“Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
— Yeremia 17:7

Ada penderitaan yang mudah kita ceritakan kepada orang lain. Tetapi ada juga penderitaan yang kita simpan dalam-dalam. Bukan karena kita tidak membutuhkan pertolongan, melainkan karena kita sadar bahwa manusia mempunyai banyak keterbatasan.
Kita tidak dapat berharap setiap orang akan mengerti penderitaan kita. Pengalaman hidup mereka berbeda dengan pengalaman kita. Bahkan orang yang sangat dekat dengan kita, seperti pasangan hidup kita, mungkin hanya dapat memahami sebagian dari apa yang sedang kita rasakan.
Kalaupun mereka mengerti, kita tidak dapat selalu berharap mereka mempunyai empati. Mengetahui bahwa seseorang sedang menderita tidak otomatis membuat seseorang mampu merasakan kepedihan orang itu.
Kalaupun mereka berempati, kita tidak dapat memastikan mereka mau menolong. Mereka mungkin mempunyai persoalan sendiri, merasa tidak sanggup terlibat, atau memilih untuk tidak ikut campur.
Dan sekalipun mereka mau menolong, belum tentu mereka mampu menolong. Ada penderitaan yang tidak dapat diselesaikan dengan nasihat, uang, obat, atau bantuan manusia. Bahkan orang yang paling kita kasihi pun mempunyai batas kemampuan dan prioritas hidup sendiri.
Karena itu, ada saatnya kita hanya dapat berkata, “Saya tidak tahu kepada siapa lagi saya harus bercerita.”
Tetapi sesungguhnya ada satu Pribadi yang tidak pernah memiliki keterbatasan seperti itu.
Tuhan mengetahui penderitaan kita dengan sempurna.
Kita tidak perlu menjelaskan kepada-Nya apa yang terjadi. Bahkan sebelum kita mengucapkan satu kata, Dia sudah mengetahui isi hati kita.
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”
— Roma 8:26
Tidak ada air mata yang tersembunyi dari-Nya. Tidak ada pergumulan yang terlalu pribadi bagi-Nya. Dan Tuhan bukan hanya mengetahui. Dia peduli.
Allah bukan Tuhan yang senang melihat umat-Nya menderita. Kita melihat belas kasihan-Nya dengan jelas dalam diri Yesus. Ketika Yesus melihat Maria dan orang-orang di sekitarnya menangisi kematian Lazarus, Yesus pun menangis. Penderitaan manusia bukan sesuatu yang dipandang-Nya dengan sikap dingin dan tidak peduli.
Namun Tuhan juga berbeda dari manusia karena Dia mahakuasa. Tidak ada keadaan yang berada di luar pengetahuan dan kedaulatan-Nya. Kita mungkin tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan tertentu terjadi, tetapi kita dapat yakin bahwa penderitaan itu tidak pernah terjadi tanpa sepengetahuan-Nya.
Dan karena Dia mahakasih, kita dapat percaya bahwa kedaulatan-Nya bukanlah kedaulatan yang kejam. Dia tidak menikmati kesusahan kita. Bahkan ketika Dia mengizinkan penderitaan untuk maksud yang tidak kita mengerti, Dia tetap hadir dan tidak meninggalkan kita.
Di sinilah kita memahami perbedaan antara kebahagiaan dan sukacita.
Kebahagiaan biasanya berkaitan dengan keadaan. Kita bahagia ketika kesehatan baik, keluarga harmonis, rencana berhasil, atau sesuatu yang menyenangkan terjadi. Semua itu adalah berkat Tuhan. Tetapi kebahagiaan dapat berubah ketika keadaan berubah.
Sukacita Kristen mempunyai dasar yang lebih dalam. Sukacita tidak terutama bergantung pada apa yang terjadi dalam hidup kita, tetapi pada siapa yang menjadi dasar hidup kita.
Karena itu, kita dapat bersedih tetapi tetap memiliki sukacita. Kita dapat menangis tetapi tetap berharap. Kita dapat mengalami penderitaan tetapi tetap percaya.
Sukacita itu berkata:
“Aku tidak mengerti semuanya, tetapi Tuhan tahu. Aku tidak mampu mengatasi semuanya, tetapi Tuhan berkuasa. Aku mungkin tidak menemukan manusia yang mampu memahami atau menolongku, tetapi Tuhan memahami dan Dia tidak meninggalkanku.”
Inilah sebabnya Yeremia berkata, “Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.”
Perhatikan: kita diminta menaruh kepercayaan dan harapan kepada Tuhan, bukan kepada keadaan dan bukan kepada manusia.
Tentu saja kita tetap membutuhkan manusia. Tuhan sering memakai keluarga, sahabat, gereja, dokter, dan orang-orang lain sebagai alat pertolongan-Nya. Kita juga dipanggil untuk menjadi orang yang berempati dan menolong mereka yang menderita.
Tetapi manusia tidak pernah dapat menjadi tempat terakhir bagi kepercayaan kita.
Pada akhirnya, ada satu Pribadi yang tidak hanya mengetahui penderitaan kita, tetapi juga memahami, peduli, mengasihi, dan berkuasa untuk menolong menurut kehendak-Nya.
Tuhan tahu. Tuhan peduli. Tuhan berkuasa. Tuhan mengasihi.
Karena itu, sekalipun hidup kita tidak selalu membuat kita bahagia, kita tetap dapat memiliki sukacita di dalam Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan, ketika kami mengalami penderitaan yang tidak dapat kami jelaskan kepada manusia, ajarlah kami datang kepada-Mu. Kami percaya Engkau mengetahui, memahami, dan peduli terhadap setiap pergumulan kami. Tolonglah kami untuk tidak menggantungkan harapan sepenuhnya kepada manusia atau keadaan, tetapi kepada-Mu yang mahakuasa dan mahakasih. Berikanlah kami sukacita yang tetap bertahan di tengah segala keadaan. Amin.