“Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”
— 1 Korintus 14:15

Ada orang yang sebenarnya ingin berdoa, tetapi merasa tidak pandai berdoa. Terutama ketika diminta berdoa di depan umum, pikirannya tiba-tiba kosong. Ia mendengar orang lain berdoa dengan lancar dan panjang, sementara dirinya hanya mampu mengucapkan beberapa kalimat sederhana. Lalu ia berpikir, “Mungkin saya memang tidak pandai berdoa.”
Tetapi sejak kapan doa menjadi ukuran kepandaian berbicara?
Seorang anak kecil tidak perlu menyusun kalimat yang indah ketika berbicara kepada ayahnya. Ia cukup berkata, “Ayah, temani aku,” atau, “Ayah, aku takut.” Yang penting bukan keindahan bahasanya, melainkan hubungan di balik kata-kata itu. Demikian pula kita datang kepada Allah bukan sebagai pembicara yang sedang tampil di hadapan pendengar, melainkan sebagai anak yang datang kepada Bapa.
Namun ayat yang kita baca perlu juga dipahami dalam konteksnya. Paulus sedang berbicara kepada jemaat Korintus mengenai ibadah bersama. Ada orang yang menggunakan karunia bahasa roh, tetapi apa yang mereka ucapkan tidak selalu dapat dipahami oleh jemaat. Paulus menekankan bahwa dalam pertemuan jemaat, apa yang dilakukan, baik berdoa ataupun menyanyi, harus dapat dimengerti dan membangun orang lain.
Karena itu ia berkata, “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” Roh dan akal budi tidak dipertentangkan. Keduanya seharusnya hadir dalam penyembahan kepada Allah.
Prinsip inilah yang dapat kita bawa ke dalam kehidupan pribadi. Ketika kata-kata doa terasa sulit keluar, mungkin kita dapat mencoba sesuatu yang sederhana: bersenandung untuk Tuhan.
Bersenandung tidak harus berarti menyanyikan lagu yang sudah diciptakan orang lain. Kita tidak perlu suara merdu, kemampuan musik, atau hafalan lagu. Beberapa kata sederhana dari hati sudah cukup: “Tuhan, Engkau baik kepadaku.” “Pimpinlah aku hari ini.” “Terima kasih untuk kasih-Mu.” Kata-kata itu dapat diulang perlahan dengan nada sederhana.
Mungkin tidak ada orang lain yang mendengarnya. Tidak apa-apa. Kita tidak sedang membuat penampilan. Kita sedang mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan.
Tetapi di sinilah kita perlu memberi batasan. Bersenandung bukan pengganti doa, dan tidak setiap senandung otomatis menjadi doa. Senandung menjadi ungkapan iman ketika hati dan pikiran memang diarahkan kepada Tuhan dan apa yang kita senandungkan sesuai dengan kebenaran yang kita percayai. Kita tidak sedang menggunakan nada atau pengulangan sebagai semacam mantra atau cara untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Kita juga tidak perlu menganggap bahwa semakin lama atau semakin emosional kita bersenandung, semakin dekat kita kepada Allah.
Yang memberi makna bukan melodinya, melainkan arah hati dan kebenaran yang diungkapkannya. Senandung hanyalah sarana; Tuhanlah tujuan.
Karena itu, seseorang dapat bersenandung dengan suara yang sangat sederhana, bahkan tanpa kemampuan musikal, tetapi sungguh-sungguh sedang mengingat Tuhan. Sebaliknya, seseorang dapat menyanyikan lagu rohani dengan suara yang indah, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju kepada Allah. Keindahan musik tidak dengan sendirinya membuatnya menjadi penyembahan.
Kitab Mazmur memperlihatkan betapa dekatnya doa dan nyanyian. Ada mazmur yang penuh sukacita, tetapi ada pula yang penuh air mata. Ada pujian, ucapan syukur, pengakuan dosa, pertanyaan, dan ratapan. Pemazmur tidak menunggu sampai hidupnya sempurna sebelum datang kepada Tuhan. Ia membawa seluruh kehidupannya kepada-Nya. Kita pun dapat belajar demikian.
Ketika berjalan pagi, hati kita dapat bersenandung. Ketika melihat matahari terbit, kita dapat mengucapkan syukur dengan nada sederhana. Ketika mengingat keluarga, kita dapat bersenandung meminta Tuhan memelihara mereka. Ketika menghadapi kekhawatiran, kita dapat mengulang, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu.” Ketika usia semakin bertambah dan semakin banyak hal berada di luar kendali kita, mungkin senandung sederhana, “Tuhan, tetaplah pegang tanganku,” menjadi ungkapan iman yang sangat berarti.
Lama-kelamaan, senandung dapat menjadi kebiasaan rohani. Bukan kebiasaan kosong, melainkan kebiasaan untuk mengarahkan kembali pikiran kepada Tuhan. Kita mungkin tidak selalu mampu berdoa panjang, tetapi kita dapat belajar menjaga hati agar tidak jauh dari-Nya.
Mungkin inilah keindahan doa yang sederhana: kita tidak harus selalu mempunyai banyak kata untuk tetap menghadap kepada Tuhan.
Ada saatnya kita berbicara.
Ada saatnya kita diam.
Ada saatnya kita menangis.
Dan ada saatnya kita hanya bersenandung.
Bukan karena senandung lebih hebat daripada doa, melainkan karena hati manusia kadang menemukan ungkapannya melalui nada. Yang penting adalah kita mengetahui kepada siapa kita bersenandung, memahami apa yang kita ungkapkan, dan sungguh-sungguh mengarahkan hati kepada-Nya.
Jadi, bila suatu hari kita merasa tidak tahu bagaimana berdoa, jangan merasa gagal. Ingatlah kebaikan Tuhan. Biarkan hati menemukan beberapa kata dan sebuah nada sederhana:
“Tuhan, Engkau dekat… Tuhan, Engkau baik… Tuntunlah aku hari ini…”
Mungkin kita tidak sedang menyanyikan lagu yang dikenal siapa pun. Tetapi kita sedang belajar melakukan sesuatu yang sangat berharga: membiasakan hati dan pikiran untuk terus menghadap kepada Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami datang kepada-Mu dengan hati yang sederhana dan jujur. Ketika kami kehabisan kata-kata, biarlah hati kami tetap mengingat-Mu. Ajarlah kami berdoa, memuji, dan bersenandung dengan roh dan akal budi, sehingga dalam perjalanan hidup sehari-hari hati kami senantiasa tertuju kepada-Mu. Amin.