“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
— Mazmur 119:105

Semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan menurut rencana kita. Banyak keputusan yang dahulu terasa sederhana kini menjadi lebih kompleks. Kesehatan berubah, kekuatan berkurang, anak-anak mempunyai keluarga dan tanggung jawab sendiri, sementara masa depan terasa semakin pendek. Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya, “Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Apakah Engkau sedang mengarahkan pikiran saya?”
Pertanyaan itu wajar. Namun kita perlu berhati-hati. Tidak setiap pikiran yang muncul dalam diri kita adalah suara Tuhan. Pikiran dapat berasal dari pengalaman, kekhawatiran, keinginan, ketakutan, nasihat orang lain, bahkan kelemahan kita sendiri. Karena itu, kita tidak dipanggil untuk mempercayai setiap pikiran, melainkan untuk mengujinya.
Mazmur 119:105 memberikan prinsip yang sangat penting: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Tuhan tidak menjanjikan bahwa kita akan melihat seluruh perjalanan hidup kita. Ia memberikan pelita yang menerangi langkah kita.
Pelita biasanya tidak membuat kita melihat jauh ke depan. Ia hanya memberikan cukup terang untuk mengetahui ke mana kaki berikutnya harus melangkah. Demikian pula Firman Tuhan. Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana keadaan kesehatan kita beberapa tahun lagi, berapa lama kita masih hidup, bagaimana kehidupan anak-anak dan cucu-cucu kita, atau keputusan apa yang akan kita hadapi di masa depan. Tetapi kita dapat mengetahui bagaimana seharusnya kita hidup hari ini.
Di sinilah pikiran dan kehendak kita mempunyai peranan. Tuhan tidak memanggil kita menjadi robot. Kita tetap harus berpikir, mempertimbangkan, berdoa, mencari nasihat, memperhatikan fakta, dan mengambil keputusan. Kita mempunyai kehendak bebas dan bertanggung jawab atas pilihan kita.
Tetapi kita juga tidak berpikir sendirian. Tuhan dapat menggunakan Firman-Nya, Roh Kudus, pengalaman hidup, nasihat orang yang bijaksana, bahkan keadaan yang kita alami untuk membentuk cara kita berpikir. Roma 12:2 berbicara tentang pembaruan budi, sehingga kita semakin mampu membedakan kehendak Allah.
Ini sangat penting terutama ketika usia bertambah. Kita mungkin dahulu merasa bahwa kita harus mengetahui seluruh rencana hidup sebelum berani mengambil langkah. Tetapi semakin tua, kita justru belajar bahwa kita tidak pernah benar-benar menguasai masa depan. Iman bukan kemampuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi; iman adalah mempercayai Tuhan ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
Karena itu, ketika harus mengambil keputusan, kita tidak selalu membutuhkan suatu tanda khusus dari Tuhan. Kita dapat bertanya: Apakah keputusan ini sesuai dengan Firman? Apakah saya sedang digerakkan oleh kasih atau ketakutan? Apakah saya sedang bertindak karena tanggung jawab atau karena ego? Apakah saya sudah mempertimbangkan fakta dengan jujur? Apakah saya bersedia mendengarkan nasihat? Dan setelah semua itu, dapatkah saya menyerahkan hasilnya kepada Tuhan?
Ada kalanya kita salah mengambil keputusan. Namun bahkan kesalahan kita tidak berada di luar pemeliharaan Tuhan. Kedaulatan Tuhan tidak berarti kita selalu membuat keputusan yang sempurna. Kedaulatan Tuhan berarti bahkan melalui keterbatasan, kelemahan, dan kesalahan kita, Ia tetap mampu membawa kita dalam pemeliharaan-Nya.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan hanya, “Apakah Tuhan memberikan saya pikiran ini?” Melainkan, “Apakah pikiran saya sedang dibentuk oleh Firman Tuhan?”
Sebab Tuhan tidak hanya ingin menunjukkan kepada kita apa yang harus dilakukan. Ia sedang membentuk siapa kita. Ia memperbarui pikiran, memurnikan kehendak, menumbuhkan hikmat, dan mengajar kita semakin mempercayai-Nya.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak mengetahui berapa banyak langkah yang masih tersedia di depan kita. Tetapi kita tidak perlu mengetahui semuanya. Pelita Tuhan cukup untuk langkah hari ini.
Dan ketika hari esok tiba, kita akan kembali membutuhkan terang yang sama.
Doa Penutup
Tuhan, ketika kami tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depan, ajarlah kami untuk tidak dikuasai ketakutan. Terangilah pikiran kami melalui Firman-Mu, luruskan kehendak kami, dan berikan hikmat untuk mengambil keputusan dengan bertanggung jawab. Tolong kami untuk menerima keterbatasan kami dan mempercayakan masa depan kepada-Mu. Biarlah kami tidak menuntut untuk melihat seluruh jalan, tetapi setia berjalan dalam terang yang Engkau berikan hari ini. Dalam nama Yesus. Amin.