Runtuhnya Sebuah Panggung Sandiwara

“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.’”
— 1 Samuel 16:7

Hidup manusia sering kali seperti sebuah panggung sandiwara. Di hadapan orang lain, kita mengenakan pakaian yang pantas, mengatur kata-kata, menampilkan senyum, dan memainkan peran yang sesuai dengan keadaan. Di tempat kerja kita ingin terlihat profesional. Di tengah pergaulan kita ingin terlihat menyenangkan. Di media sosial kita memilih bagian kehidupan yang layak dipertontonkan. Kita tidak selalu melakukan semua itu karena ingin menipu. Sering kali kita hanya ingin diterima, dihargai, dan tidak ditolak.

Namun, panggung itu tidak berhenti di ruang publik. Sandiwara juga dapat terjadi di dalam keluarga. Di hadapan pasangan, kita mungkin menyembunyikan kekecewaan, kepahitan, kesombongan, atau ketakutan karena tidak ingin terlihat lemah. Di hadapan anak-anak kita ingin tampak sebagai orang tua yang selalu benar. Di hadapan orang tua kita mungkin memainkan peran sebagai anak yang baik, sementara hati kita menyimpan luka yang tidak pernah diselesaikan. Bahkan suami dan istri yang sudah hidup bersama puluhan tahun dapat memiliki “panggung depan” masing-masing, sehingga mereka tinggal serumah tetapi tidak lagi sungguh-sungguh membuka hati satu terhadap yang lain.

Sandiwara bahkan dapat masuk ke dalam gereja. Kita mengenakan pakaian yang pantas, tersenyum, menyapa orang lain, menyanyikan pujian, mendengarkan khotbah, bahkan melayani. Semua itu baik. Tetapi seseorang dapat terlihat sangat rohani di hadapan jemaat sambil menyembunyikan pergumulan, iri hati, kepahitan, atau kehausan akan pengakuan manusia. Kita dapat membangun reputasi sebagai “orang beriman” sementara kehidupan batin kita jauh dari Tuhan. Gereja pun dapat menjadi tempat kita mempertahankan citra, bukan tempat kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang setiap hari membutuhkan anugerah.

Erving Goffman menggambarkan kehidupan sosial seperti pertunjukan teater. Ada front stage, tempat kita memainkan peran di hadapan penonton, dan ada back stage, tempat kita dapat menanggalkan kostum dan menjadi lebih apa adanya. Masalahnya, kehidupan dapat menjadi sangat melelahkan ketika kita terlalu lama mempertahankan sebuah citra. Kita bukan lagi sekadar memakai topeng; perlahan-lahan kita mulai percaya bahwa topeng itulah wajah kita yang sebenarnya.

Lebih serius lagi, manusia bukan hanya dapat menipu orang lain, tetapi juga dapat menipu dirinya sendiri. Kita dapat melakukan kebaikan sambil mencari pujian. Kita dapat melayani Tuhan sambil diam-diam mencari pengakuan. Kita dapat terlihat rendah hati sementara hati kita ingin dikagumi. Bahkan kehidupan rohani dapat berubah menjadi sebuah pertunjukan.

Inilah sebabnya perkataan Tuhan kepada Samuel begitu tajam: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Manusia melihat panggung depan. Allah melihat sampai ke balik panggung. Manusia melihat penampilan; Allah melihat motivasi. Manusia melihat keberhasilan; Allah melihat hati yang menghasilkannya.

Namun, persoalannya bukan sekadar bahwa Allah dapat melihat topeng kita. Persoalannya adalah bahwa kita sendiri sering tidak mampu melepaskan topeng itu dengan kekuatan kita sendiri. Hati manusia begitu licik sehingga bahkan ketika kita berusaha menjadi lebih jujur, kita masih dapat membenarkan diri. Kita membutuhkan lebih daripada nasihat untuk “menjadi diri sendiri”. Kita membutuhkan anugerah Allah yang membuka mata kita.

Di sinilah Roh Kudus bekerja. Ia menginsafkan kita tentang dosa dan membawa apa yang tersembunyi ke dalam terang. Penginsafan-Nya mungkin tidak selalu terasa nyaman, tetapi tujuannya bukan untuk menghancurkan kita. Ia menunjukkan kebenaran supaya kita berhenti bersembunyi dan datang kepada Kristus.

Pertobatan karena itu bukan keberhasilan manusia menemukan jalan kembali kepada Allah. Pertobatan adalah karya anugerah Allah yang mengubahkan hati, sehingga kita melihat dosa sebagaimana adanya dan berbalik kepada-Nya. Kita sungguh-sungguh bertobat dan bertanggung jawab atas respons kita, tetapi bahkan kemampuan untuk melihat dan meninggalkan dosa tidak menjadi alasan untuk bermegah.

Di dalam Kristus, kita tidak perlu lagi mempertahankan panggung itu. Allah sudah mengetahui seluruh kehidupan kita, termasuk bagian yang paling kita sembunyikan. Namun, bagi mereka yang ada di dalam Kristus, pengetahuan Allah tidak berakhir pada penghukuman, melainkan bertemu dengan pengampunan dan kasih karunia. Karena itu kita dapat berdoa seperti pemazmur:

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;”
— ‭‭Mazmur‬ ‭139‬:‭23‬‬

Maka runtuhnya panggung sandiwara bukan berarti kita akhirnya menjadi manusia yang sempurna. Sebaliknya, kita menjadi berani mengakui bahwa kita tidak sempurna dan membutuhkan Kristus setiap hari. Di dalam keluarga, kita belajar berbicara dengan jujur tanpa melukai. Di dalam gereja, kita belajar bahwa tidak seorang pun perlu membangun citra kesalehan untuk memperoleh kasih Allah. Kita dapat datang sebagai manusia yang terluka, berdosa, dan lemah, karena keselamatan kita tidak berdiri di atas kesempurnaan pertunjukan kita.

Kita tidak lagi hidup terutama untuk mempertahankan penilaian manusia, tetapi untuk berjalan dalam terang Allah. Panggung itu runtuh bukan karena kita cukup kuat untuk menghancurkannya, melainkan karena anugerah Allah cukup kuat untuk membebaskan kita darinya.

Doa Penutup

Tuhan, bukalah mataku untuk melihat hatiku sebagaimana Engkau melihatnya. Hancurkan kepalsuan yang masih kusembunyikan, baik di hadapan dunia, keluarga, maupun gereja. Berikan kepadaku hati yang rela bertobat dan hidup dalam terang-Mu. Tolong aku untuk tidak hidup demi pujian manusia, tetapi semakin menyerupai Kristus dalam kebenaran, kasih, dan kerendahan hati. Amin.

Tinggalkan komentar