“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan. Berkatalah aku dalam hati: ‘Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.’”
— Pengkhotbah 3:16–17

Kita hidup dalam dunia yang teratur. Matahari terbit dan terbenam menurut keteraturan yang dapat kita amati. Gravitasi bekerja apakah kita berdoa atau tidak. Tubuh memiliki hukum biologis, dan tindakan manusia sering membawa konsekuensi. Karena itu kita dapat belajar, merencanakan, bekerja, berobat, dan mengambil keputusan berdasarkan pola-pola yang Tuhan tanamkan dalam ciptaan-Nya. Keteraturan itu sendiri merupakan anugerah.
Namun, apakah hidup kemudian berjalan seperti sebuah mesin? Tidak.
Pengkhotbah mengajak kita melihat kenyataan yang lebih pahit. “Di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan.” Tempat yang seharusnya menegakkan keadilan ternyata dapat menjadi tempat ketidakadilan. Orang yang benar dapat menderita, sementara orang yang tidak adil kadang justru tampak berhasil. Prinsip bahwa manusia akan menuai apa yang ditaburnya memang benar, tetapi Alkitab tidak mengajarkannya sebagai rumus mekanis yang selalu menghasilkan akibat secara langsung.
Kalau kehidupan berjalan seperti mesin, orang yang rajin selalu berhasil, orang jujur selalu menang, orang jahat selalu segera dihukum, dan orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh selalu mendapatkan apa yang dimintanya. Tetapi pengalaman hidup dan kesaksian Alkitab sendiri menunjukkan bahwa kenyataannya tidak demikian. Ayub menderita bukan karena ia lebih jahat daripada orang lain. Asaf pernah hampir tergelincir ketika melihat kemakmuran orang fasik. Bahkan Yesus sendiri, satu-satunya manusia yang benar-benar tanpa dosa, mengalami penderitaan dan kematian.
Karena itu kita perlu membedakan antara keteraturan ciptaan dan kendali mekanis atas segala peristiwa. Tuhan memang menetapkan hukum-hukum alam dan prinsip-prinsip moral, tetapi Tuhan tidak menjadi tawanan hukum-hukum yang Ia tetapkan. Ia dapat bekerja melalui proses yang biasa, tetapi Ia juga bebas bertindak dengan cara yang tidak dapat kita prediksi. Mukjizat bukan berarti Tuhan kehilangan kendali atas ciptaan-Nya; justru mukjizat menunjukkan bahwa keteraturan alam bukanlah Allah itu sendiri.
Demikian pula, doa bukanlah cara untuk menghindari tanggung jawab. Kita tetap harus bekerja, berhati-hati, belajar, menjaga kesehatan, mencari pertolongan medis ketika diperlukan, dan menghadapi konsekuensi keputusan kita. Berdoa tidak berarti menolak prinsip-prinsip yang Tuhan berikan. Tetapi doa juga tidak boleh direduksi menjadi sekadar usaha untuk “menyelaraskan diri” dengan sebuah sistem hukum yang impersonal. Kita berdoa kepada Allah yang hidup, yang mendengar, mengasihi, memelihara, dan dapat bertindak menurut kehendak-Nya.
Pengkhotbah tidak memberikan kita sebuah rumus untuk mengendalikan kehidupan. Ia justru mengarahkan kita kepada pengharapan bahwa Allah akan mengadili. Jika hari ini keadilan belum terlihat, bukan berarti keadilan tidak ada. Jika orang benar belum menerima hasil yang diharapkannya, bukan berarti kesetiaannya sia-sia. Ada waktu Tuhan yang tidak selalu sama dengan waktu kita.
Mungkin inilah salah satu pelajaran penting dalam perjalanan hidup: kita tidak dipanggil untuk memahami dan mengendalikan seluruh mekanisme kehidupan. Kita dipanggil untuk setia di tengah kehidupan yang tidak selalu dapat kita jelaskan. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, menggunakan hikmat, berdoa dengan tekun, menerima keterbatasan kita, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Hidup bukan mesin. Dunia memiliki keteraturan, tetapi juga berada dalam kondisi yang belum dipulihkan sepenuhnya. Karena itu kita tidak boleh menjadikan setiap keberhasilan sebagai bukti bahwa seseorang pasti benar, atau setiap penderitaan sebagai bukti bahwa seseorang pasti salah. Pada akhirnya, bukan hukum sebab-akibat yang menjadi hakim terakhir, melainkan Allah sendiri.
Dan ketika kita tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi, kita masih dapat berkata: Tuhan mengetahui waktunya. Tuhan mengetahui jalannya. Dan Tuhan tetap memegang kehidupan kita.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah kami menerima keteraturan yang Engkau berikan, tetapi jangan biarkan kami menganggap hidup sebagai sebuah mesin yang dapat kami pahami dan kendalikan sepenuhnya. Berikan kami hikmat untuk bertanggung jawab, iman untuk berdoa, kesabaran ketika keadilan belum terlihat, dan kepercayaan bahwa pada waktu-Mu Engkau akan menyatakan keadilan-Mu. Amin.