Seperti padi, kian berisi kian merunduk

“apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”
— ‭‭Mazmur‬ ‭8‬:‭5‬‬

“Wah, sudah berapa tahun kita tidak bertemu?” tanya seorang teman sambil tertawa ketika beberapa sahabat lama berkumpul kembali. Mereka pernah melewati masa muda bersama, tetapi kehidupan kemudian membawa mereka ke jalan masing-masing.

Percakapan pun mengalir. Seorang bercerita tentang pekerjaannya yang berhasil dan kehidupan ekonominya yang semakin baik. Yang lain dengan bangga menceritakan anak-anaknya yang telah menyelesaikan pendidikan dan memperoleh pekerjaan yang baik. Seorang lagi bercerita tentang keluarganya yang tetap rukun setelah puluhan tahun menikah. Ada pula yang menceritakan pelayanan gerejanya yang berkembang dan banyak orang yang telah dilayaninya.

Tidak ada yang salah dengan semua cerita itu. Mereka memang mempunyai alasan untuk bersyukur. Tuhan telah memberikan banyak hal yang baik dalam perjalanan hidup mereka. Tetapi di antara percakapan itu terasa ada perbedaan yang halus. Ada yang berkata, “Saya sungguh bersyukur Tuhan memberkati saya,” tetapi ada pula yang, mungkin tanpa menyadarinya, berkata dengan nada, “Saya berhasil karena saya memang menjalani hidup dengan benar.”

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah keberhasilan, keluarga yang baik, kesehatan, pendidikan, kekayaan, atau pelayanan yang berhasil merupakan bukti bahwa kita lebih layak menerima berkat Tuhan daripada orang lain?

Mazmur 8 membawa kita kepada perspektif yang berbeda. Daud memandang langit, bulan dan bintang-bintang, lalu berkata, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Semakin Daud memandang kebesaran Allah, semakin kecil kesombongan manusia di hadapan-Nya.

Manusia sering mengukur dirinya melalui apa yang dimilikinya. Kita merasa berhasil karena karier kita baik, anak-anak kita berhasil, perkawinan kita bertahan, rumah tangga kita harmonis, atau kehidupan kita relatif aman. Semua itu memang patut disyukuri. Namun, sesuatu yang patut disyukuri tidak otomatis menjadi sesuatu yang boleh kita banggakan sebagai bukti bahwa kita lebih layak di hadapan Tuhan.

Ada perbedaan besar antara syukur dan kebanggaan rohani. Syukur berkata, “Tuhan, betapa baiknya Engkau sehingga aku menerima semua ini.” Kebanggaan berkata, “Lihatlah hidupku; bukankah ini menunjukkan bahwa aku telah melakukan semuanya dengan benar?”

Bahkan konsep “orang pilihan” pun tidak boleh diubah menjadi alasan untuk meninggikan diri. Jika pemilihan Allah adalah anugerah, maka justru anugerah itu menghilangkan dasar untuk menyombongkan diri. Kita tidak menjadi layak karena telah dipilih; kita belajar menjadi rendah hati dan lebih taat karena menyadari bahwa kita sudah menerima sesuatu yang tidak dapat kita klaim sebagai hak.

Keluarga yang baik adalah berkat, tetapi bukan trofi. Anak-anak yang berhasil adalah anugerah, bukan sertifikat bahwa orang tua mereka lebih benar. Kekayaan dan kesehatan dapat diterima dengan ucapan syukur, tetapi tidak boleh menjadi ukuran kasih Allah terhadap kita., apalagi dianggap sebagai tanda bahwa kita adalah orang yang baik. Sebaliknya, seseorang yang sedang mengalami kegagalan, penyakit, kehilangan, atau pergumulan tidak boleh segera dianggap kurang diberkati atau kurang berkenan kepada Tuhan.

Bukankah hidup kita sendiri penuh dengan hal-hal yang berada di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya? Kita tidak memilih di keluarga mana kita dilahirkan. Kita tidak menciptakan bakat yang kita miliki. Kita tidak menentukan semua kesempatan yang datang dalam hidup. Bahkan kemampuan untuk bekerja, berpikir, mengasihi, bertahan, dan mengambil keputusan pun tidak berdiri sendiri. Di balik semua itu ada providensi Allah dan pertolongan banyak orang.

Karena itu, semakin panjang perjalanan hidup kita, seharusnya semakin dalam pula kerendahan hati kita. Kita boleh melihat kembali kehidupan dan berkata, “Tuhan, ternyata begitu banyak yang telah Engkau berikan kepadaku.” Tetapi kalimat itu seharusnya diikuti oleh, “Dan aku tahu, aku tidak menerimanya karena aku lebih pantas daripada orang lain.”

Padi yang semakin berisi semakin merunduk. Bukan karena ia kosong, tetapi justru karena ia penuh. Demikian pula orang yang semakin mengenal Tuhan seharusnya tidak semakin tinggi hati. Semakin banyak pengalaman, pengetahuan, keberhasilan, dan berkat yang diterimanya, semakin ia menyadari betapa besar anugerah yang menopang hidupnya.

Mungkin pada suatu perjumpaan dengan teman-teman lama kelak, kita tidak lagi terutama ingin menceritakan betapa berhasilnya kehidupan kita. Kita dapat menceritakan betapa baiknya Tuhan, sambil berkata dalam hati, “Siapakah aku, Tuhan, sehingga Engkau mengingat dan mengindahkan aku?”

Itulah kerendahan hati yang lahir bukan dari kekurangan, melainkan dari kepenuhan anugerah.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah kami menerima setiap keberhasilan sebagai anugerah, bukan sebagai alasan untuk meninggikan diri. Ketika kami diberkati, buatlah kami semakin bersyukur dan semakin rendah hati. Ingatkan kami bahwa semua yang kami miliki berasal dari-Mu. Biarlah hidup kami seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk, sehingga melalui kehidupan kami, bukan kehebatan kami yang terlihat, melainkan kebaikan dan anugerah-Mu. Amin.

Tinggalkan komentar