlah anugerah-Mu yang kami terima menjadi sumber kasih, kerendahan hati, dan pelayanan kami. Pakailah hidup kami untuk menyatakan kasih Kristus kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa. Amin.