“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
— Ratapan 3:22–23

Ketika membaca ayat ini, kita mungkin bertanya-tanya: mengapa perkataan yang begitu indah tentang kasih setia dan kesetiaan Tuhan justru ditemukan dalam kitab Ratapan? Bukankah ratapan merupakan ungkapan kesedihan, kekecewaan, bahkan kebingungan ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan? Bagaimana mungkin seseorang berbicara tentang kasih setia Tuhan ketika ia sedang meratapi kehancuran dan penderitaan?
Kitab Ratapan ditulis dalam konteks kehancuran Yerusalem oleh tentara Babel pada tahun 586 SM. Kota itu hancur, Bait Suci dibakar, dan kehidupan umat Yehuda porak-poranda. Mereka kehilangan rumah, keamanan, dan harapan akan masa depan. Penderitaan mereka bukan sekadar kesedihan yang dapat dihilangkan dengan beberapa kata penghiburan. Mereka sedang menghadapi kenyataan pahit yang tidak dapat diubah begitu saja.
Ratapan juga relevan dengan keadaan bangsa dan dunia saat ini. Ketika kita menyaksikan peperangan yang merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah, pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan, ketidakadilan yang ditelantarkan, serta masyarakat yang terpecah oleh kebencian dan kepentingan politik, kita pun bertanya: mengapa semua ini terjadi? Mengapa orang-orang yang lemah terus menanggung akibat perbuatan orang lain? Bahkan di negara yang relatif aman dan makmur sekalipun, kita tidak dapat menutup mata terhadap kesulitan ekonomi, ketegangan sosial, dan masa depan yang terasa tidak menentu. Keprihatinan semacam ini dapat membawa kita kepada ratapan di hadapan Tuhan, sebab kita merindukan dunia yang lebih mencerminkan keadilan dan kebenaran-Nya.
Namun, meratap bukan berarti kita harus menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan dunia. Kita juga tidak boleh menggunakan kasih setia-Nya untuk menutupi kejahatan atau memberikan penghiburan murahan kepada mereka yang menderita. Pengharapan Kristen bukanlah keyakinan bahwa keadaan dunia pasti segera membaik menurut keinginan kita, melainkan kepercayaan bahwa Allah tetap setia dan pada akhirnya akan menghakimi dengan adil. Sambil menantikan-Nya, kita dipanggil untuk tidak ikut menyebarkan kebencian, tidak berdiam diri terhadap ketidakadilan, dan tetap melakukan apa yang benar dalam lingkup tanggung jawab kita.
Dalam konteks kehancuran Yerusalem itulah kita menemukan Ratapan 3:22–23. Menariknya, pengakuan tentang kasih setia Tuhan ini tidak muncul setelah keadaan pulih, melainkan ketika penderitaan masih berlangsung. Beberapa ayat sebelumnya, penulis mengingat kesengsaraan dan kepahitannya. Ia mengakui bahwa jiwanya terus mengingat penderitaan tersebut dan tertekan karenanya. Alkitab tidak menyembunyikan pergumulan batinnya, seolah-olah orang beriman tidak boleh merasa sedih atau kehilangan pengharapan.
Namun, dalam Ratapan 3:21, penulis berkata, “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap.” Ia tidak menyangkal kehancuran yang dialaminya. Ia juga tidak mengatakan bahwa keadaan mereka sebenarnya baik-baik saja. Ia mengarahkan kembali perhatiannya kepada Allah, yang kasih setia dan rahmat-Nya tidak berkesudahan. Keadaan belum berubah, tetapi ia menemukan dasar untuk tetap berharap.
Di sinilah kita belajar bahwa memuji Tuhan tidak selalu berarti kita sedang mengalami kebahagiaan. Memuji Tuhan juga dapat menjadi pengakuan iman ketika hati masih berduka, doa belum memperoleh jawaban yang kita harapkan, dan jalan keluar belum terlihat. Kita tidak harus berpura-pura kuat untuk mengakui bahwa Allah tetap setia. Kita boleh membawa kesedihan dan pertanyaan kita kepada-Nya tanpa kehilangan hormat kepada-Nya.
Ungkapan bahwa rahmat Tuhan selalu baru setiap pagi pun tidak berarti setiap pagi kita akan menerima keadaan yang lebih baik. Ada penyakit yang tidak kunjung sembuh, kehilangan yang tidak tergantikan, dan persoalan yang berlangsung bertahun-tahun. Kesetiaan Tuhan bukanlah jaminan bahwa semua kesulitan segera berakhir atau bahwa setiap permohonan akan dijawab sesuai keinginan kita. Justru ketika keadaan tidak berubah, kita belajar membedakan antara kesetiaan Allah dan harapan kita sendiri tentang bagaimana seharusnya Ia bertindak.
Bahkan, ada kalanya penderitaan begitu berat sehingga kita tidak lagi sanggup mengungkapkan ratapan di hadapan Tuhan. Kita tidak tahu harus berkata apa, bahkan tidak mampu menyusun doa. Namun, dalam Roma 8:26, Paulus mengingatkan bahwa Roh Kudus menolong kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa. Dalam konteks yang sama, Paulus berbicara tentang keluhan seluruh ciptaan dan keluhan orang percaya yang masih menantikan penebusan yang sempurna. Kita hidup di antara janji Allah dan kenyataan dunia yang belum dipulihkan sepenuhnya.
Pertolongan Roh Kudus bukan berarti penderitaan kita pasti segera berakhir. Namun, ketika kata-kata kita habis dan hati hanya mampu mengeluh, kita tidak sendirian dalam kelemahan itu. Kita tidak harus memaksakan diri mengucapkan pujian ketika hati sedang hancur. Kita boleh datang kepada Tuhan dengan air mata, kebingungan, bahkan tanpa kata-kata, sambil percaya bahwa Roh Kudus menolong kita dan Allah mengetahui kelemahan kita.
Penulis Ratapan tidak mengatakan bahwa penderitaannya telah selesai. Ia memilih berharap karena mengenal Allah yang penuh kasih setia. Pengharapan itu tidak menghapus air matanya, tetapi memberinya alasan untuk tidak menyerah sepenuhnya kepada keputusasaan. Kita pun tidak perlu menunggu sampai seluruh persoalan selesai untuk bersyukur dan memuji Tuhan. Iman tidak selalu membuat kita berhenti meratap; iman menolong kita tetap berharap ketika kita masih meratap. Bahkan ketika kita tidak sanggup meratap sekalipun, kita dapat bersandar pada pertolongan Roh Kudus.
Memuji Tuhan dalam ratapan bukanlah berpura-pura bahwa penderitaan tidak ada. Itu adalah keberanian untuk mengakui penderitaan dengan jujur, sambil tetap mempercayakan diri kepada Allah yang kasih setia-Nya tidak berkesudahan.
Doa Penutup
Tuhan, ketika kami berduka dan tidak memahami jalan-Mu, ajarlah kami tetap berharap kepada-Mu. Ketika kami tidak sanggup berdoa, tolonglah kami melalui Roh Kudus-Mu. Mampukan kami untuk tetap setia dan melakukan apa yang benar di tengah penderitaan dunia. Amin.