“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
— Mazmur 42:6

Lagu ikonik Simon & Garfunkel tahun 1970 “Bridge over Troubled Water” menawarkan pelajaran mendalam tentang cinta tanpa syarat, empati, dan penderitaan bersama.
Gambaran tentang seseorang yang bersedia menjadi jembatan ketika orang lain sedang menghadapi “air yang deras” terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia. Ada saat-saat ketika seseorang yang kita kasihi sedang mengalami kesedihan, kebingungan, atau kegelisahan. Pada saat seperti itu, mungkin kita tidak mampu mengubah keadaan, tetapi kita dapat menjadi jembatan yang menolongnya melewati masa yang sulit.
Bukankah ada kalanya kita sendiri seperti berada di tengah air yang deras? Hati terasa sedih, tetapi kita tidak tahu mengapa. Tidak ada masalah besar yang dapat kita tunjuk sebagai penyebabnya. Bahkan kita merasa bersalah karena berpikir, “Mengapa saya harus sedih? Bukankah hidup saya baik-baik saja? Bukankah Tuhan sudah begitu banyak memberkati saya?” Akhirnya kita bukan hanya sedih, tetapi juga sedih karena merasa bahwa kita seharusnya tidak bersedih.
Mazmur 42 menggambarkan pergumulan semacam itu. Pemazmur bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Ia tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia mengakui apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Namun ia tidak berhenti pada kesedihan itu. Ia berkata kepada jiwanya, “Berharaplah kepada Allah!”
Ada kalanya kita tidak mengerti mengapa hati kita begitu berat. Ada kalanya kita juga belum mampu menerima keadaan yang sedang kita jalani. Kita mungkin tahu secara teologis bahwa Allah berdaulat dan bahwa segala sesuatu berada dalam tangan-Nya, tetapi hati kita belum mampu mengikuti apa yang kita percayai. Kita tahu bahwa kita harus bersyukur, tetapi untuk sementara kita hanya mampu berkata, “Tuhan, saya belum mengerti.”
Keadaan menjadi lebih menyakitkan apabila orang yang kita kasihi juga tidak mengerti perasaan kita. Kita berharap mereka memahami, tetapi mereka mungkin berkata, “Jangan susah, semuanya akan baik-baik saja.” Mereka mungkin mengatakannya dengan kasih, tetapi kalimat itu kadang membuat kita merasa semakin sendirian. Kita tidak membutuhkan orang yang segera menghapus kesedihan kita. Kita membutuhkan seseorang yang mau berkata, “Aku mungkin tidak mengerti sepenuhnya, tetapi aku tahu ini berat bagimu. Aku mau menemanimu.”
Di sinilah kita belajar arti menjadi jembatan.
Menjadi jembatan bukan berarti menyelesaikan semua persoalan orang lain. Jembatan tidak menghentikan air yang deras; ia menyediakan jalan untuk melintasinya. Demikian juga, ketika seseorang sedang berada dalam pergumulan, kita tidak selalu dapat mengubah keadaannya. Tetapi kita dapat hadir, mendengarkan, tidak menghakimi, dan memberi ruang baginya untuk menangis.
Roma 12:15 berkata, “Menangislah dengan orang yang menangis.” Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan, “Buatlah orang yang menangis berhenti menangis.” Kadang kasih yang paling nyata bukanlah memberikan nasihat, melainkan duduk diam bersama seseorang yang sedang terluka.
Namun ada satu hal yang bahkan sahabat terbaik tidak dapat lakukan: menjadi tempat pengharapan terakhir. Hanya Allah yang dapat menjadi tempat perlindungan yang sempurna. Manusia mungkin tidak memahami kita, bahkan kita sendiri mungkin tidak memahami diri kita, tetapi Allah memahami seluruh isi hati kita.
Karena itu, kita pun perlu belajar menjadi jembatan bagi diri sendiri dan bagi orang lain—jembatan yang mengarahkan kepada Allah. Ketika kita berkata, “Saya tidak mengerti, saya belum mampu menerima, tetapi saya tetap berharap kepada Tuhan,” kita sedang melintasi air yang deras bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan iman.
Dan perhatikan kata terakhir pemazmur: “Aku akan bersyukur lagi kepada-Nya.” Hari ini mungkin kita belum mampu bersyukur seperti biasanya. Tidak apa-apa. Pengharapan berarti percaya bahwa akan tiba waktunya kita dapat bersyukur lagi.
Kiranya ketika orang-orang di sekitar kita melewati air yang deras, mereka menemukan bahwa kita bukan orang yang hanya berkata, “Jangan sedih,” melainkan seseorang yang bersedia berjalan bersama mereka sampai mereka kembali menemukan pengharapan kepada Allah.
Doa Penutup
Tuhan, ketika hati kami tertekan dan kami sendiri tidak mengerti mengapa, ajarlah kami untuk tidak menyalahkan diri sendiri, tetapi membawa semuanya kepada-Mu. Ajarlah kami juga menjadi jembatan bagi mereka yang sedang melewati masa sulit—mendengarkan, memahami, dan menemani tanpa menghakimi. Ketika kami belum mampu menerima keadaan, teguhkanlah pengharapan kami kepada-Mu, sampai suatu hari kami dapat bersyukur lagi. Amin.