Merasakan Kebesaran Tuhan dalam Kediaman

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”
— Mazmur 46:11

Semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar sepi. Ketika masih muda, keramaian datang melalui pekerjaan, membangun keluarga, mengejar cita-cita, mencari uang, dan berbagai tanggung jawab. Ketika memasuki usia lanjut, keramaian itu tidak selalu berkurang. Bentuknya saja yang berubah. Pikiran dipenuhi oleh soal kesehatan, anak dan cucu, keadaan dunia, berita yang silih berganti, serta pertanyaan tentang masa depan. Bahkan di dalam kamar yang tenang sekalipun, hati dan pikiran dapat tetap ramai.

Karena itu, kesunyian yang sejati bukan sekadar tidak adanya suara. Kesunyian adalah keadaan ketika kita dengan sengaja mengurangi hal-hal yang memperebutkan perhatian kita, agar hati kembali tertuju kepada Tuhan.

Pemazmur berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Kata-kata ini bukan hanya undangan untuk berhenti berbicara, melainkan panggilan untuk berhenti sejenak dari kegelisahan, ketakutan, dan dorongan untuk mengendalikan segala sesuatu. Kita diingatkan kembali bahwa Tuhan tetap Allah, dan kita adalah ciptaan yang hidup di bawah pemeliharaan-Nya.

Kisah Maria dan Marta memberikan gambaran yang sangat indah tentang hal ini. Ketika Yesus datang ke rumah mereka, Marta sibuk melayani. Ia mungkin melakukan sesuatu yang baik: menyediakan makanan, mengatur rumah, dan memastikan kebutuhan tamu terpenuhi. Tetapi Lukas mencatat bahwa Marta “sibuk sekali melayani.” Sementara itu, Maria “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Lukas 10:39–40).

Ketika Marta mengeluh karena Maria tidak membantunya, Yesus tidak mengatakan bahwa melayani itu salah. Ia berkata, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik” (Lukas 10:41–42).

Ada sesuatu yang penting di sini. Marta berada di rumah yang sama, bahkan dekat dengan Yesus, tetapi kesibukannya membuat perhatiannya terpecah. Maria memilih berhenti dan mendengarkan. Inilah sebabnya keramaian tidak selalu berasal dari suara yang masuk melalui telinga. Keramaian dapat muncul dari begitu banyak perkara yang memenuhi pikiran dan hati.

Bayangkan seseorang mahasiswa yang masuk ke dalam perpustakaan. Ia datang bukan karena buku hanya dapat dibaca di sana, tetapi karena suasana yang tenang membantunya memberikan perhatian penuh pada apa yang dibaca. Demikian pula dengan kehidupan rohani. Kita dapat berdoa di mana saja, tetapi kita memerlukan saat-saat khusus ketika hati tidak terus-menerus ditarik oleh berbagai rangsangan dunia.

Setelah melewati masa muda, waktu teduh sering kali memiliki makna yang lebih dalam. Kita mulai menyadari bahwa hidup bukan hanya soal melakukan banyak hal, melainkan juga belajar melihat tangan Tuhan yang telah memimpin sepanjang perjalanan. Dalam keheningan, kita mengingat kembali pertolongan Tuhan di masa lalu, mengakui kelemahan diri, bersyukur atas anugerah-Nya, dan menyerahkan hari-hari yang masih tersisa ke dalam pemeliharaan-Nya.

Kesunyian juga mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak mengetahui semua jawaban. Kita tidak dapat mengendalikan seluruh perjalanan anak-anak dan cucu-cucu kita. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi pada kesehatan atau keadaan dunia. Namun dalam keheningan, kita belajar mengatakan, “Tuhan, Engkau adalah Allah, dan aku mempercayakan hidupku kepada-Mu.”

Ada sebuah paradoks yang indah. Dunia sering mengajarkan bahwa hidup yang berarti adalah hidup yang selalu sibuk dan penuh aktivitas. Namun kisah Maria dan Marta yang masih muda pada waktu itu mengingatkan bahwa bahkan pelayanan kepada Tuhan dapat membuat perhatian kita terpecah apabila kita tidak berhenti untuk duduk di dekat kaki-Nya. Kita bukan hanya dipanggil untuk bekerja bagi Tuhan, tetapi juga untuk menikmati persekutuan dengan Tuhan.

Bagi orang percaya yang tidak lagi muda, kesunyian bukanlah kesepian. Kesunyian dapat menjadi ruang persekutuan dengan Tuhan. Saat tubuh mulai melemah dan langkah tidak lagi secepat dahulu, Tuhan tetap hadir. Ketika banyak hal berubah, Dia tidak berubah. Ketika masa depan tidak jelas, Dia tetap memegang hari esok.

Mungkin inilah salah satu hikmat penting dalam menjalani hidup: belajar menyediakan ruang untuk diam di hadapan Tuhan. Beberapa menit tanpa berita, tanpa telepon, tanpa berbagai kesibukan yang tidak perlu, dapat menjadi saat yang berharga untuk membuka Firman, berdoa, dan duduk secara rohani “di dekat kaki Tuhan.”

Dan ketika umur semakin lanjut, kita akan semakin memahami bahwa tujuan terbesar manusia bukanlah menguasai dunia atau mengetahui segala sesuatu, melainkan mengenal Allah dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.

Diamlah. Berhentilah sejenak. Jangan terus menerus menjadi “seksi sibuk”. Duduklah dekat kaki Tuhan seperti Maria. Pandanglah kepada-Nya dan rasakan kebesaran-Nya dalam kediaman. Dan percayalah, Dia yang memimpin kita sejak masa muda akan tetap setia sampai akhir.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami untuk tidak selalu menjadi seperti Marta yang begitu sibuk sehingga perhatian kami terpecah. Berikan kami hati seperti Maria, yang tahu kapan harus berhenti, duduk di dekat kaki-Mu, dan mendengarkan. Di tengah keramaian dunia dan berbagai kekhawatiran hidup, arahkan kembali hati kami kepada-Mu. Tolong kami merasakan kebesaran, kesetiaan, dan pemeliharaan-Mu, sehingga kami dapat menjalani hari-hari kami dengan damai dan menyelesaikan hidup ini dengan baik di dalam anugerah-Mu. Amin.

Tinggalkan komentar