Rasa terima kasih tidak hanya dirasakan, tetapi harus dinyatakan

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”
— Ibrani 12:28

Ada orang yang sebenarnya berterima kasih, tetapi tidak pernah mengatakannya. Ia menerima perhatian, pertolongan, atau kebaikan seseorang dengan hati yang menghargai, tetapi rasa terima kasih itu berhenti di dalam pikiran. Mungkin ia merasa bahwa orang lain pasti sudah tahu. Mungkin ia tidak terbiasa mengungkapkan perasaan. Akibatnya, orang yang telah berbuat baik kepadanya tidak pernah mengetahui bahwa kebaikannya sungguh dihargai.

Sebaliknya, ada orang yang sangat pandai mengucapkan, “Terima kasih.” Kata-katanya terdengar sopan dan meyakinkan, tetapi sebenarnya hanya formalitas. Bibirnya mengucapkan terima kasih, sementara hati dan pikirannya tidak sungguh-sungguh menghargai apa yang telah diterimanya. Di sini kita melihat bahwa ucapan terima kasih belum tentu menunjukkan hati yang bersyukur.

Yang benar adalah ketika apa yang ada di dalam hati dinyatakan melalui ucapan dan kemudian terlihat dalam tindakan. Syukur yang sejati tidak berhenti pada perasaan dan kata-kata; ia mendorong seseorang untuk hidup sesuai dengan apa yang telah diterimanya.

Bayangkan seseorang yang pernah menolong kita ketika kita berada dalam kesulitan. Kita mungkin terus mengingat pertolongannya dan merasa sangat berterima kasih. Tetapi jika kita tidak pernah mengatakannya, ia mungkin tidak pernah mengetahui betapa berarti pertolongannya bagi kita. Sebaliknya, ketika kita berkata dengan tulus, “Terima kasih. Pertolongan Anda sangat berarti bagi saya,” kita bukan hanya menyampaikan sebuah kalimat. Kita sedang mengakui pribadi di balik kebaikan yang kita terima.

Namun, syukur dapat berjalan lebih jauh daripada ucapan. Ketika seseorang sungguh menyadari kebaikan yang telah diterimanya, kesadaran itu dapat mengubah cara ia memperlakukan orang lain. Orang yang pernah ditolong belajar menjadi penolong. Orang yang pernah diperhatikan belajar memperhatikan. Orang yang pernah menerima pengampunan belajar mengampuni. Orang yang pernah menerima kemurahan hati terdorong untuk bermurah hati.

Dengan demikian, tindakan bukanlah “pembayaran” atas kebaikan yang kita terima. Kita tidak dapat membayar kembali kasih dengan kasih seolah-olah sebuah utang harus dilunasi. Tindakan adalah buah dari hati yang telah disentuh oleh kebaikan. Kita melakukan kebaikan bukan supaya kita dianggap bersyukur, tetapi karena kita telah mengalami kebaikan dan tidak ingin kebaikan itu berhenti pada diri kita.

Hal yang sama berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Ibrani 12:28 mengingatkan bahwa kita telah menerima “kerajaan yang tidak tergoncangkan.” Kita menerima sesuatu yang jauh lebih besar daripada pertolongan manusia yang sementara. Kita menerima anugerah keselamatan dan bagian dalam kerajaan Allah melalui Kristus. Karena itu, respons yang pantas bukanlah sekadar menyimpan rasa syukur dalam hati, melainkan “mengucap syukur dan beribadah kepada Allah.”

Perhatikan hubungan antara keduanya: mengucap syukur dan beribadah. Syukur yang keluar dari mulut seharusnya menemukan bentuknya dalam kehidupan. Ibadah bukan hanya apa yang kita lakukan ketika berada di gereja, menyanyi, berdoa, atau mendengarkan firman. Ibadah juga terlihat dalam cara kita memperlakukan pasangan, anak-anak, sahabat, tetangga, bahkan orang yang tidak dapat memberikan apa-apa kepada kita.

Jika kita sungguh bersyukur atas kasih Allah, kasih itu seharusnya membentuk cara kita mengasihi. Jika kita bersyukur karena telah diampuni, pengampunan seharusnya menjadi lebih nyata dalam hubungan kita dengan orang lain. Jika kita bersyukur karena Allah telah bermurah hati kepada kita, kemurahan hati seharusnya semakin terlihat dalam hidup kita.

Karena itu, kita perlu bertanya: Apakah rasa syukur saya hanya ada dalam hati dan ucapan, atau sudah terlihat dalam cara saya hidup? Sebab tindakan kita sering kali memperlihatkan seberapa dalam kita menghargai apa yang telah kita terima.

Mungkin hari ini ada seseorang yang telah memperhatikan kita, menolong kita, mendoakan kita, atau hadir ketika kita membutuhkan. Jangan selalu menganggap bahwa mereka sudah tahu bahwa kita menghargainya. Jika memang bersyukur, nyatakanlah. Satu kalimat sederhana, “Terima kasih, saya sungguh menghargai perhatian Anda,” dapat menjadi jembatan yang membuat sebuah hubungan menjadi lebih dekat.

Tetapi jangan berhenti di sana. Ketika kesempatan datang, teruskan kebaikan itu kepada orang lain. Dengan demikian, rasa terima kasih kita tidak hanya terdengar oleh telinga, tetapi juga terlihat oleh mata. Kebaikan yang kita terima menjadi kebaikan yang kita teruskan.

Dan ketika kita mengingat segala kebaikan Tuhan, jangan biarkan syukur hanya tinggal dalam pikiran. Ucapkanlah. Nyanyikanlah. Berdoalah. Dan terutama, hiduplah sedemikian rupa sehingga kehidupan kita sendiri menjadi ungkapan terima kasih kepada-Nya.

Syukur yang sejati tidak hanya dirasakan dalam hati. Ia dinyatakan melalui ucapan, dibuktikan melalui tindakan, dan diteruskan menjadi berkat bagi orang lain.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk segala anugerah dan kebaikan-Mu yang sering kami terima tanpa kami sadari. Ajarlah kami memiliki hati yang sungguh bersyukur, bukan hanya pandai mengucapkan terima kasih. Biarlah rasa syukur kami terlihat dalam cara kami hidup: dalam kasih, pengampunan, kemurahan hati, dan kesediaan menolong orang lain. Ajarlah kami tidak hanya menikmati kebaikan yang kami terima, tetapi juga meneruskannya kepada sesama. Kiranya seluruh kehidupan kami menjadi ungkapan syukur dan ibadah yang berkenan kepada-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan komentar