“Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.”
— Mazmur 146:3

Pernahkah kita berkata dalam hati, “Tidak ada seorang pun yang dapat saya percayai sepenuhnya”? Mungkin pengalaman hidup membuat kita sampai pada kesimpulan itu. Orang yang kita anggap sahabat ternyata mengecewakan. Orang yang kita percaya menyimpan rahasia ternyata membocorkannya. Bahkan orang yang paling kita kasihi pun kadang melakukan sesuatu yang tidak pernah kita duga.
Semakin bertambah usia, mungkin kita semakin menyadari satu kenyataan sederhana: manusia adalah manusia. Ia dapat setia, tetapi tidak sempurna. Ia dapat mengasihi, tetapi dapat mengecewakan. Ia dapat berjanji dengan tulus, tetapi suatu hari mungkin tidak mampu menepatinya. Karena itu, apakah kita tidak boleh mempercayai siapa pun?
Mazmur 146:3 tidak sedang mengajarkan agar kita hidup dalam kecurigaan. Pemazmur tidak mengatakan bahwa semua manusia jahat dan tidak dapat dipercaya. Yang diperingatkannya adalah jangan menjadikan manusia sebagai sumber keselamatan kita. Bahkan para bangsawan, orang-orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh, tetaplah “anak manusia”. Mereka mempunyai keterbatasan. Mereka tidak memiliki kuasa untuk menjadi dasar pengharapan yang mutlak.
Ada perbedaan antara mempercayai seseorang dan menaruh seluruh kepercayaan kita kepadanya. Kita memang perlu mempercayai pasangan, anak-anak, sahabat, rekan kerja, dan saudara seiman. Tanpa kepercayaan, hubungan manusia akan menjadi dingin dan penuh kecurigaan. Pernikahan, persahabatan, gereja, bahkan kehidupan bermasyarakat tidak mungkin berjalan tanpa adanya kepercayaan.
Namun kepercayaan kepada manusia selalu memiliki batas. Kita dapat berkata, “Saya mempercayaimu,” tanpa harus berkata, “Saya yakin kamu tidak akan pernah mengecewakan saya.” Kita dapat memberikan kesempatan kedua tanpa menutup mata terhadap kenyataan. Kita dapat mengampuni tanpa harus menghapus semua batas yang diperlukan. Bahkan kasih yang dewasa bukanlah kasih yang menganggap seseorang sempurna, melainkan kasih yang mengenal kelemahannya dan tetap memilih berbuat baik dengan bijaksana.
Adanya batas yang sehat bukanlah tanda bahwa kita tidak mengasihi. Batas yang sehat adalah cara mengasihi dengan hikmat.
Misalnya, jika seseorang pernah menyalahgunakan kepercayaan kita, kita dapat mengampuninya tanpa langsung mempercayakan kembali sesuatu yang sangat pribadi kepadanya. Jika seseorang berulang kali meminjam uang tetapi tidak bertanggung jawab mengembalikannya, kita dapat tetap mengasihinya tanpa terus memberikan pinjaman. Jika seseorang sering menggunakan kelemahan kita untuk menyakiti atau memanipulasi kita, kita dapat mengampuni tanpa membiarkan perilaku itu terus berlangsung. Bahkan dalam keluarga, kita dapat berkata dengan lembut, “Saya mengasihi kamu, tetapi saya tidak dapat menyetujui atau ikut serta dalam hal itu.”
Batas yang sehat juga berarti kita tidak merasa harus menceritakan segala sesuatu kepada semua orang. Ada hal-hal pribadi yang memang cukup dipercayakan kepada orang tertentu, pada waktu yang tepat, dan setelah kepercayaan itu terbukti melalui kesetiaan. Tidak semua orang harus mengetahui seluruh isi hati kita agar kita dapat mengasihi mereka.
Demikian pula, mengampuni tidak selalu berarti mengembalikan hubungan kepada keadaan semula. Pengampunan membebaskan hati kita dari kepahitan dan keinginan membalas, tetapi rekonsiliasi dan pemulihan kepercayaan dapat membutuhkan waktu, pertobatan, perubahan perilaku, dan bukti kesetiaan.
Justru karena kita mengetahui keterbatasan manusia, kita tidak perlu hancur ketika seseorang mengecewakan kita. Kekecewaan memang menyakitkan, tetapi jangan sampai kekecewaan kepada manusia berubah menjadi kehilangan kepercayaan kepada Tuhan.
Manusia dapat menjadi saluran berkat, tetapi bukan sumber keselamatan. Pasangan dapat menghibur kita, tetapi tidak dapat menjadi Juruselamat kita. Anak-anak dapat mengasihi kita, tetapi tidak dapat menjamin masa depan kita. Sahabat dapat berdiri di samping kita, tetapi tidak dapat menyertai kita dalam setiap keadaan. Bahkan gereja dan para pemimpinnya dapat menolong kita bertumbuh, tetapi mereka pun tetap manusia yang membutuhkan kasih karunia.
Hanya Tuhan yang tidak berubah. Hanya Dia yang mengetahui kita sepenuhnya dan tetap mengasihi kita. Hanya Dia yang dapat menjadi dasar pengharapan yang tidak tergantung pada kesetiaan manusia.
Karena itu, janganlah menjadi orang yang tidak percaya kepada siapa pun. Tetapi jangan pula menjadikan siapa pun sebagai tempat bersandar yang mutlak. Percayalah kepada manusia dengan bijaksana; kasihilah mereka dengan tulus; berilah mereka kesempatan untuk dipercaya. Namun gantungkan pengharapan terakhir hanya kepada Tuhan.
Mungkin kedewasaan iman bukan berarti kita akhirnya menemukan manusia yang dapat kita percayai seratus persen. Kedewasaan iman justru terjadi ketika kita menyadari bahwa kita tidak membutuhkan manusia yang sempurna untuk dapat mengasihi dan mempercayai mereka. Kita sendiri pun tidak sempurna.
Dan ketika manusia mengecewakan kita, kita masih mempunyai tempat untuk kembali: Tuhan yang tidak pernah berubah.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami mempercayai sesama dengan hati yang terbuka tetapi juga dengan hikmat. Jangan biarkan kekecewaan membuat kami menjadi sinis, dan jangan pula membuat kami naif terhadap kelemahan manusia. Ajarlah kami memahami bahwa mengampuni bukan berarti membiarkan diri terus disakiti, dan bahwa menetapkan batas yang sehat bukan berarti kami berhenti mengasihi.
Tolong kami mengasihi, mengampuni, dan memberi kepercayaan dengan bijaksana. Berikan kami keberanian untuk berkata “ya” ketika kami perlu menolong dan keberanian untuk berkata “tidak” ketika sebuah batas diperlukan. Jauhkan kami dari kepahitan, tetapi juga dari sikap yang naif.
Di atas semuanya, ajarlah kami menaruh pengharapan mutlak hanya kepada-Mu, karena Engkaulah satu-satunya dasar yang tidak pernah berubah. Ketika manusia mengecewakan kami, ingatkanlah kami bahwa Engkau tetap setia. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.