“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”
— Roma 15:13

Quo vadis? Dalam bahasa Latin, ungkapan ini berarti, “Ke mana engkau pergi?” atau “Ke mana arahmu?” Pertanyaan sederhana ini ternyata dapat menjadi pertanyaan yang sangat dalam bagi kehidupan kita: Ke mana sebenarnya kita sedang menuju?
Ada sebuah tradisi kuno dalam kekristenan yang kemudian terkenal melalui kisah Quo Vadis. Diceritakan bahwa ketika Rasul Petrus hendak meninggalkan Roma untuk menghindari penganiayaan, ia berjumpa dengan Tuhan Yesus yang sedang berjalan menuju kota itu. Petrus bertanya, “Quo vadis, Domine?”—“Ke mana Engkau pergi, Tuhan?” Menurut kisah tersebut, Yesus menjawab bahwa Ia pergi ke Roma untuk disalibkan kembali. Petrus kemudian memahami bahwa ia tidak seharusnya melarikan diri. Ia kembali ke Roma dan akhirnya mati sebagai martir. Tradisi itu bahkan mengatakan bahwa Petrus disalibkan dengan kepala di bawah.
Kita tidak menemukan kisah ini dalam Alkitab; ia berasal dari tradisi gereja mula-mula. Namun, terlepas dari apakah seluruh detailnya historis atau tidak, pertanyaan Quo vadis? tetap sangat relevan bagi kita. Sebab manusia bukan hanya perlu bertanya, “Apa yang akan terjadi?” tetapi juga, “Ke mana saya akan pergi dan apa yang akan saya lakukan?”
Dunia kita pun tidak jauh berbeda dalam satu hal penting dengan dunia Petrus: sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, kehidupan selalu dipenuhi ketidakpastian, penderitaan, konflik, ketakutan, dan kekecewaan. Kita melihat peperangan, ketidakadilan, perpecahan, dan berbagai masalah yang kadang membuat kita bertanya, “Masih adakah sesuatu yang baik yang dapat kita harapkan?”
Selama seseorang masih hidup, biasanya masih ada harapan. Kita berharap kesehatan, keluarga yang baik, masa depan anak-anak dan cucu, keadaan bangsa yang lebih baik, atau dunia yang lebih damai. Tetapi ada kalanya persoalan hidup menjadi begitu berat sehingga kita bahkan tidak tahu lagi apa yang patut diharapkan. Kita kemudian menjadi pasrah, acuh tak acuh, atau sekadar menjalani hari demi hari tanpa mengetahui ke mana arah kehidupan kita.
Di sinilah iman Kristen memberikan sesuatu yang berbeda. Harapan Kristen bukan sekadar keyakinan bahwa sesuatu yang kita inginkan pasti akan terjadi. Kita tidak mengetahui seluruh rencana Allah, dan kita tidak berhak menentukan bahwa Allah harus memenuhi keinginan kita. Harapan Kristen berakar pada siapa Allah itu. Ia adalah Allah yang mahakuasa, penuh kasih, dan mengetahui apa yang terbaik bagi umat-Nya.
Karena itu, ketika keadaan dunia tampak gelap, kita tetap dapat mengharapkan yang baik. Ketika melihat orang lain menderita, kita dapat mendoakan kebaikan bagi mereka. Ketika menyadari kelemahan diri sendiri, kita dapat berharap akan perubahan melalui pekerjaan Roh Kudus. Ketika masa depan keluarga, bangsa, atau dunia tampak tidak menentu, kita tetap dapat melakukan apa yang benar sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Namun, pertanyaan Quo vadis? mengajak kita melangkah lebih jauh. Bukan hanya, “Apa yang saya harapkan?” melainkan, “Ke mana saya mengarahkan hidup saya?” Kita mungkin berharap keadaan menjadi lebih baik, tetapi tujuan hidup kita tidak boleh bergantung sepenuhnya pada keadaan dunia. Kita mungkin berharap pemimpin-pemimpin manusia memberikan masa depan yang lebih baik, tetapi keselamatan dan pengharapan kita tidak boleh diletakkan pada manusia. Kita mungkin berharap persoalan pribadi kita segera selesai, tetapi iman kita tidak boleh runtuh apabila penyelesaiannya ternyata tidak seperti yang kita bayangkan.
Paulus menyebut Allah sebagai “sumber pengharapan.” Inilah pusat pengharapan Kristen. Sukacita dan damai sejahtera tidak terutama muncul karena keadaan di sekitar kita sudah baik, melainkan karena kita percaya kepada Allah di tengah keadaan yang belum baik. Dan Paulus berdoa agar melalui kekuatan Roh Kudus kita “berlimpah-limpah dalam pengharapan.”
Jadi, teman, ketika kita bertanya, Quo vadis? jangan hanya melihat jalan di depan kita. Pandanglah kepada Tuhan yang memimpin perjalanan itu. Kita mungkin tidak mengetahui ke mana semua peristiwa kehidupan akan membawa kita. Kita juga tidak tahu apa yang Tuhan tetapkan untuk hari esok. Tetapi kita tahu kepada siapa kita menyerahkan hari esok itu.
Pada akhirnya, tujuan terbesar kita bukanlah sekadar kehidupan yang lebih nyaman, lebih aman, atau lebih berhasil. Tujuan kita adalah hidup bersama Tuhan dan memuliakan-Nya. Jika jalan kita penuh sukacita, kita memuliakan-Nya. Jika jalan itu penuh air mata, kita tetap berjalan bersama-Nya. Dan jika suatu hari perjalanan duniawi kita berakhir, pengharapan kita tidak berakhir, sebab Kristus telah menebus kita dengan harga yang mahal dan menyediakan kehidupan kekal bagi umat-Nya.
Maka, Quo vadis, teman? Ke mana kita pergi? Kita mungkin belum mengetahui seluruh jalannya. Tetapi kita tahu kepada siapa kita harus berjalan. Kiranya hidup kita terus diarahkan kepada Kristus, sumber pengharapan kita.
Doa Penutup
Tuhan, Engkaulah sumber pengharapan kami. Ketika dunia terasa tidak menentu dan kami tidak mengetahui apa yang akan terjadi, tolonglah kami untuk tidak kehilangan arah. Ajarlah kami mengharapkan yang baik tanpa memaksakan kehendak kami kepada-Mu. Pimpinlah langkah kami melalui Roh Kudus agar hidup kami semakin dekat kepada Kristus dan semakin memuliakan nama-Mu. Berikanlah sukacita dan damai sejahtera dalam iman, sehingga dalam keadaan apa pun kami tetap berlimpah dalam pengharapan. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.