Memikirkan hari depan

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
— Matius 6:34

Setiap orang mempunyai sikap yang berbeda terhadap hari depan. Ada yang tidak mau memikirkannya karena hari ini sudah terasa nyaman. Selama pekerjaan masih ada, kesehatan masih baik, keuangan cukup, dan keluarga baik-baik saja, untuk apa memikirkan kemungkinan yang belum terjadi? Ada pula yang tidak memikirkan masa depan karena merasa tidak seorang pun dapat mengetahui apa yang akan terjadi. Bukankah semuanya penuh ketidakpastian? Yang lain lagi menyerahkan semuanya kepada apa yang mereka sebut “takdir”. Kalau sesuatu memang sudah ditentukan, pikir mereka, apa gunanya merencanakan dan berusaha?

Namun, ketiga sikap tersebut dapat membawa kita kepada suatu ekstrem. Kenyamanan hari ini dapat membuat kita lalai. Ketidakpastian hari esok dapat membuat kita takut. Sedangkan keyakinan tentang takdir yang disalahpahami dapat membuat kita pasrah secara buta. Di sisi lain, ada pula orang yang terlalu percaya pada kemampuannya sendiri. Ia membuat rencana seolah-olah masa depan sepenuhnya berada dalam tangannya. Inilah kesombongan yang juga perlu dihindari.

Yesus memberikan jalan yang berbeda. Ketika berkata, “Janganlah kamu kuatir akan hari besok,” Yesus tidak sedang mengajarkan kita untuk tidak memikirkan masa depan. Ia tidak melarang kita membuat rencana, menabung, menjaga kesehatan, mendidik anak, mempersiapkan masa tua, atau mengantisipasi berbagai kemungkinan. Yang Yesus larang adalah kekuatiran yang membuat kita mencoba memikul hari esok sebelum waktunya.

Ada perbedaan antara mempersiapkan hari esok dan mencemaskan hari esok. Persiapan adalah bentuk tanggung jawab; kecemasan adalah usaha mengambil alih sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Karena itu, kita perlu memikirkan hari depan dengan bijaksana. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu perlu dipersiapkan, janganlah kita menutup mata hanya karena keadaan hari ini nyaman. Kesehatan yang baik saat ini tidak berarti kita tidak perlu memikirkan masa tua. Keuangan yang cukup hari ini tidak menjamin kebutuhan masa depan. Hubungan yang ada tetap perlu dipelihara dan bahkan diperbaiki. Waktu yang Tuhan berikan perlu digunakan dengan bijaksana karena kita tidak tahu berapa lama kita memilikinya.

Tetapi setelah melakukan apa yang dapat kita lakukan, kita harus berhenti di batas tanggung jawab kita. Kita tidak dapat mengetahui semua yang akan terjadi. Kita tidak dapat mengendalikan keputusan orang lain, perubahan ekonomi, penyakit, bencana, atau berbagai keadaan yang mungkin datang tanpa kita duga. Karena itu, persiapan kita harus disertai kerendahan hati.

Di sinilah iman kepada pemeliharaan Allah memberikan ketenangan. Kita bukan penguasa hari esok, tetapi kita mengenal Dia yang memegang hari esok. Kita tidak mengetahui seluruh jalan di depan, tetapi kita dapat mempercayai Tuhan yang mengetahui seluruh jalan itu.

Maka janganlah kesombongan membuat kita berkata, “Saya mampu mengatur masa depan saya.” Janganlah kealpaan membuat kita berkata, “Hari ini nyaman, jadi saya tidak perlu mempersiapkan apa-apa.” Jangan pula kepasrahan buta membuat kita berkata, “Kalau sudah takdir, saya tidak perlu berbuat apa-apa.” Sebaliknya, marilah kita menjalankan tanggung jawab dengan setia, membuat persiapan dengan bijaksana, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Kita tidak dipanggil untuk mengetahui hari esok. Kita dipanggil untuk setia hari ini.

Ketika hari esok tiba, ia mungkin membawa sukacita, mungkin juga membawa kesulitan. Tetapi kita tidak perlu menerima kesusahannya sebelum waktunya. Anugerah Tuhan untuk hari ini cukup untuk hari ini. Dan ketika hari esok datang, Tuhan yang sama tidak akan berhenti menyertai kita.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami memikirkan hari depan dengan bijaksana tanpa dikuasai kekuatiran. Jauhkan kami dari kesombongan, kealpaan, dan kepasrahan buta. Tolong kami melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kami hari ini, sambil mempercayakan hari esok ke dalam pemeliharaan-Mu. Berikan kami hikmat untuk mempersiapkan diri, ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat kami kendalikan, dan iman untuk percaya bahwa anugerah-Mu selalu cukup bagi kami. Amin.

Tinggalkan komentar