“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”
— Yakobus 5:16

“Pray. It causes miracles.” Berdoalah. Itu menyebabkan mukjizat.
Kalimat ini terdengar indah dan membangkitkan semangat. Namun, ada yang perlu kita luruskan. Doa memang berkuasa, tetapi bukan karena doa memiliki kekuatan magis untuk menghasilkan mukjizat. Kuasa doa terletak pada Allah yang mendengar dan berkenan bekerja melalui doa umat-Nya.
Yakobus memberikan contoh yang kuat. Setelah mengatakan bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya, ia mengingatkan pembacanya kepada Elia: “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita.” Elia bukan manusia super-rohani yang memiliki kuasa khusus. Ia manusia biasa, dengan kelemahan dan pergumulannya sendiri. Namun ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, dan Allah bertindak.
Elia berdoa supaya hujan tidak turun, dan hujan tidak turun selama tiga tahun enam bulan. Kemudian ia berdoa lagi dan hujan turun. Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang seorang nabi yang doanya mampu menghasilkan mukjizat. Ini adalah kisah tentang Allah yang bekerja melalui doa seorang manusia biasa. Karena itu, yang perlu kita kagumi bukanlah “kekuatan” Elia atau doa itu sendiri, melainkan Allah yang mendengar doanya.
Kita tidak perlu takut mengakui bahwa Allah masih dapat dan mau melakukan mukjizat. Kesembuhan yang tidak dapat dijelaskan secara medis, pertolongan yang datang secara luar biasa, atau suatu peristiwa yang melampaui apa yang secara manusiawi mungkin dapat menjadi karya Allah yang ajaib. Alkitab sendiri penuh dengan kesaksian tentang pekerjaan Allah yang melampaui kemampuan manusia.
Namun, kita juga perlu berhati-hati agar kata “mukjizat” tidak digunakan untuk setiap berkat yang kita terima. Tidak semua karya Tuhan harus berupa sesuatu yang luar biasa. Ketika seorang dokter menemukan penyakit dengan tepat, ketika obat bekerja, ketika tubuh perlahan pulih, ketika seorang sahabat datang tepat pada waktunya, atau ketika seseorang memperoleh pekerjaan melalui usaha dan kesempatan yang terbuka, kita juga dapat melihat tangan pemeliharaan Tuhan di sana.
Yang dapat dijelaskan secara manusiawi tidak berarti tidak dikerjakan oleh Tuhan. Allah yang melakukan mukjizat juga menopang kehidupan melalui hukum-hukum alam, pekerjaan manusia, hikmat, pengobatan, keluarga, dan berbagai sarana yang setiap hari kita anggap biasa.
Karena itu, janganlah kita hanya mencari Tuhan dalam perkara yang spektakuler. Mukjizat adalah salah satu cara Allah menyatakan kuasa-Nya; pemeliharaan-Nya melalui hal-hal biasa juga merupakan karya kasih-Nya.
Kita boleh memohon kesembuhan, pertolongan, jalan keluar, bahkan mukjizat. Kita boleh datang dengan iman dan pengharapan. Tetapi doa bukan alat untuk memaksa Tuhan memenuhi keinginan kita. Kita berdoa karena kita percaya kepada-Nya dan menyerahkan permohonan kita ke dalam tangan-Nya.
Paulus sendiri berdoa agar “duri dalam daging”-nya disingkirkan. Namun Tuhan tidak mengambilnya. Jawaban-Nya justru, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Allah menjawab doa Paulus bukan dengan mengubah keadaannya, melainkan dengan memberikan kasih karunia yang cukup untuk menjalaninya.
Di sinilah kita menemukan sesuatu yang lebih dalam. Yang paling ajaib dalam kehidupan orang percaya bukan selalu perubahan keadaan, melainkan kasih Tuhan yang tetap hadir dalam setiap keadaan. Ketika kita sembuh, Tuhan tetap baik. Ketika kita belum sembuh, Tuhan tetap baik. Ketika doa kita dijawab seperti yang kita harapkan, Tuhan tetap baik. Ketika jawaban-Nya berbeda, Tuhan tetap baik.
Maka, berdoalah. Berdoalah dengan iman, karena Tuhan mendengar. Berdoalah dengan pengharapan, karena Tuhan berkuasa. Jika Ia memberikan mukjizat, bersyukurlah. Jika Ia bekerja melalui cara-cara yang biasa, bersyukurlah. Dan jika keadaan belum berubah, tetaplah percaya.
Sebab kuasa doa bukan terletak pada kemampuan kita menghasilkan mukjizat, melainkan pada Allah yang mendengar doa kita. Tuhan mendengar. Tuhan hadir. Tuhan bekerja. Dan kasih karunia-Nya cukup bagi kita.
Doa Penutup
Tuhan, kami percaya Engkau mendengar doa kami dan berkuasa melakukan mukjizat. Ajarlah kami menerima setiap jawaban-Mu dengan iman dan kerendahan hati. Jika Engkau menyatakan kuasa-Mu melalui mukjizat, biarlah kami memuliakan-Mu; jika Engkau bekerja melalui cara-cara yang biasa, ajarlah kami mengenali tangan-Mu. Dan ketika keadaan tidak berubah seperti yang kami harapkan, teguhkanlah kami untuk tetap percaya bahwa kasih karunia-Mu cukup bagi kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.